Rabu, 18 Agustus 2010

KITA, Menikmati Cinta di Dalam Gelas Dibawah Padang Bulan


Aku selalu menyukai Novel karangan Andrea Hirata, sudah ku baca tetralogi Laskar Pelangi hingga tamat, dan yang terbaru dwilogi Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas, khusus dwilogi ini, aku punya khusus terhadap ceritanya –nanti akan aku ceritakan padamu alasannya-. Masih sama dengan novel-novel sebelumnya, bahasa penyampaian Andrea Hirata selalu unik dan menarik, penuh energi, siapapun yang membacanya pasti menikmatinya, atau mungkin bahkan sambil menangis tertawa....

Novel pertama dalam Dwilogi Padang Bulan (Padang Bulan) bercerita tentang bagaimana Ikal masih mengejar cinta Aling, karena dia sudah menyerahkan cintanya kepada Gadis Tionghoa itu, dia rela meninggalkan rumah, bersitegang dengan sang Ayah demi cinta Aling. Perjalanan mengitari separuh belahan bumi demi Aling, akhirnya harus berhadapan dengan kondisi dimana kadang memang cinta susah dimengerti dan bagaimana rasa cemburu itu sangat menyiksa, sehingga menjerumuskan manusia –seperti Ikal- kepada hal-hal bodoh. Namun memang apapun itu, cinta selalu indah untuk dibuat cerita.

Novel kedua (Cinta di Dalam Gelas), novel ini lebih banyak menggambarkan tentang kebudayaan orang Melayu, Andrea menggambarkannya dengan sempurna lewat seorang Paman dan warung kopinya. Bagi orang melayu kopi adalah sebuah cinta di dalam gelas, sehingga rasa kopi dalam gelas itu dapat menyesuaikan dengan kondisi hati –cinta- sang peminumnya.

Tak kalah menarik juga, dalam Novel kedua ini, terdapat cerita tentang keteguhan hati seorang Perempuan dalam menjalani takdirnya dan tidak pernah takut untuk menentang ketidakmungkinan dengan belajar, sampai akhirnya dia berhasil menaklukan hatinya sendiri dan menegakkan martabatnya di medan pertarungan catur tujuh belas agustusan. Dalam novel kedua ini juga banyak cinta, cinta seumur hidup syalimah kepada zamzami, cinta penuh pengorbanan Maryamah kepada keluarganya, cinta yang tak tersampaikan Maryamah kepada Ilham, cinta terpaksa Maryamah kepada Matarom, cinta tak masuk akal Ikal pada Yamuna atau Diterktif M Nur pada Jose Rizal, dan cinta-cinta Perempuan-perempuan perkasa lainnya, sungguh inspiratif.

Novel ini dapat dibaca siapa saja, tapi akan lebih berkesan jika pembacanya adalah orang yang pernah mengenal cinta, setidaknya pernah merasakan indahnya jatuh cinta, cemburu karena cinta, patah hati karena cinta atau perasaan apapun itulah yang disebabkan oleh hal yang namanya cinta. Karena bahasa cinta hanya bisa dimengerti oleh orang yang punya cinta...

Cerita dalam novel ini sangat seru dari awal hingga akhir, melibatkan banyak tokoh unik dengan karakter yang kuat. Tak perlu dipikirkan ending ceritanya, yang jelas novel ini banyak menyiman pesan moral sekaligus dapat dijadikan pemicu semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar