Tampilkan postingan dengan label Warna Warni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warna Warni. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

2013 going to 2014

Awal tahun 2013 lalu aku menuliskan tiga resolusi: menikah, punya bisnis dan pergi ke luar negeri. Dari ketiganya satu yang sudah tercapai, pergi ke luar negeri pada pertengahan tahun 2013 untuk ibadah umroh, resolusi yang pertama insyaAllah akan terlaksana di tahun 2014. 2013 tahun yang menyenangkan, banyak kejutan yang aku dapat di sepanjang tahun lalu, tiba-tiba umroh, dipercaya mengerjakan beberapa hal dan yang paling ajaib di tahun 2013 adalah finally aku memutuskan untuk memilih seseorang menjadi pendampingku, yups, aku jadian. 

My life is still like a roll coaster. 12 bulan terasa begitu singkat, awal-awal tahun yang berat karna pekerjaan, pertengahan tahun yang luar biasa dan akhir tahun yang sangat menyenangkan. Aku banyak belajar ditahun ini, terutama tentang menghargai kesempatan, kesabaran dan kerja keras. Hidup memang tak pernah mudah seperti kelihatannya, tapi waktu tak pernah mau kompromi. 

Aku tidak sabar menunggu 2014, menunggu kejutan-kejutan lain yang akan terjadi. 2014 akan menjadi tahunku yang luar biasa, aku akan menikah ditahun ini. Sebuah keputusan terbesar dan tersulit sepanjang hidupku. Jikapun harus ada resolusi, aku berharap tahun ini bisa memulai keluarga baru dengan indah. Meski di awal tahun aku berduka karena nenek pergi selamanya, optimisme akan hidup harus tetap ada. What ever will be will be. 

Happy new year, stay cool n owesome ;))

Jumat, 31 Mei 2013

June, The Mounth of Hope

June, bulan ke enam dalam kalender masehi. Menurut sejarahnya kata Juni diambil dari nama Dewi Juno istri Dewa Jupiter dalam sejarah Romawi. Juno adalah Dewi yang kuat dan tangguh sekaligus penyayang dan hangat melambangkan posisi perempuan dalam keluarga, sehingga konon katanya pada zaman dahulu kala bukan Juni dianggap bulan yang paling baik untuk melangsungkan pernikahan. Pasangan yang menikah di bulan Juni akan dikarunia kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Konon kabarnya seseorang yang lahir di bulan ini berjiwa romantis, gigih, selalu ceria dan keras kepala. 

Terlepas dari faktor sejarah dan asal muasal bulan Juni, bagi saya Juni adalah bulan harapan, the mounth of hope. Alasan utamanya adalah karena pada bulan ini saya lahir. Selain itu, banyak hal penting dan keputusan penting dalam perjalanan hidup saya terjadi pada bulan ini. Lahir, dapat pacar, putus cinta, dapat pekerjaan pertama, pergi ke luar negeri untuk pertam kalinya, semua terjadi pada bulan ini.

Juni tahun ini akan tersa spesial, karena saya akan pergi ke tanah suci untuk ibadah umroh. Awalnya saya berharap bisa ke Jerman untuk Joint Summer Programme, tapi Tuhan berkehendak saya mengunjungi "Rumah"Nya. Don't ask me how does it feel, saya dilanda galau beberapa hari. Saya sadar ini bukan perjalanan biasa, saya akan berkunjung ke tempat dimana asal muasal Agama dan keyakinan saya dibawa ke muka bumi. Mengunjungi tempat dimana Adam dan Hawa bertemu, tempat Ibrahim mempersembahkan seluruh hidupnya, tempat Rasul Muhammad dilahirkan, menerima wahyu dan berziarah ke pembaringannya yang terakhir. Semua pengalaman spiritual mereka yang akan saya rasakan pada bulan Juni ini. 

Rasanya lengkap sudah Juni di tahun ini sebagai bulan penuh pengharapan. Berharap Tuhan selalu memberikan berkah dalam hidup saya, menjaga dan menuntun saya, melapangkan dan memudahkan segala urusan hingga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik, berbuat baik untuk lebih banyak orang lagi, amiin.

*enjoy your june everybody, love you all :))

Sabtu, 04 Mei 2013

Hunting New Ipad

Seminggu yg lalu saya membeli Ipad, new Ipad 64 Gb wifi and 3G. Sudah lama sy menginginkan benda ini, untuk mendapatkannya tidaklah mudah, harga 7,9 jt bukan jumlah yang kecil buat dosen baru seperti saya, berbulan-bulan harus melakukan penghematan dan sesekali lembur agar uang di tabungan cukup.

Setelah cukup uangpun, barang ini tidak mudah didapat, karna mungkin barang ini sudah sould out dan Apple tidak menjualnya sembarangan. Di Malang hanya ada satu authorize seller Apple yang saya tahu, Ipad tidak selalu ada, tergantung stock dari pusat, jikapun ada spesifikasi tidak seperti yg saya inginkan, kebanyakan yang masih ada Ipad 2 wifi, saya pikir sekali saya beli, saya harus membeli dg spesifikasi yg maksimal. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu hingga barang yg saya inginkan tersedia, atau membelinya di Surabaya karna banyak Apple store dsana.

Tanggal 24-25 April lalu saya ke Surabaya, kebetulan ada workshop yang harus saya ikuti. Mumpung di Surabaya saya niatkan untuk berkeliling mall-mall penjual Ipad. Dibantu seorang teman saya mulai hunting, dari mall ke mall, Tunjungan Plasa, SUTOS, hingga Ciputra World saya jelajahi, unfortunatelly, stock Apple untuk semua jenis di Apple store telah habis terjual, menurut mas-mas penjaga toko, untuk tahun ini Ipad 2 dan New Ipad sudah tidak dikeluarkan lagi, karena Apple akan mengeluarkan Ipad 4 dan Ipad mini, sang mas menyarankan untuk menunggu hingga farian terbaru ipad tersebut keluar. Ya sudahlah, may be its not my luck. Alhasil misi berburu Ipad d Surabaya gagal.

Sempat terpikir untuk tidak lagi berburu Ipad, hingga seminggu kemaren saya dengan seorang teman jalan-jalan ke Mall dan melewati App store yang biasa saya kunjungi di Malang. Teman saya menyarankan untuk bertanya pada penjaga toko, siapa tahu Ipadnya masih ada. Awalnya saya ragu karena di Surabaya yg lebih komplit saja tidak ada apalagi d Malang, tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya semoga teman saya benar. Dan memang benar, New Ipad masih ada dan tinggal satu-satunya dengan spesifikasi yg cukup komplit 64 Gb wifi dan 3G. Sebenarnya saya tidak membutuhkan kapasitas sebesar itu, 32 Gb wifi+3G sudah cukup bagi saya, tapi apa mau dikata ini tinggal satu satunya dan selisih harga hanya 400rb dg 32GB. Sayangnya, pada waktu itu saya tidak membawa cash, kartu debit saya hanya bisa mengeluarkan maksimal 5jt/hari, jadi sya harus pulang mengambil uang cash, singkatnya saya tidak jadi membeli Ipad saat itu dan saya berniat kembali esok hari dengan harapan Ipad itu masih ada. Akhirnya saya pulang dg hati yg gelisah, sepanjang malam saya memikirkan Ipad itu, semoga dia masih ada untuk saya ;)
Keesokan harinya saya kembali ke toko itu dengan harapan Ipad masih tetap ditempatnya, Alhamdulillah Ipad masih ada dan tanpa Pikir-pikir lagi saya membelinya, and here Im right now wth my New Ipad hahahaha

Rasanya pasti senang mendapatkan apa yang kita inginkan, segala pengorbanan terlihat manis. Sudah sejak lama saya menginginkan benda ini, bukan untuk sekedar gaya-gayaan atau mengikuti trend, tapi saya melihat bahwa benda ini akan sangat membantu aktifitas sy. Ipad punya banyak fitur yg memudahkan pekerjaan saya, bisa donlot majalah dan koran gratis, e-book, socmed dan lainnya. Meskipun saya masih dalam tahap belajar menggunakannya, semoga nanti benda ini bisa berfungsi secara optimal, se optimal isi tabungan saya yg menipis gara-gara benda ini. Hehehe....

Kamis, 02 Mei 2013

Kejutan Sore

Kita gak pernah tahu kapan Tuhan akan mengabulkan doa kita, bisa besok, lusa atau seketika itu juga, yg perlu dilakukan adalah menunggu dan meyakini.
Saya meyakini bahwa Tuhan maha mendengar dan mengabulkan segala doa, semua doa akan dikabulkan dg cara dan timing yang pas. Tidak terburu-buru atau terlalu lama semua akan indah pada waktunya. Seperti kemaren sore, ketika kejutan itu datang tanpa persiapan, suprise yang indah luar bisa, Tuhan mengabulkan salah satu resolusi saya tanpa syarat.

Saat awal tahun, saya menuliskan 3 resolusi, salah satunya adalah pergi ke luar negeri. Waktu itu saya menuliskan bahwa tahun ini saya harus ke luar negeri, minimal ada satu negara yang saya kunjungi untuk conference atau kegiatan ilmiyah lain, sukur-sukur jika hanya bisa jalan-jalan. Tapi Tuhan berkehendak lain, saya jadi ke luar negeri tapi tidak untuk menghandiri konfrensi tetapi untuk ibadah. Yup, pada tahun ini tepatnya awal bulan Juni saya akan berangkat umrah fi baytillah. Ini adalah kejutan Tuhan yang luar biasa.

Tidak pernah terpikir untuk berangkat umrah secepat ini, meskipun itu sangat diingini tapi secara tiba-tiba ada rasa haru yg luar biasa. Mungkin beginilah rasanya bahagia, rasanya seperti habis dilamar Leonardo de caprio *mungkin

Bagaimana saya bisa berangkat umrah? Ceritanya berawal dari program fakultas tentang rekreasi tahunan. D fakultas sya, fakultas hukum universitas brawijaya, kami punya agenda tahunan berupa rekreasi bersama yg diikuti oleh semua dosen dan karyawan, tujuanya barang tentu untuk menambah keakraban dan refreshing dr segala rutinitas kerja. Biasanya kegiatan iyu dilakukan dg mengunjungi tempat-tempat wisata baik d dalam maupun d luar negeri. Namun nampaknya banyak pihak yg bosan dg aktifitas seperti itu dan mengusulkan untuk mengubah kegiatan jalan-jalan menjad ibadah. Demi menghormati keinginan tersebut, dilakukanlah polling untuk menentukan apakah rekreasi tahunan tetap diadakan ataukan diganti dg umrah *bagi yg beragama islam. Poling semacam ini juga dilakukan setiap kita menentukan tempat kunjungan rekreasi. Alhasil, separuh dari dosen dan karyawan memilih untuk melaksanakan umrah dari pada rekreasi, dengan alasan akan lebih banyak manfaatnya jika digunakan untuk ibadah dari pada hanya untuk bersenang-senang. Untuk menghormati ummat yang beragama lain dan sebagian muslim yang tidak ingin pergi umrah, program rekreasi tetap dilakukan sebagaimana biasa. Karena peserta umrah banyak, umrah dibagi menjadi beberapa kloter. Rencananya pertahun akan diberangkatkan satu kloter beriaikan 40 orang, atau disesuaikan dengan kemampuan keuangan fakultas, karena sejatinya program ini menggunakan dana kesejahteraan dari fakultas. Singkat cerita setelah melalui proses pengundian peserta, saya termasuk dalam kloter pertama yang berangkat, alhasil bulan depan depan saya berangkat umrah.

Ini adalah perjalanan ibadah, sangat lain rasanya dibanding pergi ke Ausie, Roma, Jerman untuk conference. Ada hati yang harus dipersiapkan dan niat yang diluruskan. Disana banyak tempat terberkati Tuhan, dimana doa semua terkabulkan,Tanah Haram. Seluruh ummat muslim sedunia berkumpul di berbagai penjuru Ka'bah sebagai kiblat utama, pemersatu ummat manusia. Disanalah saya akan memanjatkan doa, mungkin doa yang sama dengan doa yg setiap hari saya mohonkan pada Tuhan, bedanya kini saya bisa lebih dekat dg "rumah"Nya mengetuk pintu-pintu ijabah. Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah.

Labbaik Allahumma Labbaiikk.......


Minggu, 30 Desember 2012

Fantastic 2012, Optimistic 2013


Satu kata untuk menggambarkan tahun 2012 “fantastic”. Banyak momen menyenangkan di tahun 2012. Jika tahun 2011 lalu adalah masa berhijrah dan transisi, tahun 2012 adalah masa memantapkan langkah. Meski masih meraba-raba tahun 2012 adalah fondasi dimana mimpi-mimpi dan cita-cita harus diseriusi satu persatu.

Dalam setahun ini saya banyak belajar. Menjadi seorang pengajar membuat saya harus lebih banyak belajar. Tertatih, perlahan tapi pasti menemukan kenyamanan dalam menjalankan profesi itu. Tak ada satupun pekerjaan/profesi yang mudah semua memiliki kerumitan dan tantangannya sendiri, dan tantangan terberat saya masih “diri sendiri”, melawan segala keraguan yang berasal diri sendiri membutuhkan tenaga super besar dan tekat sekuat baja. 2012 saya sudah mengawali itu semua, pertarungan yang masih akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Tentang cinta, banyak cinta yang datang di 2012, perlahan mulai menggoda tapi hati saya masih sekeras baja. Entahlah, mungkin saya telah melukai banyak hati, tapi apalah daya, saya hanya menjalankan apa yang dimau Tuhan, jika saya masih tersesat mungkin saya salah membaca rambu-rambunya.

Saya sangat bersyukur, saya masih dikelilingi orang-orang baik yang siap mengulurkan tanggannya saat saya butuh bantuan, dan menyediakan bahunya jika saya sedih. Kesendirian dan kesepian muncul dari hati yang tak pandai mensyukuri kebedaan orang lain dan tak mampu menangkap sinyal doa untuk dirinya.

Saya mengakhiri tahun ini dengan penuh rasa optimis, semoga ditahun mendatang segala doa diijabahi Tuhan. jika harus ber-resolusi, saya punya tiga resolusi spesifik di tahun 2013.

Pertama, saya ingin menikah. Jangan tanya “siapakah pria itu” doakan saja semoga Tuhan yang maha melembutkan hati dan pemilik sebenar-benarnya cinta segera “memantik” hati saya demi seorang pria ini dan kami bisa menikah 

Kedua, saya ingin punya bisnis yang saya kelola sendiri. Meski sekarang saya sudah memiliki bisnis, tapi sifatnya masih sporadis dan suka-suka. Ditahun 2013 saya ingin penya satu jenis usaha yang saya kelola secara utuh dan serius. Bisnis ini nantinya saya peruntukkan buat jaminan hari tua 

Ketiga, menulis jurnal internasional. Selama setahun terakhir ini terhitung sudah dua kali saya mengikuti International Conference meskipun penyelenggaraannya masih level Nasional. Tahun 2013 I dare my self untuk menulis jurnal Internasional yang bisa dipresentasikan di luar negeri.

Butuh kerja ekstra keras untuk mewujudkan resolusi itu. Tapi menyerah diawal bukan pilihan. Tuhan pasti masih punya banyak keajaiban, i believe in miracle.


Good bye 2012, I’ll be missing you.

Jumat, 23 November 2012

Kabarku Hari ini...


Hai apa kabar pemirsa...
Rasanya lama sekali tidak menyapa. sejak aktif di tweeter saya jadi lebih sering "nyampah" dari pada menulis hehehe. banyak hal yang ingin dibagi dan ditulis tapi sekali lagi saya selalu kalah dengan kemalasan.

November adalah bulan yang sibuk, banyak tugas yang harus saya selesaikan. Alhamdulillah so far saya masih bisa menjalani hari dengan baik meski mood tak selalu mendukung dan cuaca sering mendung :)

pagi ini mood saya sedang baik, saya menuliskan 10 hal yang membuat saya bahagia pagi ini dalam status fesbuk:
1. saya cukup tidur. saking sibuknya saya sering kurang tidur, tapi semalam yang berhasil tidur dibahwah jam 9 malam)
2. saya tidak bermimpi buruk. mimpi kadang bisa mempengaruhi mood seharian, untunglah tak ada mimpi buruk yang mengganggu
3. Bisa bangun dengan sehat. Nikmat sehat adalah anugerah yang tak terkira, bersyukurlah untuk itu.
4. sholat subuh tepat waktu. sedah bebera hari Subuh saya diujung tanduk, karna tidur terlalu larut alhasil bangun kesiangan, tapi tidak dengan pagi ini saya bangun pas adzan subuh (luar biasa!!) :D
5. mendapat beberapa pesan dr teman selagi saya tidur. aktifitas pertama saat bangun tidur adalah memeriksa hanpon, cek bb, tweeter dan fesbuk. pagi ini semua "jejaring" saya menyala, bertanda ada pesan yang belum saya baca. BBM dari anggun, sms dari adek, beberapa tweet dan comment d fesbuk. dari semua itu tak ada yang lebih menyenangkan dari pada menyadari bahwa banyak orang-orang yang peduli dan mengingat kita sekalipun saat kita tertidur.
6. mendapati gigi sudah tidak sakit. seminggu belakangan ini gigi saya bermasalah, ada lubang yang masih menganga menunggu sentuhan dokter gigi, tapi jadwal berkunjung masih hari senin, jadilah sebelum tidur harus minum cataflam 50mg sebagai penahan rasa sakit. sekalipun bentunya kecil dan rasanya seperti permen, obat itu manjur hingga pagi sudah tidak cenut-cenut lagi :)
7. cuaca cerah tidak hujan. sya tidak menyukai hujan dipagi hari, pagi yang basah membuat saya malas beraktifitas.
8. Masih memiliki keluarga yang hangat. Hidup sendiri di luar kota jauh dari keluarga bukanlah pilihan yang mudah. tapi saat menyadari bahwa masih memiliki orang-orang yang selalu mendoakan saya nun jauh disana itu sangat melegakan.
9. masih dipercaya melakukan suatu pekerjaan sekalipun ini adalah weekend, sepanjaang saya menykainya apapun pekerjaannyaa tak jadi masalah :)
10. dan masih banyak lagi. jika ada satu alasan yang bisa membuatmu menangis, ada 1000 alasan yang bisa membuatmu bahagia

kadang banyak hal kecil dalam hidup yang lupa untuk kita syukuri. terlalu banyak mengeluh akan mengecilkan nikmat Tuhan, maka saya memutuskan untuk selalu bersyukur dan bahagia dengan apa dan bagaimana sekarang.

so, i'm happy today, what about you???


Selasa, 17 April 2012

Kenangan Masa SD




Beberapa waktu lalu teman SD saya membuat group di fesbuk, anggotanya adalah alumnus MI (Madrasah Ibtidaiyah/ setingkat SD) Zainul Hasan tempat dulu kami belajar. Meski anggotanya dari berbagai macam angkatan, tapi yang paling aktif adalah angkatan kami.

Kami saling bertukar kabar, berbincang seputar kegiatan masing-masing, meski didominasi oleh obrolan nostalgia dan kisah cinta monyet anak kecil. Seru sekali melihat kami saling membalas comment yang menadakan jika kami masih saling merindukan.

Yang paling mengharukan adalah saat diposting foto bersama kami saat kelas 6. Ini adalah foto wajib untuk setiap angkatan yang akan disimpan dalam album kenangan sekolah. Kami berseragam putih-putih dengan jilbab hitam bagi yang perempuan. Sekolah kami adalah sekolah Islam jadi sejak kelas 3 SD bagi yang perempuan diharuskan mengenakan kerudung, meski rok yang kami gunakan hanya sepanjang lutut.

Lucu sekali melihat foto itu, teringat kembali masa-masa kecil disekolah reot dipinggiran sungai Bedadung. Sugai Bedadung adalah sungai terbesar di Kabupaten Jember, melintang disepanjang utara hingga pantai selatan. Sekolah kami terletak tepat di pinggiran sungai itu, jadi bisa dibayangkan saat hujan bangku-bangku kami hanyut diterjang banjir. Jika sudah begitu masjid-lah yang menjadi lokasi belajar. Setelahnya kami harus kerja bakti membersihkan sampah dan lumpur yang masih tersisa.

Dulu sekolah kami itu tak berdaun cendela dan tak berdaun pintu, hanya bangunan sederhana dipinggiran sungai yang siap hanyut kapan saja. Saat ini, sekolah kami sudah direnofasi total, jauh lebih layak dan representatif untuk belajar, serta berhasil menjadi salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Jember. Saya mengikuti perkembangannya karna kakak sepupu saya (yang juga alumnus) mengabdikan ilmunya disana.

Melihat satu-persatu wajah itu, membuat saya tersadar, betapa cepatnya waktu berlalu. Sudah 15 tahun sejak kelulusanku tahun 1997 lalu. Setelah lulus, saya melanglang buana, meneruskan tradisi keluarga, meninggalkan rumah, pergi ke tempat jauh untuk belajar. Tak lagi bertemu teman-teman, kominikasi terputus.

Nama-nama mereka masih saya ingat, hanya beberapa yang masih sering bertemu saat saya pulang karna kebetulan kami bertetangga, dan yang lain entah sedang apa dan berada dibelahan dunia mana tak ada kabar pastinya.

Sekali lagi, jejeraing sosial menjadi penanda kuasa Tuhan. Menjadi ajang silaturrahmi, menjadi ajang reuni yang tak perlu tempat dan waktu khusus, kapanpun dan dimanapun.

Jumat, 06 Januari 2012

Keadilan Level Sandal Jepit

Pada tahun 1993, Ronny Lukito, lelaki asal Bandung mendirikan sebuah perusahaan bernama PT. Eigerindo Multi Produk, atau yang lebih dikenal dengan Eiger, yang bergerak dalam bidang usaha manufaktur dan ritel peralatan petualangan. Eiger terinspirasi oleh nama sebuah gunung di Alpene Bernese Swiss yang tingginya mencapai 3.970 meter diatas permukaan laut. Produk Eiger milik Mr. Ronny Lukito tersebut telah menjadi brand terkemuka –asli Indonesia- dibidang peralatan-peralatan petualangan, hingga saat ini Eiger mempunyai sekitar 100 counter yang tersebar diseluruh Indonesia.

Tentu bukan karena ketenaran merk Eiger itu yang menyebabkan AAL, bocah berusia 15 tahunan harus dimejahijaukan, tetapi tindakan AAL yang secara sengaja mengambil barang atau sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, itulah yang menjadi alasan yuridis mengapa hakim Pengadilan Negeri Palu, Rommel F Tampubolon, memutuskan AAL bersalah atas dakwaan pencurian sandal jepit bermerk Eiger nomor 43 milik seorang Briptu di Palu. Bukan merk atau ukuran yang menjadi masalah, tapi semua unsur yang ada dalam Pasal 362 KUHP tentang pencurian terbukti secara sah meyakinkan telah dilakukan oleh AAL. Demikianlah kira-kira kesimpulan keputusan hakim yang dibacakan dalam sidang hari Rabu yang lalu (4/1/2012).

Kejadian pencurian sandal ini cukup mencuri perhatian masyarakat, bahkan di berbagai tempat dilakukan aksi simpati terhadap nasib AAL dengan mengumpulkan sandal jept sebanyak-banyaknya. Ada tiga alasan mengapa kasus ini sangat menarik, pertama, pencuri adalah anak yang masih dibawah umur, kedua yang dicuri adalah sandal (yang tingkat ‘prestisiusnya’ terabaikan) dan yang ketiga adalah korban pencurian adalah seorang aparat polisi. Disisi lain, tentu ini menjadi tamparan keras bagi korps kepolisian yang saat ini sedang memperbaiki citranya justru dianggap gila hormat dan ‘lebay’ dengan menuntut seorang anak dibawah umur hanya karena mencuri sandal.

Ini bukan kasus pertama kali dan satu-satunya yang meyedot perhatian publik, banyak kasus lain seperti Prita Mulyasari, nenek pencuri singkong, anak pencuri setandan pisang dan sebagainya, yang membuat masyarakat geram karena menganggap tidak seharusnya hukum bertindak sedemikian atas kasus remeh-temeh semacam itu.
Terlepas dari opini yang kini berkembang di masyarakat, kasus-kasus seperti ini selalu menimbulkan pertanyaan, apakah ini memang yang seharusnya dilakukan oleh hukum? jika memang bukan itu apa yang seharusnya dilakukan oleh hukum dalam konteks negara ini sebagai negara hukum?

Positivisme yuridis vs Keadilan
Dalam konsep negara hukum ada tiga komponen yang harus dipenuhi, pertama rule of law, kedua supreme of law, dan ketiga penghormatan HAM. Bagaimanapun bentuk hukum itu dalam negara hukum semua harus terkondisikan untuk mendukung tiga komponen tersebut.

Gustav Radburch menyatakan bahwa tujuan hukum itu ada tiga, pertama keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Ketiganya harus berjalan bersamaan, jika tidak bisa, maka keadilanlah yang harus diutamakan.

Namun demikian, implementasinya tak semudah itu. Nilai keadilan yang abstrak harus dimanifestasikan dalam formalitas hukum yang konkrit. Ini untuk menjamin kepastian hukum dalam supreme of law, hukum harus formal legalistis sebagai manifestasi rule of law dan hukum juga harus merata dan tidak pandang bulu sebagai manifestasi dari equality before the law dalam konsep HAM.

Hal ini sepenuhnya tidak salah, jika kita berpegang pada formalitas yuridis versi John Austin. Bagi Austin, hukum, bukan persoalan adil-tidak adil, dan juga bukan soal relevan atau tidak dengan pergumulan dunia riil. Satu-satunya yang relevan jika berbicara tentang hukum, adalah ia ada dan sah secara yuridis. Tata hukum itu nyata dan berlaku, bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial, bukan pula karena hukum itu bersumber pada jiwa bangsa, bukan pula karena cermin keadilan dan logos, tetapi karena hukum itu mendapat bentuk positifnya dari institusi yang berwenang. Justifikasi hukum ada di segi formal-legalistiknya, baik bagi segi wujud perintah penguasa maupun derivasi dari norma dasar (grundnorm).

Dalam negara hukum yang menganut sistem hukum eropa kontinental kasta tertinggi adalah rule of law dengan hukum positif (tertulis) sebagai panduannya. Dalam hal ini bentuk formal hukum (undang-undang) memegang peran penting. Celakanya, hukum kita selalu terjebak dalam positifisme dan legalitas hukum sehingga hanya memandang hukum dari apa yang bisa kita terima oleh panca indera. Keadilan itu terlihat dan termanifestasi dari teks-teks aturan dan putusan hakim.

Menurut pandangan positifistik, apa yang dilakukan hukum (putusan hakim) terhadap kasus sandal jepit itu telah benar, tidak ada yang terlu dipertentangkan. Secara formal yuridis AAL telah memenuhi rumusan Pasal 362 KUHP tentang pencurian (rule of law) dan tidak betentangan dengan HAM (equality before the law).

Namun tampaknya masyarakat tidak berpikir demikian, apa yang dialami oleh AAL merupakan the abstain of justice (hilangnya nilai keadilan dalam hukum). Keadilan itu tidak hanya dipahami secara teks-teks yuridis tetapi lebih kepada nilai kemanusiaan. Sederhananya, meskipun secara formal yuridis pencurian yang dilakukan AAL adalah salah, tapi tidaklah manusiawi dan tidak adil jika hal itu sampai ‘mampir’ di meja hijau karena obyek yang dicuri hanyalah sebuah sandai jepit.

Bagi Max Weber mungkin masyarakan kita sudah sampai pada tingkat rasionalitas penuh dengan otoritas rasional, dimana hukum dibuat dan dijalankan berdasarkan kewenangan formal oleh negara. Namun secara pemikiran masyarakat mulai melangkah pada progresifitas hukum dimana lebih mengutamakan tujuan dan konteks ketimbang teks-teks aturan semata.

Hukum progresif lebih mengutamakan tujuan dan konteks daripada teks-teks aturan semata, dan disini persoalan diskresi (keleluasaan hakim dalam menafsirkan teks) menjadi sangat urgen. Dalam konteks diskresi, para penyelenggara hukum dituntut untuk memilih dengan bijaksana bagaimana ia harus bertindak. Otoritas yang ada pada mereka berdasarkan aturan-aturan formal, dipakai sebagai dasar untuk menempuh cara yang bijaksana dalam menjalankan tugasnya berdasarkan pendekatan moral daripada ketentuan-ketentuan formal.

Mungkin konsep diskresi ini yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh hakim Pengadilan Negeri Palu dalam kasus AAL vs sandal jepit Briptu. Hakim tidak hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh teks-teks (aturan) formal tetapi menggali nilai moral demi terwujdnya keadilan. Untunglah, pada akhirnya hakim tidak kebablasan dalam memutus perkara, tidak memenjarakan AAL dan mengambil langkah –seharusnya- ‘aman’ dengan mengembalikan AAL kepada orang tuanya setelah diputus bersalah secara hukum.

Keadilan = Sandal Jepit
Sejatinya keadilan itu tidak boleh di hadapkan secara vis a vis dengan positivisme hukum. Keadilan dan kepastian hukum tidak boleh menjadi oposisibiner, apalagi menjadi teralienasi satu sama lain. Keadilan harus menjadi nafas hukum, keadilan menjadi bagian yang integral dan merupakan inti dari hukum, bukan malah menjadi entitas yang berbeda dari hukum. Jika positivisme hukum mereduksi atau menjauhi nilai keadilan, maka hakim harus berani memposisikan diri sebagai jembatan untuk mendekatkan jarak kesenjangan itu.

Keadilan itu mungkin hanya sebatas dan selevel sandal jepit, atau bahkan keadilan itu memang seharusnya selevel dengan sandal jepit yang membumi. Sebuah sandal, apapun mereknya, Eiger, Converse, crocs atau bahkan swallow sekalipun tidak akan merubah kondrat sandal sebagai alas kaki yang letaknya dibawah. Keadilan bagaimanapun bentuk dan rupanya, dia harus menjadi alas dan pijakan (nilai) untuk berjalannya sebuah hukum. Tidak menjadi barang mewah yang unreachable.

Mungkin ada benarnya jika merujuk pada pemikiran Gurvitch bahwa seharusnya keadilan itu menjadi nilai hidup bersama yang utama, hal ini hanya bisa dilakukan jika bisa meleburkan ‘aku’ dan ‘engkau’ menjadi ‘kita’ sehingga keadilan itu bukan hanya milik-ku, milik-mu atau milik-nya tetapi milik kita.

Sabtu, 31 Desember 2011

Yang Tersisa dari 2011



Menurut penanggalan cina tahun 2011 adalah tahun kelinci, sifat dari kelinci adalah dinamis, maka tahun 2011 diperkirakan akan banyak mengalami perubahan dan lompatan-lompatan yang signifikan, begitulah bunyi ramalan yang saya baca disalah satu media saat menjelang tahun baru 2011. Saya bukan orang cina yang terlalu percaya pada ramalan dan sejenisnya, tapi jika melihat perjalanan saya ditahun 2011, sedikit ada benarnya juga apa yang diramalkan “suhu Achai” itu.

Pada akhir tahun 2010 lalu, saya menuliskan sebuah resolusi, dalam sebuah catatan saya tulis: “Tahun ini aku ingin BERHIJRAH, bermutasi, jika perlu berevolusi”, sebuah resolusi sederhana tapi penuh keberanian untuk melakukannya. Yah, tahun 2011 ini adalah tahun “berhijrah” tahun perpindahan dan tahun transisi, seperti kelinci yang melakukan lompatan dan manuver yang tak bisa diduga, 2011 adalah tahun penuh kejutan.

Bulan-bulan di awal tahun adalah bulan-bulan ‘galau’, Januari hingga maret. Puncaknya terjadi pada bulan Februari. Mungkin bagi sebagian orang ‘bulan kedua’ ini adalah bulan penuh cinta, tapi tidak bagi saya, Februari adalah bulan ‘tersesat’, tersesat dalam kegalauan, kegelisahan dan frustasi (maaf tidak akan saya ceritakan mengapa saya frustasi dibulan ini: only God knows why). Dan semua kesesatan itu akhirnya berakhir dibulan Maret.

April adalah bulan dilematis, waktunya untuk memilih. Pada bulan ini tiba-tiba semua jalan menjadi bercabang tidak ada trak lurus, seolah membentuk sebuah persimpangan dengan tikungan-tikungan tajam. Pilih belok kanan atau kiri, berdiam berarti mati dan tak ada jalan mundur. Mencoba coba menerka jalan mana yang sekiranya lebih terang dan pijakan mana yang membuat kelinci ini tidak terjatuh, saatnya kelinci untuk melompat. Dan semua itu baru terjawab pada bulam Mei, bulan kelima dalam setahun.

Kelinci memutuskan untuk bermanuver, dan saya telah menentukan pilihan untuk “berhijrah”. Bulan Mei saya memutuskan untuk beralih profesi, meninggalkan dunia Notaris dan memutuskan untuk kembali ke kampus, dunia akademisi. Entah ini pilihan yang bagus atau tidak, tapi setidaknya saya berani untuk melangkah, one step closer. Tentu tidak mudah untuk mengambil keputusan ini, perlu kemantapan hati. Tentu saya mencintai dunia notaris yang telah saya tekuni tiga tahun belakangan ini, tapi ada hal yang lebih besar yang ingin saya capai.

