Ada kalanya hanya bisa terdiam meski banyak kata yang ingin diucapkam.
Ada kalanya diam bisa mewakili ribuan kata.
Dan malam ini saya hanya bisa berdiam dan terdiam.
Dan diam inipun sudah lebih dari cukup!
Marshmallow Yellow
Bukanlah apa-apa, hanya sekedar ingin berbagi cerita saja..... Meski tak selalu menarik, blog ini hanya tulisan suka-suka, tempat sejenak membuang penat dan bersembunyi dari jenuh. Seperti toko permen yang menyajikan banyak warna dan rasa....
Sabtu, 07 Januari 2012
Jumat, 06 Januari 2012
Keadilan Level Sandal Jepit
Pada tahun 1993, Ronny Lukito, lelaki asal Bandung mendirikan sebuah perusahaan bernama PT. Eigerindo Multi Produk, atau yang lebih dikenal dengan Eiger, yang bergerak dalam bidang usaha manufaktur dan ritel peralatan petualangan. Eiger terinspirasi oleh nama sebuah gunung di Alpene Bernese Swiss yang tingginya mencapai 3.970 meter diatas permukaan laut. Produk Eiger milik Mr. Ronny Lukito tersebut telah menjadi brand terkemuka –asli Indonesia- dibidang peralatan-peralatan petualangan, hingga saat ini Eiger mempunyai sekitar 100 counter yang tersebar diseluruh Indonesia.
Tentu bukan karena ketenaran merk Eiger itu yang menyebabkan AAL, bocah berusia 15 tahunan harus dimejahijaukan, tetapi tindakan AAL yang secara sengaja mengambil barang atau sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, itulah yang menjadi alasan yuridis mengapa hakim Pengadilan Negeri Palu, Rommel F Tampubolon, memutuskan AAL bersalah atas dakwaan pencurian sandal jepit bermerk Eiger nomor 43 milik seorang Briptu di Palu. Bukan merk atau ukuran yang menjadi masalah, tapi semua unsur yang ada dalam Pasal 362 KUHP tentang pencurian terbukti secara sah meyakinkan telah dilakukan oleh AAL. Demikianlah kira-kira kesimpulan keputusan hakim yang dibacakan dalam sidang hari Rabu yang lalu (4/1/2012).
Kejadian pencurian sandal ini cukup mencuri perhatian masyarakat, bahkan di berbagai tempat dilakukan aksi simpati terhadap nasib AAL dengan mengumpulkan sandal jept sebanyak-banyaknya. Ada tiga alasan mengapa kasus ini sangat menarik, pertama, pencuri adalah anak yang masih dibawah umur, kedua yang dicuri adalah sandal (yang tingkat ‘prestisiusnya’ terabaikan) dan yang ketiga adalah korban pencurian adalah seorang aparat polisi. Disisi lain, tentu ini menjadi tamparan keras bagi korps kepolisian yang saat ini sedang memperbaiki citranya justru dianggap gila hormat dan ‘lebay’ dengan menuntut seorang anak dibawah umur hanya karena mencuri sandal.
Ini bukan kasus pertama kali dan satu-satunya yang meyedot perhatian publik, banyak kasus lain seperti Prita Mulyasari, nenek pencuri singkong, anak pencuri setandan pisang dan sebagainya, yang membuat masyarakat geram karena menganggap tidak seharusnya hukum bertindak sedemikian atas kasus remeh-temeh semacam itu.
Terlepas dari opini yang kini berkembang di masyarakat, kasus-kasus seperti ini selalu menimbulkan pertanyaan, apakah ini memang yang seharusnya dilakukan oleh hukum? jika memang bukan itu apa yang seharusnya dilakukan oleh hukum dalam konteks negara ini sebagai negara hukum?
Positivisme yuridis vs Keadilan
Dalam konsep negara hukum ada tiga komponen yang harus dipenuhi, pertama rule of law, kedua supreme of law, dan ketiga penghormatan HAM. Bagaimanapun bentuk hukum itu dalam negara hukum semua harus terkondisikan untuk mendukung tiga komponen tersebut.
Gustav Radburch menyatakan bahwa tujuan hukum itu ada tiga, pertama keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Ketiganya harus berjalan bersamaan, jika tidak bisa, maka keadilanlah yang harus diutamakan.
Namun demikian, implementasinya tak semudah itu. Nilai keadilan yang abstrak harus dimanifestasikan dalam formalitas hukum yang konkrit. Ini untuk menjamin kepastian hukum dalam supreme of law, hukum harus formal legalistis sebagai manifestasi rule of law dan hukum juga harus merata dan tidak pandang bulu sebagai manifestasi dari equality before the law dalam konsep HAM.
Hal ini sepenuhnya tidak salah, jika kita berpegang pada formalitas yuridis versi John Austin. Bagi Austin, hukum, bukan persoalan adil-tidak adil, dan juga bukan soal relevan atau tidak dengan pergumulan dunia riil. Satu-satunya yang relevan jika berbicara tentang hukum, adalah ia ada dan sah secara yuridis. Tata hukum itu nyata dan berlaku, bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial, bukan pula karena hukum itu bersumber pada jiwa bangsa, bukan pula karena cermin keadilan dan logos, tetapi karena hukum itu mendapat bentuk positifnya dari institusi yang berwenang. Justifikasi hukum ada di segi formal-legalistiknya, baik bagi segi wujud perintah penguasa maupun derivasi dari norma dasar (grundnorm).
Dalam negara hukum yang menganut sistem hukum eropa kontinental kasta tertinggi adalah rule of law dengan hukum positif (tertulis) sebagai panduannya. Dalam hal ini bentuk formal hukum (undang-undang) memegang peran penting. Celakanya, hukum kita selalu terjebak dalam positifisme dan legalitas hukum sehingga hanya memandang hukum dari apa yang bisa kita terima oleh panca indera. Keadilan itu terlihat dan termanifestasi dari teks-teks aturan dan putusan hakim.
Menurut pandangan positifistik, apa yang dilakukan hukum (putusan hakim) terhadap kasus sandal jepit itu telah benar, tidak ada yang terlu dipertentangkan. Secara formal yuridis AAL telah memenuhi rumusan Pasal 362 KUHP tentang pencurian (rule of law) dan tidak betentangan dengan HAM (equality before the law).
Namun tampaknya masyarakat tidak berpikir demikian, apa yang dialami oleh AAL merupakan the abstain of justice (hilangnya nilai keadilan dalam hukum). Keadilan itu tidak hanya dipahami secara teks-teks yuridis tetapi lebih kepada nilai kemanusiaan. Sederhananya, meskipun secara formal yuridis pencurian yang dilakukan AAL adalah salah, tapi tidaklah manusiawi dan tidak adil jika hal itu sampai ‘mampir’ di meja hijau karena obyek yang dicuri hanyalah sebuah sandai jepit.
Bagi Max Weber mungkin masyarakan kita sudah sampai pada tingkat rasionalitas penuh dengan otoritas rasional, dimana hukum dibuat dan dijalankan berdasarkan kewenangan formal oleh negara. Namun secara pemikiran masyarakat mulai melangkah pada progresifitas hukum dimana lebih mengutamakan tujuan dan konteks ketimbang teks-teks aturan semata.
Hukum progresif lebih mengutamakan tujuan dan konteks daripada teks-teks aturan semata, dan disini persoalan diskresi (keleluasaan hakim dalam menafsirkan teks) menjadi sangat urgen. Dalam konteks diskresi, para penyelenggara hukum dituntut untuk memilih dengan bijaksana bagaimana ia harus bertindak. Otoritas yang ada pada mereka berdasarkan aturan-aturan formal, dipakai sebagai dasar untuk menempuh cara yang bijaksana dalam menjalankan tugasnya berdasarkan pendekatan moral daripada ketentuan-ketentuan formal.
Mungkin konsep diskresi ini yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh hakim Pengadilan Negeri Palu dalam kasus AAL vs sandal jepit Briptu. Hakim tidak hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh teks-teks (aturan) formal tetapi menggali nilai moral demi terwujdnya keadilan. Untunglah, pada akhirnya hakim tidak kebablasan dalam memutus perkara, tidak memenjarakan AAL dan mengambil langkah –seharusnya- ‘aman’ dengan mengembalikan AAL kepada orang tuanya setelah diputus bersalah secara hukum.
Keadilan = Sandal Jepit
Sejatinya keadilan itu tidak boleh di hadapkan secara vis a vis dengan positivisme hukum. Keadilan dan kepastian hukum tidak boleh menjadi oposisibiner, apalagi menjadi teralienasi satu sama lain. Keadilan harus menjadi nafas hukum, keadilan menjadi bagian yang integral dan merupakan inti dari hukum, bukan malah menjadi entitas yang berbeda dari hukum. Jika positivisme hukum mereduksi atau menjauhi nilai keadilan, maka hakim harus berani memposisikan diri sebagai jembatan untuk mendekatkan jarak kesenjangan itu.
Keadilan itu mungkin hanya sebatas dan selevel sandal jepit, atau bahkan keadilan itu memang seharusnya selevel dengan sandal jepit yang membumi. Sebuah sandal, apapun mereknya, Eiger, Converse, crocs atau bahkan swallow sekalipun tidak akan merubah kondrat sandal sebagai alas kaki yang letaknya dibawah. Keadilan bagaimanapun bentuk dan rupanya, dia harus menjadi alas dan pijakan (nilai) untuk berjalannya sebuah hukum. Tidak menjadi barang mewah yang unreachable.
Mungkin ada benarnya jika merujuk pada pemikiran Gurvitch bahwa seharusnya keadilan itu menjadi nilai hidup bersama yang utama, hal ini hanya bisa dilakukan jika bisa meleburkan ‘aku’ dan ‘engkau’ menjadi ‘kita’ sehingga keadilan itu bukan hanya milik-ku, milik-mu atau milik-nya tetapi milik kita.
Tentu bukan karena ketenaran merk Eiger itu yang menyebabkan AAL, bocah berusia 15 tahunan harus dimejahijaukan, tetapi tindakan AAL yang secara sengaja mengambil barang atau sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, itulah yang menjadi alasan yuridis mengapa hakim Pengadilan Negeri Palu, Rommel F Tampubolon, memutuskan AAL bersalah atas dakwaan pencurian sandal jepit bermerk Eiger nomor 43 milik seorang Briptu di Palu. Bukan merk atau ukuran yang menjadi masalah, tapi semua unsur yang ada dalam Pasal 362 KUHP tentang pencurian terbukti secara sah meyakinkan telah dilakukan oleh AAL. Demikianlah kira-kira kesimpulan keputusan hakim yang dibacakan dalam sidang hari Rabu yang lalu (4/1/2012).
Kejadian pencurian sandal ini cukup mencuri perhatian masyarakat, bahkan di berbagai tempat dilakukan aksi simpati terhadap nasib AAL dengan mengumpulkan sandal jept sebanyak-banyaknya. Ada tiga alasan mengapa kasus ini sangat menarik, pertama, pencuri adalah anak yang masih dibawah umur, kedua yang dicuri adalah sandal (yang tingkat ‘prestisiusnya’ terabaikan) dan yang ketiga adalah korban pencurian adalah seorang aparat polisi. Disisi lain, tentu ini menjadi tamparan keras bagi korps kepolisian yang saat ini sedang memperbaiki citranya justru dianggap gila hormat dan ‘lebay’ dengan menuntut seorang anak dibawah umur hanya karena mencuri sandal.
Ini bukan kasus pertama kali dan satu-satunya yang meyedot perhatian publik, banyak kasus lain seperti Prita Mulyasari, nenek pencuri singkong, anak pencuri setandan pisang dan sebagainya, yang membuat masyarakat geram karena menganggap tidak seharusnya hukum bertindak sedemikian atas kasus remeh-temeh semacam itu.
Terlepas dari opini yang kini berkembang di masyarakat, kasus-kasus seperti ini selalu menimbulkan pertanyaan, apakah ini memang yang seharusnya dilakukan oleh hukum? jika memang bukan itu apa yang seharusnya dilakukan oleh hukum dalam konteks negara ini sebagai negara hukum?
Positivisme yuridis vs Keadilan
Dalam konsep negara hukum ada tiga komponen yang harus dipenuhi, pertama rule of law, kedua supreme of law, dan ketiga penghormatan HAM. Bagaimanapun bentuk hukum itu dalam negara hukum semua harus terkondisikan untuk mendukung tiga komponen tersebut.
Gustav Radburch menyatakan bahwa tujuan hukum itu ada tiga, pertama keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Ketiganya harus berjalan bersamaan, jika tidak bisa, maka keadilanlah yang harus diutamakan.
Namun demikian, implementasinya tak semudah itu. Nilai keadilan yang abstrak harus dimanifestasikan dalam formalitas hukum yang konkrit. Ini untuk menjamin kepastian hukum dalam supreme of law, hukum harus formal legalistis sebagai manifestasi rule of law dan hukum juga harus merata dan tidak pandang bulu sebagai manifestasi dari equality before the law dalam konsep HAM.
