Jumat, 05 November 2010

Gara-Gara Lombroso


Tak biasanya sepanjang perjalanan aku tegang, aku terus menggenggam tasku erat-erat dan menjaga jarak dengan orang yang duduk disebelahku, inilah konsekwensi naik angkutan umum, siapapun bisa duduk disebelahku. Yang membuatku tegang kali ini adalah bapak yang duduk disebelahku, dengan garis muka yang kuat, kumis tebal, kaca mata hitam plus jaket kulit hitam dan berwajah sangar. Aku jadi teringat kisah-kisah dongeng sinetron bahwa orang yang perpenampilan seperti itu pastilah berperan sebagai antagonis, penjahat dan criminal…


Aih… mungkin juga ini adalah pengaruh teori kakek Lomboro yang masih melekat kuat dalam pikiranku. Lombroso seorang psikolog yang lahir di Verona itu pernah bilang bahwa seorang penjahat dapat dilihat dari penelitian bagian-bagian badan dengan pengukuran Anthropometris, atau dengan kata lain penjahat itu bisa dilihat dari ciri-ciri fisiknya. Menurutnya penjahat itu adalah orang yang kupingnya lebar, hidungnya pesek, matanya tajam, berahang lebar, berkulit gelap dan lain-lain. Lombroso juga mengatakan bahwa ada manusia-manusia tertentu yang terlahir sebagai penjahat (born to crime).

Pendapatnya ini didasarkan pada penelitian –isengnya- yang telah bertahun-tahun mengukur tengkorak para penjahat yang sudah meninggal disebuah penjara. Alhasil dia menyimpulkan bahwa penjahat-penjahat itu punya ciri fisik yang sama. Pendapat ini tentu mendapat tentangan keras dari kriminolog lain seperti Parsons, Mabel Elliot dan Sutherland, meraka berpendapat bahwa penjahat tidak hanya dapat dilihat dari fisiknya dan kejahatan bukanlah factor genetis melainkan karena kegagalan proses social.


Aku sedikit setuju bahwa ada sebagian orang yang born to crime (ini hanya semata jalan hidup yang sudah ditakdirkan dari Tuhan) tapi saya tidak setuju jika kejahatan hanya dapat diidentifikasi dari ciri-ciri fisik, karena sudah banyak terbukti tak selamanya orang yang berwajah asimetris (versi Lombroso) itu adalah penjahat, dan saat inipun banyak penjahat yang berwajah malaikat. Menurutku tak ada korelasi yang cukup signifikan antara unsure inner dan outer, keduanya adalah dimensi yang berbeda.


Ah… mari kita tinggalkan teori-teori aneh itu, biarlah mereka berteori karena setiap teori pasti menghasilkan suatu thesis dan antithesis. Yang jelas, meski ditentang mati-matian oleh para ilmuwan dan tak masuk akal, toh teori Lombroso ini masih melekat kuat pada imajinasi kita. Dalam film-film atau sinetron, karakter penjahat selalu digambarkan dengan seseorang yang berwajah dingin dan menakutkan, meski tak jarang juga ada penjahat ganteng seperti mas Leonardo Decaprio dalam film catch me if you can.
Seperti itupun diriku saat ini yang sudah terlanjur terekonstruksi pikir oleh teori kakek Lombroso itu –meski sadar bahwa tak selamanya benar- tetap saja masih negative thinking sama bapak yang duduk disebelahku ini, padahal dia sama sekali bukan penjahat, karena saat melihat gelagatku yang aneh dia membuka kaca mata hitamnya lalu dengan seulas senyum dia bertanya kepadaku…”mau turun dimana mbak???” hehehehe…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar