Minggu, 06 Maret 2011

Tidak Linier

Beberapa waktu yang lalu, di almamater saya dibuka pendaftaran Dosen Tetap Non PNS. Persyaratannya tidak terlalu rumit, berusia serendah-rendahnya 22 tahun dan setinggi-tingginya 32 tahun (untuk strata dua), nilai IPK minimal 3,00, Nilai toefl sekurang-kurangnya 475, dan ijazah yang linier antara S1, S2 dan S3 sesuai dengan kualifikasi yang diminta. Karena rayuan berbagai pihak akhirnya sayapun ikut mendaftar.

Dengan membawa segala berkas yang diperlukan saya mendaftar kebagian pendaftaran di lantai 4 gedung rektorat kampus. Betapa terkejutnya saya ketika ibu pegawai bagian penerimaan pegawai baru tersebut menolak berkas lamaran yang saya ajukan, alasannya karena ijazah yang saya miliki tidak linier antara S1 dengan S2. Dia menganggap bahwa Magister Kenotariatan tidak linier dengan Ilmu hukum, atau dengan kata lain Kenotariatan adalah disiplin ilmu yang berbeda dan bukan merupakan bagian dari Ilmu Hukum, mesikipun sudah tertulis jelas di Ijazah magister saya dikeluarkan oleh Fakultas Hukum. setelah saya menjelaskan dengan panjang lebar tetap saja berkas lamaran saya ditolak dan menyuruh saya meminta rekomendasai dari Pimpinan Fakultas untuk dapat mengikuti proses seleksi.

Barangkali memang ada pihak-pihak yang masih belum familiar dengan istilah Magister Kenotariatan, lain halnya dengan Magister Hukum. Banyak pihak yang masih beranggapan bahwa gelar kelanjutan bagi Sarjana Hukum hanyalah Magister Hukum.

Ilmu hukum merupakan salah satu cabang dari ilmu sosial yang mengkaji tentang pola-pola pengaturan hubungan antar manusia, mulai dari skup yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Salah satu cabang dari ilmu hukum adalah kajian tentang pengaturan antar masing-masing person dalam masyarakat, hal ini disebut dengan istilah hubungan keperdataan/Hukum Privat/Hukum Perdata, dan Kenotraiatan adalah salah satu sisi konkrit dari hukum perdata/privat yaitu mengkaji tentang hubungan manusia dalam sebuah perjanjian/kontrak.

Sejak berlakunya Undang Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN), untuk menjadi seorang Notaris disyaratkan memiliki gelar pendidikan Magister Kenotariatan (Pasal 3 UUJN). Entah bagaimana politik hukum pengaturan UUJN tersebut, yang pasti sejak saat itu seluruh calon Notaris harus mengambil jenjang pendidikan stata dua Magister Kenotaraiatan, tidak cukup hanya mengambil program Spesialis Notaris (CN) seperti sebelum adanya UUJN tersebut. Sama halnya dengan Magister hukum, dalam program Magister Kenotariatan juga diajarkan tentang teori-teori dan asas-asas hukum meski porsinya lebih banyak mengulas tentang praktek hukum Kenotariatan. Mamun secara keilmuwan dan berdasarkan jenjang pendidikan yang diakui, Magister Kenotariatan adalah sejajar dengan Magister Hukum atau Magister yang lain (Strata Dua).

Notaris adalah salah satu profesi dibidang hukum yang merupakan bagian dari disiplin ilmu hukum, dengan demikian pada dasarnya tidak ada alasan yang dapat mementahkan bahwa Magister Kenotariatan adalah linier dan sejalur dengan Ilmu Hukum.

Setelah acara penolakan itu, saya langsung menghubungi Pimpinan Fakultas Hukum yang kebetulan saya kenal baik, beliau langsung memberikan rekomendasi untuk saya, dan saya bisa mengikuti proses seleksi tahap selanjutnya.

Minggu, 27 Februari 2011

Sekelumit Cerita tentang Cita-Cita dan Topi Segi lima

Apa yang kamu bayangkan tentang sebuah cita-cita? Pastilah sebuah pencapaian yang indah dan spektakuler di masa depan.

Suatu hari saya melihat serial Ipin Upin, episode tentang cita-cita. Diceritakan masing-masing tokoh menggambarkan tentang cita-citanya. Ipin jadi astronot, Upin jadi ilmuwan, mey-mey jadi guru, ihsan jadi chef/koki, dan yang palik menarik perhatian adalah Fizi dia bercita-cita menjadi tukang pembersih sampah, sangat sederhana tapi membayangkannya saja membuat fizi bangga.

Adegan itu mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Waktu saya masih bermain di Taman Kanak-kanak (waktu itu usia saya masih 3 tahunan), saya dan teman-teman TK saya ditanya oleh Ibu Guru kami tentang apa cita-cita kami jika sudah besar nanti, karena saat itu kami masih belum bisa baca tulis, sang ibu guru memberikan kami berbagai macam gambar yang boleh kami pilih sebagai representasi dari cita-cita kami.

Masing-masing gambar mewakili sebuah profesi yang ingin kami geluti saat kami besar nanti. Gambar-gambar itu sangat menarik ada gambar seseorang berbaju serba putih dengan semacam alat periksa yang tergantung didadanya, ada gambar seseorang bertopi segi tiga dari jerami dan membawa cangkul, ada juga seorang perempuan cantik berkacamata menjinjing tas di tangan kanan dan buku memeluk buku ditangan kirinya. Dari semua gambar-gambar itu ada satu yang menarik perhatian saya, seseorang berjubah hitam dengan topi segi lima dan ada semacam tali didepannya, saya belum pernah melihat orang yang berbaju seperti itu, saya terkesan dengan kostum jubah hitam itu –yang menurut saya- sangat misterius dan menarik. Setelah menunjukkan gambar itu Kepada ibu Guru barulah saya mengerti bahwa gambar itu adalah gambar seorang yang disebut dengan sarjana.

Kata ayah saya setiap orang harus punya cita-cita dalam hidupnya, tak perduli apapun itu. Seseorang yang mempunyai cita-cita dalam hidupnya berarti dia adalah orang yang optimis terhadap masa depannya. Masa depan memang tak pernah bisa diduga, Tuhan yang telah mengaturnya tapi masih bisa diperjuangkan.

Diantara semua orang yang punya cita-cita, barangkali saya termasuk orang yang tidak konsisten dalam bercita-cita. Cita-cita saya selalu berganti mengikuti situasi dan kondisi.

Saat saya duduk dibangku kelas 3 SD, cita-cita saya untuk menjadi seorang Sarjana lengser begitu saja gara-gara terpesona melihat Tin Tin (dalam serial kartun Tin-Tin) berpetualang dibulan bersama snowe (anjing kesayangannya) dan professor Kalkulus. Mereka tampak hebat menggunakan baju astronot warna orange dan bisa melayang-layang diluar angkasa. Saya berpikir betapa hebatnya seseorang yang mengenakan kostum seperti itu dan bisa melayang-layang menjelajah tata surya. dan sejak saat itu saya bertekat untuk menjadi seorang astronot.

Cerita tentang Astronot tak berlangsung lama. Saat kelas 5 SD saya berkeinginan untuk menjadi seorang Guru. Saya terinspirasi oleh Guru SD saya yang sangat baik dan jenius. Waktu itu saya berpikir alangkah hebat dan mulianya menjadi seorang Guru karena bisa membuat orang yang tidak mengerti menjadi mengerti, yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula bodoh menjadi pintar. Dan astronotpun tergeser oleh Guru.

Tak hanya sampai disitu, lagi-lagi cita-cita saya goyah. Saat duduk dibangku SMP, gara-gara sering keluar masuk Rumah Sakit, saya ingin menjadi seorang dokter. Pikir saya, betapa hebatnya seorang dokter ini yang dapat menyembuhkan orang sakit.
Meski berubah-ubah, saya tidak pernah main-main dengan cita-cita, saya tidak pernah absen sekolah karena ingin cepat naik kelas dan menjadi seorang Sarjana. Mengkliping gambar-gambar astronot dan hal-hal yang berkaitan dengan ekspedisi luar angkasa, bahkan mati-matian belajar exact demi nilai 9 agar bisa jadi dokter.
Namun nampaknya takdir berkehendak lain. Tuhan telah membelokkan hati saya dan mengalihkan perhatian saya pada ilmu-ilmu sosial. Pada waktu SMA saya memilih jurusan sosial bukan eksak seperti seharusnya, padahal menurut nilai di Rapot tidak pernah ada angka 8 atau 9 untuk pelajaran Sosial, nilai sosial saya berkisar antara 6-7.

Alasan ketertarikan saya dengan ilmu sosial adalah ilmu sosial memberi saya ruang untuk belajar tentang manusia, mengerti tentang pikiran dan perilaku manusia, mencoba memahami saya, anda, kita, kami dan mereka mulai dari skup yang paling kecil (individu) hingga yang paling besar (masyarakat dunia). Faktor lain yang mendorong saya berhijrah dari ilmu eksakta ke ilmu-ilmu sosial adalah karena saya sangat menentang eksklusifitas. Dahulu di sekolah saya anak-anak yang masuk jurusan eksak adalah anak-anak yang serius, jenius, dan introfert. Mereka membuat kelompok-kelompok sendiri dan cenderung ekslusif. Karena saya tidak mau terjebak dengan lingkungan sosial yang kaku, maka saya memilih kelas sosial yang ramai dan dinamis.
Sejak saat itu, saya mulai mengasah kemampuan saya beradaptasi dalam lingkungan apapun, mencoba mengenal, memahami dan menyukai hal-hal yang asing bagi saya. Hal ini berlanjut hingga saya masuk ke perguruan tinggi, memilih Ilmu Hukum sebagai ruang belajar saya, dan Konotariatan sebagai focus kajian saya.

Tentang cita-cita, hingga saat ini baru satu cita-cita saya yang terwujud yaitu mengenakan jubah hitam dan topi segi lima. Saya telah dua kali mengenakan kostum itu, saya telah dua kali diwisuda dan telah mendapat gelar Sarjana dan Magister. Setiap mengingat mement itu, saya berkata pada diri saya sendiri, ini baru satu cita yang terwujud, selanjutnya apa lagi??

Barangkali memang benar, kita tidak akan pernah tau akan menjadi apa kita nanti, cita-cita mana yang akan terwujud. Kata ayahku, sekecil apapun cita-cita itu harus tetap dijaga, karena suatu saat nanti entah kapan, Tuhan akan memberikan waktunya untuk cita-cita itu membumi.

Akhir Bulan

Februari terasa begitu singkat
baru saja menyapa dengan penuh cinta
penghujung bulan telah tiba

ini bukan semata tentang angka 28 yang lebih singkat dibanding angka 30 atau 31
tapi juga tentang betapa singkatnya waktu yang saya gunakan untuk mengisi lembar-lembar kosong.

hanya sedikit kesan tentang bulan Februari,
dan aku telah menghapus semua catatan tentang bulan cinta ini.

Selasa, 08 Februari 2011

Merugi

Andai saya pedagang, hari ini saya rugi besar, tak ada untung dan dirampok...

Saya telah beberapa kali melewati kondisi seperti ini, dan kali ini mungkin kerugian terparah dalam hidup saya.

Kenapa?
Karna saya meninggalkan hal penting untuk hal yang tidak terlalu penting.

Saya sungguh merugi.

Sabtu, 05 Februari 2011

Cry Silently

Saat hati mulai melemah,
saat langkah sudah melunglai,
saat kata tak mampu lagi terucap,

biarkan saya menangis...
Sejenak...

Agar lemah ini terkikis,
agar langkah kembali berayun,
dan suara ini kembali terdengar

Let me cry silently,
dan semoga Tuhan mendamaikan hati saya...


*la haula walaa quwwata illa billahil'aliyyil 'adhim..

Minggu, 23 Januari 2011

Kecilku Dahulu




Ini adalah foto diriku waktu kecil, kira2 usiaku masih 9 tahun. Pertama kalinya diajari memakai kerudung oleh ibuku. Banyak yang bilang aku adalah anak yang hyper aktif, tak bisa diam, cerewet, bandel dan cengeng. Lihatlah foto ini, menurutku tampangnya tak lucu sama sekali, tampang anak bandel.

Kalo diingat-ingat, aku memang sangat menyusahkan waktu kecil, sampai-sampai ayah-ibuku lelah memarahiku karena tak pernah aku dengarkan apalagi aku turuti. Aku pernah menangis seharian karena mainanku yang terbuat dari tanah liat patah, aku juga pernah mogok makan karena ibuku mencopot gambar Silormoon yang aku pajang di kamar.

Aku paling tidak suka jika disuruh tidur siang sepulang sekolah. Aku sering kabur lewat jendela atau pintu belakang saat ibuku tidur disiang hari, aku lebih memilih main kelereng atau main banteng-bantengan dengan anak-anak tetangga sebelah.

Disekolah aku juga terkenal galak, meski badanku mungil, aku pernah berkelahi dengan teman laki-lakiku hingga membuatnya menangis. Meski begitu aku bukanlah anak yang tomboy, aku tetaplah anak manis yang suka memakai rok berenda dan berbandana lucu. Seperti kebanyakan anak perempuan lainnya aku suka bermain rumah-rumahan dari gambar-gambar bongkar pasang, suka juga bermain masak-masakan dan sering mengotori bajuku dengan getah pohon pisang.

Hal paling konyol yang pernah aku lakukan adalah kabur dari rumah karena dicuekin ayahku, merasa jadi anak pungut karena tak pernah dibelikan boneka seperti anak tetangga yang lain. Mungkin ini negative effect dari terlalu suka dongeng Cinderella :)

Tiap orang tua memiliki cara sendiri untuk menghadapai kebandelan anaknya. Ayahku adalah orang yang disiplin, tapi dia juga orang yang sangat tenang dalam menghadapi kenakalanku. Jika aku menagis ayahku tidak akan merayuku untuk diam, ayahku sangat tahu tabiatku yang keras kepala, menyuruhku diam sama saja meminyaki api, tangisku akan semakin menjadi. Dia akan membiarkanku menangis sampai kelelahan, lalu lapar dan mengantuk, setelah itu barulah dia mengajakku bicara.

Lain ayah, lain pula ibuku. Dia sangat reaksioner dengan kenakalanku, pernah suatu hari ibuku memergogiku kabur lewat pintu belakang saat disuruh tidur siang, dia memerahiku habis-habisan dan menyuruhku masuk kamar pergi tidur, tapi aku melawan dan berhasil kabur.

Suatu ketika aku pernah berdebat dengan ibuku tentang kenakalanku, mengapa kau ini nakal sekali nak? Tidak takutkah kau dengan hukum karma? Jika kau punya anak nanti pasti dia juga akan nakal sepertimu. Aku yang masih belum genap sepuluh tahun itu tidak tahu apa yang namanya hukum karma dan mengapa hukum semacam itu ada, tapi aku tak kehilangan akal, dengan polosnya aku menjawab: jika hukum karma dapat disangkut pautkan dengan kenakalanku, berarti kenakalanku ini bukan sepenuhnya salahku ibu, pastilah dulu ibu juga bandel hingga sifat bandel itu menurun padaku.
Sejak saat itu ibuku sudah tidak mau lagi berdebat denganku.

Waktu itu umurku masih 9, setelah bertahun-tahun berlalu, kata ibuku masih ada sifat kanak-kanakku yang tertinggal, aku masih bandel. Aku masih ingat cerita tentang hukum karma itu, dan suatu saat nanti jika aku hamil aku berniat melakukan semacam ritual tirakatan agar anakku kelak tak bandel sepertiku. hehehehe…. Semoga.

Masa kecil memang sangat menyenangkan. itulah anak-anak, tak perduli dunia dalam keadaan genting, anak-anak –seharusnya- selalu bahagia. Aku teringat film ‘Life Is Beatifull’, bagaimana susahnya seorang ayah mengkondisikan anaknya untuk tetap berpikir bahagia sekalipun pada nyatanya mereka sedang menunggu maut di camp konsetrasi Nazi.

Mungkin itu juga yang dilakukan ayahku dulu mengkondisikan diriku untuk tetap menjadi anak yang bahagia, memiliki masa kecil yang sempurna sekalipun kami hidup dalam keterbatasan.

Andai aku punya lorong waktunya Doraemon, aku ingin kembali kemasa itu, melihat bagaimana bandelnya diriku, menikmati kenakalan masa kanak-kanak, dan berpikir tanpa beban. Sepertinya aku harus banyak belajar dari masa kecilku, memaknai hidup yang begitu indah.

Senin, 10 Januari 2011

Waktuku




Aku merasa ini masih awal tahun, awal Januari, tak lebih dari tanggal lima. lalu seseorang menyadarkanku bahwa ini sudah melewati hari kesepuluh bulan Januari.

Sepertinya waktu berjalan lebih cepat dari perkiraanku, atau barangkali diriku yang terlalu lambat mencerna waktu.

Ah ternyata tidak, waktu berjalan tetap seperti semestinya, dua puluh empat jam sehari semalam, tidak melambat atau cepat, konstan.

Hanya perasaanku saja waktu berjalan begitu cepat, tanpa mampu aku menikmatinya.