Hal ini sepenuhnya tidak salah, jika kita berpegang pada formalitas yuridis versi John Austin. Bagi Austin, hukum, bukan persoalan adil-tidak adil, dan juga bukan soal relevan atau tidak dengan pergumulan dunia riil. Satu-satunya yang relevan jika berbicara tentang hukum, adalah ia ada dan sah secara yuridis. Tata hukum itu nyata dan berlaku, bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial, bukan pula karena hukum itu bersumber pada jiwa bangsa, bukan pula karena cermin keadilan dan logos, tetapi karena hukum itu mendapat bentuk positifnya dari institusi yang berwenang. Justifikasi hukum ada di segi formal-legalistiknya, baik bagi segi wujud perintah penguasa maupun derivasi dari norma dasar (grundnorm).
Dalam negara hukum yang menganut sistem hukum eropa kontinental kasta tertinggi adalah rule of law dengan hukum positif (tertulis) sebagai panduannya. Dalam hal ini bentuk formal hukum (undang-undang) memegang peran penting. Celakanya, hukum kita selalu terjebak dalam positifisme dan legalitas hukum sehingga hanya memandang hukum dari apa yang bisa kita terima oleh panca indera. Keadilan itu terlihat dan termanifestasi dari teks-teks aturan dan putusan hakim.
Menurut pandangan positifistik, apa yang dilakukan hukum (putusan hakim) terhadap kasus sandal jepit itu telah benar, tidak ada yang terlu dipertentangkan. Secara formal yuridis AAL telah memenuhi rumusan Pasal 362 KUHP tentang pencurian (rule of law) dan tidak betentangan dengan HAM (equality before the law).
Namun tampaknya masyarakat tidak berpikir demikian, apa yang dialami oleh AAL merupakan the abstain of justice (hilangnya nilai keadilan dalam hukum). Keadilan itu tidak hanya dipahami secara teks-teks yuridis tetapi lebih kepada nilai kemanusiaan. Sederhananya, meskipun secara formal yuridis pencurian yang dilakukan AAL adalah salah, tapi tidaklah manusiawi dan tidak adil jika hal itu sampai ‘mampir’ di meja hijau karena obyek yang dicuri hanyalah sebuah sandai jepit.
Bagi Max Weber mungkin masyarakan kita sudah sampai pada tingkat rasionalitas penuh dengan otoritas rasional, dimana hukum dibuat dan dijalankan berdasarkan kewenangan formal oleh negara. Namun secara pemikiran masyarakat mulai melangkah pada progresifitas hukum dimana lebih mengutamakan tujuan dan konteks ketimbang teks-teks aturan semata.
Hukum progresif lebih mengutamakan tujuan dan konteks daripada teks-teks aturan semata, dan disini persoalan diskresi (keleluasaan hakim dalam menafsirkan teks) menjadi sangat urgen. Dalam konteks diskresi, para penyelenggara hukum dituntut untuk memilih dengan bijaksana bagaimana ia harus bertindak. Otoritas yang ada pada mereka berdasarkan aturan-aturan formal, dipakai sebagai dasar untuk menempuh cara yang bijaksana dalam menjalankan tugasnya berdasarkan pendekatan moral daripada ketentuan-ketentuan formal.
Mungkin konsep diskresi ini yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh hakim Pengadilan Negeri Palu dalam kasus AAL vs sandal jepit Briptu. Hakim tidak hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh teks-teks (aturan) formal tetapi menggali nilai moral demi terwujdnya keadilan. Untunglah, pada akhirnya hakim tidak kebablasan dalam memutus perkara, tidak memenjarakan AAL dan mengambil langkah –seharusnya- ‘aman’ dengan mengembalikan AAL kepada orang tuanya setelah diputus bersalah secara hukum.
Keadilan = Sandal Jepit
Sejatinya keadilan itu tidak boleh di hadapkan secara vis a vis dengan positivisme hukum. Keadilan dan kepastian hukum tidak boleh menjadi oposisibiner, apalagi menjadi teralienasi satu sama lain. Keadilan harus menjadi nafas hukum, keadilan menjadi bagian yang integral dan merupakan inti dari hukum, bukan malah menjadi entitas yang berbeda dari hukum. Jika positivisme hukum mereduksi atau menjauhi nilai keadilan, maka hakim harus berani memposisikan diri sebagai jembatan untuk mendekatkan jarak kesenjangan itu.
Keadilan itu mungkin hanya sebatas dan selevel sandal jepit, atau bahkan keadilan itu memang seharusnya selevel dengan sandal jepit yang membumi. Sebuah sandal, apapun mereknya, Eiger, Converse, crocs atau bahkan swallow sekalipun tidak akan merubah kondrat sandal sebagai alas kaki yang letaknya dibawah. Keadilan bagaimanapun bentuk dan rupanya, dia harus menjadi alas dan pijakan (nilai) untuk berjalannya sebuah hukum. Tidak menjadi barang mewah yang unreachable.
Mungkin ada benarnya jika merujuk pada pemikiran Gurvitch bahwa seharusnya keadilan itu menjadi nilai hidup bersama yang utama, hal ini hanya bisa dilakukan jika bisa meleburkan ‘aku’ dan ‘engkau’ menjadi ‘kita’ sehingga keadilan itu bukan hanya milik-ku, milik-mu atau milik-nya tetapi milik kita.
Label:
artikel,
seputar hukum,
Warna Warni
| Reaksi: |
Sabtu, 31 Desember 2011
Yang Tersisa dari 2011

Menurut penanggalan cina tahun 2011 adalah tahun kelinci, sifat dari kelinci adalah dinamis, maka tahun 2011 diperkirakan akan banyak mengalami perubahan dan lompatan-lompatan yang signifikan, begitulah bunyi ramalan yang saya baca disalah satu media saat menjelang tahun baru 2011. Saya bukan orang cina yang terlalu percaya pada ramalan dan sejenisnya, tapi jika melihat perjalanan saya ditahun 2011, sedikit ada benarnya juga apa yang diramalkan “suhu Achai” itu.
Pada akhir tahun 2010 lalu, saya menuliskan sebuah resolusi, dalam sebuah catatan saya tulis: “Tahun ini aku ingin BERHIJRAH, bermutasi, jika perlu berevolusi”, sebuah resolusi sederhana tapi penuh keberanian untuk melakukannya. Yah, tahun 2011 ini adalah tahun “berhijrah” tahun perpindahan dan tahun transisi, seperti kelinci yang melakukan lompatan dan manuver yang tak bisa diduga, 2011 adalah tahun penuh kejutan.
Bulan-bulan di awal tahun adalah bulan-bulan ‘galau’, Januari hingga maret. Puncaknya terjadi pada bulan Februari. Mungkin bagi sebagian orang ‘bulan kedua’ ini adalah bulan penuh cinta, tapi tidak bagi saya, Februari adalah bulan ‘tersesat’, tersesat dalam kegalauan, kegelisahan dan frustasi (maaf tidak akan saya ceritakan mengapa saya frustasi dibulan ini: only God knows why). Dan semua kesesatan itu akhirnya berakhir dibulan Maret.
April adalah bulan dilematis, waktunya untuk memilih. Pada bulan ini tiba-tiba semua jalan menjadi bercabang tidak ada trak lurus, seolah membentuk sebuah persimpangan dengan tikungan-tikungan tajam. Pilih belok kanan atau kiri, berdiam berarti mati dan tak ada jalan mundur. Mencoba coba menerka jalan mana yang sekiranya lebih terang dan pijakan mana yang membuat kelinci ini tidak terjatuh, saatnya kelinci untuk melompat. Dan semua itu baru terjawab pada bulam Mei, bulan kelima dalam setahun.
Kelinci memutuskan untuk bermanuver, dan saya telah menentukan pilihan untuk “berhijrah”. Bulan Mei saya memutuskan untuk beralih profesi, meninggalkan dunia Notaris dan memutuskan untuk kembali ke kampus, dunia akademisi. Entah ini pilihan yang bagus atau tidak, tapi setidaknya saya berani untuk melangkah, one step closer. Tentu tidak mudah untuk mengambil keputusan ini, perlu kemantapan hati. Tentu saya mencintai dunia notaris yang telah saya tekuni tiga tahun belakangan ini, tapi ada hal yang lebih besar yang ingin saya capai.
Bulan Juni saya resmi menjadi bagian dari civitas akademika di kampus tempat saya belajar dulu, kembali menjadi ‘orang kampus’, bergulat dengan rutinitas akademis. Kampus bukan tempat yang baru bagi saya, kurang lebih 7 (tujuh) tahun saya menghabiskan waktu disana, namun kembali dengan status baru ‘bukan mahasiswa’ bukan hal yang mudah, ini dunia yang sama sekali berbeda. Tapi apapun dan bagaimanapun itu pilihan sudah ditentukan, tak ada jalan mundur, meski ini sama sekali tidak mudah seperti kelihatannya, hanya belajar dan bekerja keras yang bisa menjadi pembuktian atas kemampuan dan jawaban atas keraguan.
Agustus hingga oktober adalah bulan uji coba, penyesuaian dengan dunia baru. Saya merasa senang bukan main saat mendapat kesempatan baru, pengalaman baru dan ilmu baru, dan menangis meraung-raung jika menyadari ketidakmampuan diri melawan kebodohan dan kemalasan yang masih merajai otak. Sekali lagi belajar dan terus belajar adalah jawaban (titik)
Diantara semua bulan dalam 2011 barangkali November-lah bulan yang paling manis, banyak kejutan pada bulan ini. Awal bulan tiba-tiba ada beberapa lelaki yang nyatakan cinta (mesti tak satupun diantara mereka yang nyangkut :D), tiba-tiba menghadiri konfrensi ASEAN di Bali dan dikejar bule menakutkan, mendadak bertemu kawan lama, mendadak bisa jalan-jalan gratis dan banyak kejutan lainnya.
Kejutan berlanjut hingga awal Desember, akhir tahun yang lumayan merepotkan, mulai dari menghadiri beberapa seminar, workshop, pelatihan hingga tidak sengaja ditugaskan ke Jakarta menemani mahasiswa di Internasional Moot court competition. Semua serba mendadak dan unpredictable.
Banyak cerita dan banyak hal tersisa dari 2011, dan diantara semua yang tersisa itu hanya kata belajar dan bekerja keras yang tetap menjadi agenda di tahun-tahun selanjutnya. Tak ada resolusi khusus yang saya tuliskan untuk 2012, tahun Naga Air, selain tetap berbaik sangka kepada Tuhan bahwa cinta akan datang pada setiap hati yang masih punya cinta....
Happy New Year 2012
New Hope, New Wish and New Love
Kamis, 15 Desember 2011
Dikejar Bule Hitam
Sebulan yang lalu, saya pergi ke Bali sendirian (sudah saya ceritakan alasan dan kronologisnya dalam note sebelumnya). Ada cerita menarik dari waktu kepulangan saya dari Bali, bertemu bule aneh. Ceritanya kurang lebih demikian:
Saya kembali ke Malang pada hari kamis (17/11) dengan pesawat Wings Air. Pada hari itu, menurut informasi yang saya dapat, lalu lintas ke arah bandara Ngurah rai akan sedikit macet karena lagi hebohnya kedatangan Hillary Clinton dan Barack Obama, akhirnya saya putuskan untuk berangkat satu jam lebih awal, agar tidak terjebak macet.
Pesawat saya dijadwalkan take off pukul 14.00 wita, pukul 12.30 saya sudah nangkring di lounge bawah bandara Ngurah rai. setelah check in saya harus menunggu bagasi karena baru dibuka pukul 13.00 WITa, sambil menunggu saya duduk di lounge bawah sebelah barat, dekat tempat makan dan toko souvenir, saya memilih duduk di ujung bangku yang kosong, berharap tidak ada orang yang menggangu.
Waktu saya menunggu tiba-tiba ada Bule hitam duduk disebelahku. Sekilas saya melihat orang itu tinggi besar berkulit hitam, dengan baju putih panjang (semacam abaya) dan peci warna mencolok (hijau merah kuning), tanpa bertanyapun siapapun tahu pasti dia orang afrika.
Awalnya saya cuek saja, berpikir tidak mungkin kami terlibat pembicaraan karena kendala bahasa. Namun tiba-tiba suara sang pria itu memecah kesunyian.
“excuse me, do you speak english?”
Saya celalingak-celinguk, apakah orang ini berbicara pada saya?
“yes, i do” jawab saya ragu, beberapa hari itu saya agak keminggris, bertemu dengan beberapa bule dan mengobrol dengan mereka selama konfrensi.
Dia mulai memperkenalkan diri, Mr. X bekerja di kedutaan besar Nigeria untuk Indonesia sebagai Ambassador, begitulah yang tertera dari kartu nama yang dia berikan. Dan kami pun “terpaksa” bertukar nomor telpon.
Dia berada di Bali dalam rangka pembukaan KTT ASEAN, dia adalah duta besar Nigeria untuk urusan ASEAN. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta dia tidak bisa mengikuti acara sampai selesai, disamping itu dia juga tidak terlalu suka Bali –ya iyalah secara afrika lebih panas dari Bali- :D
Awalnya obrolan kami sangat menyenangkan, seputar pendidikan, hukum (dia juga lawyer), budaya, sedikit politik hingga banyaknya Nigerian yang jadi pemain bola di Indonesia. Overall dia sangat ramah.
Tapi lama kelamaan saya tidak nyaman dengan obrolan kami, dia mulai bertanya tentang masalah pribadi, dimana rumah saya, orang tua saya, pacar saya an so on.... -menurut saya ini perbincangan sensitif bagi orang yang baru pertama kali ketemu- saya hanya menjawab sekenanya saja, dan mencoba mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang umum. Yang paling membuat saya tidak nyaman adalah tentang keinginanya untuk bertemu lagi dengan saya di Malang, dan membicarakan hal-hal yang lebih pribadi, dia juga terang-terangan bilang menyukai saya. (plis deh, baru kenal juga bicaranya ngawur...)
Karena saya sudah merasa tidak nyaman, saya pilih jurus seribu kaki alias kabur melarikan diri. Singkat kata singkat cerita aku berhasil pergi dengan alasan harus boarding secepatnya, meski sebenarnya masih tersisa 30 menit lagi.
Unfortunatelly pesawat saya dan pesawat dia berangkat di jam yang sama melewati gate yang bersebelahan. Untuk menghindar dari pandangannya saya harus bersembunyi diantara kerumunan orang (lucky me have a little body hehehe...)
Sebelum take off dia sempat menelpon, katanya dia sangat ingin bertemu lagi denganku, dia juga berjanji akan sering-sering menghubungiku dan aku juga bisa menghubunginya kapanpun. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, lalu dengan tegas aku jawab, “ you can call or come if I don’t have any appointment with another guy, and I’m not sure about meeting you again” (terlalu kasar, mungkin :). Sebelum menutup telpon dia memintaku untuk menelponnya sesampainya di Malang, and I just can say “insyaAllah...”
setelah pertemuan itu, dia terus menelpon, mencoba menghubungi tepatnya, karena beberapa kali dia menelpon, tidak saya angkat. Dia juga mengirim beberapa sms, dari beberapa pesannya yang mampir hanya satukali saya balas, itupun hanya dengan “i’m apologize, i can’t answer ur call, i have a tight agenda today”. itu terjadi selama seminggu setelah pertemuan kami, berharap setelah ini tidak ada komunikasi yang terjalin.
Setelah satu bulan berlalu, saya harap sudah tidk ada lagi pesan atau terlpon darinya. Tapi tiba-tiba tadi malam dia menelpon lagi, tepatnya mencoba menelpon karena –tetap- tidak saya angkat. Lalu dia kirim sms: “hi pretty ula, Is a pity u can’t even send me sms, where are u going to be during xmas? Plis tell me if u can come so I can send u a ticket”
Hmmm... enough!
Saya kembali ke Malang pada hari kamis (17/11) dengan pesawat Wings Air. Pada hari itu, menurut informasi yang saya dapat, lalu lintas ke arah bandara Ngurah rai akan sedikit macet karena lagi hebohnya kedatangan Hillary Clinton dan Barack Obama, akhirnya saya putuskan untuk berangkat satu jam lebih awal, agar tidak terjebak macet.
Pesawat saya dijadwalkan take off pukul 14.00 wita, pukul 12.30 saya sudah nangkring di lounge bawah bandara Ngurah rai. setelah check in saya harus menunggu bagasi karena baru dibuka pukul 13.00 WITa, sambil menunggu saya duduk di lounge bawah sebelah barat, dekat tempat makan dan toko souvenir, saya memilih duduk di ujung bangku yang kosong, berharap tidak ada orang yang menggangu.
Waktu saya menunggu tiba-tiba ada Bule hitam duduk disebelahku. Sekilas saya melihat orang itu tinggi besar berkulit hitam, dengan baju putih panjang (semacam abaya) dan peci warna mencolok (hijau merah kuning), tanpa bertanyapun siapapun tahu pasti dia orang afrika.
Awalnya saya cuek saja, berpikir tidak mungkin kami terlibat pembicaraan karena kendala bahasa. Namun tiba-tiba suara sang pria itu memecah kesunyian.
“excuse me, do you speak english?”
Saya celalingak-celinguk, apakah orang ini berbicara pada saya?
“yes, i do” jawab saya ragu, beberapa hari itu saya agak keminggris, bertemu dengan beberapa bule dan mengobrol dengan mereka selama konfrensi.
Dia mulai memperkenalkan diri, Mr. X bekerja di kedutaan besar Nigeria untuk Indonesia sebagai Ambassador, begitulah yang tertera dari kartu nama yang dia berikan. Dan kami pun “terpaksa” bertukar nomor telpon.
Dia berada di Bali dalam rangka pembukaan KTT ASEAN, dia adalah duta besar Nigeria untuk urusan ASEAN. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta dia tidak bisa mengikuti acara sampai selesai, disamping itu dia juga tidak terlalu suka Bali –ya iyalah secara afrika lebih panas dari Bali- :D
Awalnya obrolan kami sangat menyenangkan, seputar pendidikan, hukum (dia juga lawyer), budaya, sedikit politik hingga banyaknya Nigerian yang jadi pemain bola di Indonesia. Overall dia sangat ramah.
Tapi lama kelamaan saya tidak nyaman dengan obrolan kami, dia mulai bertanya tentang masalah pribadi, dimana rumah saya, orang tua saya, pacar saya an so on.... -menurut saya ini perbincangan sensitif bagi orang yang baru pertama kali ketemu- saya hanya menjawab sekenanya saja, dan mencoba mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang umum. Yang paling membuat saya tidak nyaman adalah tentang keinginanya untuk bertemu lagi dengan saya di Malang, dan membicarakan hal-hal yang lebih pribadi, dia juga terang-terangan bilang menyukai saya. (plis deh, baru kenal juga bicaranya ngawur...)
Karena saya sudah merasa tidak nyaman, saya pilih jurus seribu kaki alias kabur melarikan diri. Singkat kata singkat cerita aku berhasil pergi dengan alasan harus boarding secepatnya, meski sebenarnya masih tersisa 30 menit lagi.
Unfortunatelly pesawat saya dan pesawat dia berangkat di jam yang sama melewati gate yang bersebelahan. Untuk menghindar dari pandangannya saya harus bersembunyi diantara kerumunan orang (lucky me have a little body hehehe...)
Sebelum take off dia sempat menelpon, katanya dia sangat ingin bertemu lagi denganku, dia juga berjanji akan sering-sering menghubungiku dan aku juga bisa menghubunginya kapanpun. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, lalu dengan tegas aku jawab, “ you can call or come if I don’t have any appointment with another guy, and I’m not sure about meeting you again” (terlalu kasar, mungkin :). Sebelum menutup telpon dia memintaku untuk menelponnya sesampainya di Malang, and I just can say “insyaAllah...”
setelah pertemuan itu, dia terus menelpon, mencoba menghubungi tepatnya, karena beberapa kali dia menelpon, tidak saya angkat. Dia juga mengirim beberapa sms, dari beberapa pesannya yang mampir hanya satukali saya balas, itupun hanya dengan “i’m apologize, i can’t answer ur call, i have a tight agenda today”. itu terjadi selama seminggu setelah pertemuan kami, berharap setelah ini tidak ada komunikasi yang terjalin.
Setelah satu bulan berlalu, saya harap sudah tidk ada lagi pesan atau terlpon darinya. Tapi tiba-tiba tadi malam dia menelpon lagi, tepatnya mencoba menelpon karena –tetap- tidak saya angkat. Lalu dia kirim sms: “hi pretty ula, Is a pity u can’t even send me sms, where are u going to be during xmas? Plis tell me if u can come so I can send u a ticket”
Hmmm... enough!
Sabtu, 03 Desember 2011
My December
My December
By: Linlin Park
This is my December
This is my time of the year
This is my December
This is all so clear
This is my December
This is my snow covered home
This is my December
This is me alone
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all
The things that I said
To make you
Feel like that
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all the
Things that I said to you
And I give it all away
Just to have somewhere
To go to
Give it all away
To have someone
To come home to
This is my December
These are my snow-covered trees
This is me pretending
This is all I need
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all
The things that I said
To make you feel like that
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all the things
I said to you
And I give it all away
Just to have
Somewhere to go to
Give it all away
To have someone
To come home to
This is my December
This is my time of the year
This is my December
This is all so clear
And I give it all away
Just to have somewhere
To go to
Give it all away
To have someone
To come home to
By: Linlin Park
This is my December
This is my time of the year
This is my December
This is all so clear
This is my December
This is my snow covered home
This is my December
This is me alone
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all
The things that I said
To make you
Feel like that
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all the
Things that I said to you
And I give it all away
Just to have somewhere
To go to
Give it all away
To have someone
To come home to
This is my December
These are my snow-covered trees
This is me pretending
This is all I need
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all
The things that I said
To make you feel like that
And I
Just wish that
I didn't feel
Like there was
Something I missed
And I
Take back all the things
I said to you
And I give it all away
Just to have
Somewhere to go to
Give it all away
To have someone
To come home to
This is my December
This is my time of the year
This is my December
This is all so clear
And I give it all away
Just to have somewhere
To go to
Give it all away
To have someone
To come home to
| Reaksi: |
Selasa, 29 November 2011
Tips Melancong Sendirian
No body wants to be lonely, begitulah kata bang Ricky Martin. Emang sih gak nyaman banget pergi sendirian, apalagi mengunjungi tempat-tempat wisata yang seru. Biasanya orang akan membawa serta kerabat, teman dekat atau pacar untuk liburan, tapi ketika tak ada seorangpun yang bisa menemani bukan berarti kita tidak bisa menikmati liburan sendiri kan? Untuk anda yang suka kesendirian atau terpaksa sendiri, berikut tips dari saya agar anda bisa menikmati liburan anda sendiri.
1. Well prepare
Langkah pertama ini sangat penting dan menentukan kenyamanan anda selama liburan. Siapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum anda menuju tempat tujuan. Pertama, pastikan telah pisan tiket untuk pergi dan pulang kembali. Hindari pembelian tiket on the spot, lebih baik pesanlah jauh-jauh hari sebelumnya agar anda mendapat harga yang lebih murah. Kedua, pastikan anda telah booking hotel. Karena anda akan sendiri, carilah hotel yang dekat dengan pusat wisata agar akses anda lebih mudah. Biasanya tarifnya agak mahal sih tapi akses yang mudah ke tempat keramaian akan sangat membantu.
2. Cari info dari teman
Kumpulkan info dari teman-teman anda yang pernah mengunjungi tempat tersebut. Misalnya tentang tempat hiburan yang seru, hotel yang murah dan tempat makan yang enak. Belajar dari pengalaman orang lain adalah cara bijak agar kita selamat dan meminimalisir kesalahan
3. Jangan mengaku sendirian
Menurut saya agak membahayakan jika kita mengaku sendirian di tempat asing. Sendirian di tempat asing adalah sasaran empuk bagi orang iseng. Apalagi saat anda diterminal ato bandara pasti banyak orang yang nawarin ini itu, antar sana antar sini, jangan terpancing dengan rayuan mereka, akan lebih aman jika anda mengaku sedang menunggu jemputan atau sudah ditunggu di suatu tempat agar anda tidak dikejar-kejar orang iseng.
4. Sok Tahu itu perlu
Jangan pasang tampang bingung, itu pasti mengundang orang-orang iseng untuk mengganggu anda. Hindari ekspresi celingak clinguk sambil garuk-garuk kepala. Pasanglah tampang percaya diri dengan gaya yang meyakinkan seolah-olah ini bukan pertama kalinya mengunjungi tempat itu dan anda sudah hapal alurnya, dengan begitu orang tidak akan mengisengi anda. Jika anda merasa bingung tanyalah pada sumber yang bisa dipercaya, misalnya pusat layanan informasi atau pos keamanan, InsyaAllah mereka akan memberikan informasi secara benar.
5. Bawalah barang secukupnya
Karena anda berlibur sendiri, bawalah barang secukupnya. Akan sangat menyusahkan jika anda bawa barang banyak dan ditenteng sendiri. Menggunakan jasa pengangkut tentu tidak hemat dan tidak efisien.
6. Hindari tempat yang sepi
Nah, saat anda berjalan-jalan sendirian pilihlah tempat-tempat yang ramai dan mudah dijangkau. Jangan memilih tempat-tempat sepi apalagi saat malam hari. Ingat, kejahatan bukan hanya karena ada maksud pelaku, tetapi juga karena ada kesempatan, so. Waspadalah....!
7. Jangan suka memberi alamat ato nomor telpon
Pasti senang kan mendapatkan teman baru, tapi gak banget kan kalo baru kenal sudah berani macam-macam. Nah guys, makanya jangan suka memberi alamat rumah ato nomor telpon kepada orang yang baru kamu kenal. Curiga memang tidak baik, tapi kita harus tetap waspada dalam keadaan apapun. Ingat guys, kamu lagi sendiri, kalo kamu tiba-tiba ngilang dan diculik, bakal ngerepotin pak polisi kan???
8. Banyaklah ngobrol dengan supir taxi
Karena anda sendiri, mungkin anda akan memiliki sedikit teman mengobrol. Jika anda pergi dengan taksi, gunakanlah kesempatan ini untuk mengombrol dengan supir taxi. Dari obrolan itu anda bisa mencari tau tempat tongkrongan yang asik yang mungkin tidak banyak orang tahu. Lumayan kan jika anda mendapatkan info tempat baru yang lebih asik dari pada referensi teman anda??
9. Emergency call
Usahakan anda menyimpan nommor-nomor penting saat anda sendiri, selain nomor ortu anda juga perlu menyimppan nomor-nomor penting lain yang siap dihubungi 24 jam, seperti nomor telpon kepolisian setempat, jika perlu nomor hotel tempat anda menginap. Ini penting jika anda mengalami kesulitan atau kejadian yang tidak diinginkan akan ada bala bantuan yang siap segera menolong anda.
10. Keep smiling
Meski anda jalan2 sendiri, tak ada alasan untun pasang tampang manyun. Tersenyumlah sepanjang jalan, nikmatilah harimu, the time absolutely yours. Like you the only one girl in the world kata mbak Rihanna...
Selamat berlibur..... :)
1. Well prepare
Langkah pertama ini sangat penting dan menentukan kenyamanan anda selama liburan. Siapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum anda menuju tempat tujuan. Pertama, pastikan telah pisan tiket untuk pergi dan pulang kembali. Hindari pembelian tiket on the spot, lebih baik pesanlah jauh-jauh hari sebelumnya agar anda mendapat harga yang lebih murah. Kedua, pastikan anda telah booking hotel. Karena anda akan sendiri, carilah hotel yang dekat dengan pusat wisata agar akses anda lebih mudah. Biasanya tarifnya agak mahal sih tapi akses yang mudah ke tempat keramaian akan sangat membantu.
2. Cari info dari teman
Kumpulkan info dari teman-teman anda yang pernah mengunjungi tempat tersebut. Misalnya tentang tempat hiburan yang seru, hotel yang murah dan tempat makan yang enak. Belajar dari pengalaman orang lain adalah cara bijak agar kita selamat dan meminimalisir kesalahan
3. Jangan mengaku sendirian
Menurut saya agak membahayakan jika kita mengaku sendirian di tempat asing. Sendirian di tempat asing adalah sasaran empuk bagi orang iseng. Apalagi saat anda diterminal ato bandara pasti banyak orang yang nawarin ini itu, antar sana antar sini, jangan terpancing dengan rayuan mereka, akan lebih aman jika anda mengaku sedang menunggu jemputan atau sudah ditunggu di suatu tempat agar anda tidak dikejar-kejar orang iseng.
4. Sok Tahu itu perlu
Jangan pasang tampang bingung, itu pasti mengundang orang-orang iseng untuk mengganggu anda. Hindari ekspresi celingak clinguk sambil garuk-garuk kepala. Pasanglah tampang percaya diri dengan gaya yang meyakinkan seolah-olah ini bukan pertama kalinya mengunjungi tempat itu dan anda sudah hapal alurnya, dengan begitu orang tidak akan mengisengi anda. Jika anda merasa bingung tanyalah pada sumber yang bisa dipercaya, misalnya pusat layanan informasi atau pos keamanan, InsyaAllah mereka akan memberikan informasi secara benar.
5. Bawalah barang secukupnya
Karena anda berlibur sendiri, bawalah barang secukupnya. Akan sangat menyusahkan jika anda bawa barang banyak dan ditenteng sendiri. Menggunakan jasa pengangkut tentu tidak hemat dan tidak efisien.
6. Hindari tempat yang sepi
Nah, saat anda berjalan-jalan sendirian pilihlah tempat-tempat yang ramai dan mudah dijangkau. Jangan memilih tempat-tempat sepi apalagi saat malam hari. Ingat, kejahatan bukan hanya karena ada maksud pelaku, tetapi juga karena ada kesempatan, so. Waspadalah....!
7. Jangan suka memberi alamat ato nomor telpon
Pasti senang kan mendapatkan teman baru, tapi gak banget kan kalo baru kenal sudah berani macam-macam. Nah guys, makanya jangan suka memberi alamat rumah ato nomor telpon kepada orang yang baru kamu kenal. Curiga memang tidak baik, tapi kita harus tetap waspada dalam keadaan apapun. Ingat guys, kamu lagi sendiri, kalo kamu tiba-tiba ngilang dan diculik, bakal ngerepotin pak polisi kan???
8. Banyaklah ngobrol dengan supir taxi
Karena anda sendiri, mungkin anda akan memiliki sedikit teman mengobrol. Jika anda pergi dengan taksi, gunakanlah kesempatan ini untuk mengombrol dengan supir taxi. Dari obrolan itu anda bisa mencari tau tempat tongkrongan yang asik yang mungkin tidak banyak orang tahu. Lumayan kan jika anda mendapatkan info tempat baru yang lebih asik dari pada referensi teman anda??
9. Emergency call
Usahakan anda menyimpan nommor-nomor penting saat anda sendiri, selain nomor ortu anda juga perlu menyimppan nomor-nomor penting lain yang siap dihubungi 24 jam, seperti nomor telpon kepolisian setempat, jika perlu nomor hotel tempat anda menginap. Ini penting jika anda mengalami kesulitan atau kejadian yang tidak diinginkan akan ada bala bantuan yang siap segera menolong anda.
10. Keep smiling
Meski anda jalan2 sendiri, tak ada alasan untun pasang tampang manyun. Tersenyumlah sepanjang jalan, nikmatilah harimu, the time absolutely yours. Like you the only one girl in the world kata mbak Rihanna...
Selamat berlibur..... :)
Senin, 28 November 2011
Lonely Bali
Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi pulau Bali. Itu bukanlah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau dewata, tapi itu adalah perjalanan pertama saya ke Bali sendiri melalui jalur udara.
Kali itu agenda saya bukanlah untuk jalan-jalan melainkan untuk mengikuti konfrensi tingkat ASEAN tentang Hukum Persaingan Usaha (ASEAN Competition Conference) selama dua hari, tanggal 15-16 Nopember bertempat di Padma Resort Legian. Awalnya saya ragu untuk mengikuti acara tersebut, karena pastilah tidak menyenangkan jika pergi ke “surga turis” sendiri tanpa teman. Berpikir ini adalah kesempatan bagus akhirnya saya mengiyakan perintah atasan untuk mengikuti agenda tersebut dan memberanikan diri pergi ke Bali sendiri.
Meski dengan waktu yang sangat mepet, segala persiapanpun berhasil dilakukan. Pesan tiket, booking hotel dan menghubungi beberapa teman yang ada di Bali, berharap semoga saja ada teman jalan-jalan disana. Karena jadwal acaranya agak padat, saya memutuskan untuk berangkat hari senin dari bandara Abdurrahman Saleh Malang (14) dan pulang hari kamis (17), ini untuk menghindari kelelahan dan agar saya punya waktu cukup untuk jalan-jalan. Panitia menyarankan untuk menginap ditempat penyelenggaraan konfrensi, tapi karena Padma Resort adalah Hotel bintang lima di kawasan Legian dengan rate paling murah permalamnya Rp.1.500.000,- saya harus mencari tempat lain yang lebih murah untuk menghemat biaya.
Agak susah mencari hotel pada waktu itu, karena di Bali sedang berlangsung beberapa ASEAN Summit yang merupakan rangkaian dari acara KTT ASEAN yang semua digelar di Bali. Setelah hunting sana sini akhirnya menemukan Hotel Amaris di Jalan Padma Utara untuk menginap. Murah dan lokasi yang tidak jauh dari tempat konfrensi.
Sesampainya di Bali saya berusaha menghubungi berberapa teman, tapi sayang tak satupun yang sedang free. Teman yang saya harapkan bisa menemani selama di Bali sedang berhaji, teman yang satunya lagi sedang sibuk dengan bisnis barunya ada juga yang sedang berlembur. Inilah resikonya jika datang saat weekday banyak rutinitas yang tidak bisa ditinggal.
Karena tak berhasil menghubungi seorang temanpun akhirnya saya memutuskan untuk berpetualang sendiri. Sendirian bukan berarti tidak bisa menikmati bali bukan???
Petualangan diawali dengan jalan-jalan di kawasan Legian malam hari. Legian tampak benar-benar hidup saat malam hari, pada siang hari biasanya para bule sibuk surfing di pantai legian atau kuta. Kawasan legian adalah kawasan favorit para turis manca negara, hampir 80% pengunjung legian adalah turis mancanegara. Jadi dapat dibayangkan, disepanjang jalan legian banyak hotel dan bar dan semua fasilitas standar turis.
Sarana transportasi sangat mudah didapat, taxi dan ojek ready 24 jam. Disana juga banyak tempat penyewaan motor, tapi berhubung saya tidak tahu jalan di Bali dan tidak memiliki SIM, akhirnya saya putuskan untuk berjalan kaki saja, sekalian cuci mata. Gak kebayang bagaimana jadinya jika saya keliling-keliling tidak bisa kembali?? Pasti akan merepotkan petugas kepolisian.
Jalan-jalan di sekitar legian memang sangat menyenangkan banyak restoran dan tempat-tempat souvenir yang menarik untuk dikunjungi (untuk turis lokal saya sarankan tidak membeli oleh-oleh di jalan legian, harganya lebih mahal dibandingkan toko oleh-oleh pada umunya –misalnya Krisna- karena harganya disesuaikan dengan kantong turis asing). Tapi sangatlah tidak nyaman jika disepanjang jalan banyak orang menyapa: Assalamualaikum bu haji, Assalamualaikum neng, mau kemana neng? Mau diantarkah? Mungkin inilah resiko jalan sendiri ditempat ‘aneh’ dan berbusana ‘aneh’. Memang agak aneh melihat penampilan saya, ditengah-tengah orang yang yang berbusana terbuka terdapat seorang muslimah berjilbab. Tapi biarlah, bagaimanapun tatapan mereka dan tidak mungkin hanya karena pandangan itu saya keluar hotel dengan hotpan.
Setiap ditanya orang, kok sendiri mbak? Mana temannya? Saya tidak pernah mengaku sendiri, saya selalu beralasan teman saya sudah pergi atau ditunggu teman disuatu tempat. Menurut saya agak membahayakan jika kita mengaku sendirian di tempat asing. Sendirian di tempat asing adalah sasaran empuk bagi orang iseng. Gak kebayang kan kalo saya diculik??? Hehehehe
Perjalanan malam itu berakhir disebuah restoran ikan bakar di jalan Padma Legian, saya lupa nama restoran itu, kalo tidak salah ingat ada unsur kata dewata-nya. saya sangat berhati-hati memilih makanan selama di bali, karena takut semua makanan tidak halal, jadi saya putuskan untuk memilih restoran yang menyediakan menu ikan (kebanyakan restoran di legian menyediakan menu steak dan sejenisnya). Demikian juga dengan minuman, saya hanya berani minum jus, teh atau kopi, yang lain tidak.
Malam berikutnya -setelah acara konfrensi berakhir- saya memutuskan untuk mengunjungi toko pusat oleh-oleh khas Bali, membeli beberapa barang sebagai buah tangan untuk teman-teman di Malang. Kali itu saya pergi ke Khrisna, pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Bali. Khrisna memiliki beberapa toko cabang, salah satunya di sunset road kuta, tidak terlalu jauh dengan tempat saya menginap, hanya menghabiskan 18.000,- ongkos taksi dari jalan Padma Utara.
Rasanya tidaklah afdol jika berkunjung ke Bali tapi tidak menyentuh pasirnya. Sebelum pulang, pagi harinya saya sempatkan untuk mengunjungi pantai legian. Tidak jauh dari hotel, hanya 10 menit jalan kaki. Agar tidak mengundang perhatian, saya pergi ke pantai pukul 6.00 WITA, pagi adalah waktu terhening legian. Toko-toko masih tutup bahkan baru saja tutup, hanya sebagian kecil bule yang jogging. Pantai legian masih sepi, matahari masih muncul malu-malu. Sebenarnya pantai legian akan sangat indah dinikmati sore hari, saat matahari terbenam. Tapi karena acara konfrensi berakhir saat matahari telah terbenam, saya hanya punya kesempatan menikmati pantai Legian saat pagi.
Memang tidak lazim jalan-jalan sendiri di Bali, apalagi untuk orang seperti saya (mungil dan berjilbab). Andai saya ditugaskan ke Bali lagi sendiri saya akan pikir dua kali, karena Bali adalah tempat yang amat sayang untuk dinikmati sendiri.
Langgan:
Entri (Atom)