Bulan Juni saya resmi menjadi bagian dari civitas akademika di kampus tempat saya belajar dulu, kembali menjadi ‘orang kampus’, bergulat dengan rutinitas akademis. Kampus bukan tempat yang baru bagi saya, kurang lebih 7 (tujuh) tahun saya menghabiskan waktu disana, namun kembali dengan status baru ‘bukan mahasiswa’ bukan hal yang mudah, ini dunia yang sama sekali berbeda. Tapi apapun dan bagaimanapun itu pilihan sudah ditentukan, tak ada jalan mundur, meski ini sama sekali tidak mudah seperti kelihatannya, hanya belajar dan bekerja keras yang bisa menjadi pembuktian atas kemampuan dan jawaban atas keraguan.

Agustus hingga oktober adalah bulan uji coba, penyesuaian dengan dunia baru. Saya merasa senang bukan main saat mendapat kesempatan baru, pengalaman baru dan ilmu baru, dan menangis meraung-raung jika menyadari ketidakmampuan diri melawan kebodohan dan kemalasan yang masih merajai otak. Sekali lagi belajar dan terus belajar adalah jawaban (titik)

Diantara semua bulan dalam 2011 barangkali November-lah bulan yang paling manis, banyak kejutan pada bulan ini. Awal bulan tiba-tiba ada beberapa lelaki yang nyatakan cinta (mesti tak satupun diantara mereka yang nyangkut :D), tiba-tiba menghadiri konfrensi ASEAN di Bali dan dikejar bule menakutkan, mendadak bertemu kawan lama, mendadak bisa jalan-jalan gratis dan banyak kejutan lainnya.
Kejutan berlanjut hingga awal Desember, akhir tahun yang lumayan merepotkan, mulai dari menghadiri beberapa seminar, workshop, pelatihan hingga tidak sengaja ditugaskan ke Jakarta menemani mahasiswa di Internasional Moot court competition. Semua serba mendadak dan unpredictable.

Banyak cerita dan banyak hal tersisa dari 2011, dan diantara semua yang tersisa itu hanya kata belajar dan bekerja keras yang tetap menjadi agenda di tahun-tahun selanjutnya. Tak ada resolusi khusus yang saya tuliskan untuk 2012, tahun Naga Air, selain tetap berbaik sangka kepada Tuhan bahwa cinta akan datang pada setiap hati yang masih punya cinta....

Happy New Year 2012
New Hope, New Wish and New Love

Kamis, 15 Desember 2011

Dikejar Bule Hitam

Sebulan yang lalu, saya pergi ke Bali sendirian (sudah saya ceritakan alasan dan kronologisnya dalam note sebelumnya). Ada cerita menarik dari waktu kepulangan saya dari Bali, bertemu bule aneh. Ceritanya kurang lebih demikian:

Saya kembali ke Malang pada hari kamis (17/11) dengan pesawat Wings Air. Pada hari itu, menurut informasi yang saya dapat, lalu lintas ke arah bandara Ngurah rai akan sedikit macet karena lagi hebohnya kedatangan Hillary Clinton dan Barack Obama, akhirnya saya putuskan untuk berangkat satu jam lebih awal, agar tidak terjebak macet.

Pesawat saya dijadwalkan take off pukul 14.00 wita, pukul 12.30 saya sudah nangkring di lounge bawah bandara Ngurah rai. setelah check in saya harus menunggu bagasi karena baru dibuka pukul 13.00 WITa, sambil menunggu saya duduk di lounge bawah sebelah barat, dekat tempat makan dan toko souvenir, saya memilih duduk di ujung bangku yang kosong, berharap tidak ada orang yang menggangu.

Waktu saya menunggu tiba-tiba ada Bule hitam duduk disebelahku. Sekilas saya melihat orang itu tinggi besar berkulit hitam, dengan baju putih panjang (semacam abaya) dan peci warna mencolok (hijau merah kuning), tanpa bertanyapun siapapun tahu pasti dia orang afrika.

Awalnya saya cuek saja, berpikir tidak mungkin kami terlibat pembicaraan karena kendala bahasa. Namun tiba-tiba suara sang pria itu memecah kesunyian.

“excuse me, do you speak english?”
Saya celalingak-celinguk, apakah orang ini berbicara pada saya?

“yes, i do” jawab saya ragu, beberapa hari itu saya agak keminggris, bertemu dengan beberapa bule dan mengobrol dengan mereka selama konfrensi.

Dia mulai memperkenalkan diri, Mr. X bekerja di kedutaan besar Nigeria untuk Indonesia sebagai Ambassador, begitulah yang tertera dari kartu nama yang dia berikan. Dan kami pun “terpaksa” bertukar nomor telpon.

Dia berada di Bali dalam rangka pembukaan KTT ASEAN, dia adalah duta besar Nigeria untuk urusan ASEAN. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta dia tidak bisa mengikuti acara sampai selesai, disamping itu dia juga tidak terlalu suka Bali –ya iyalah secara afrika lebih panas dari Bali- :D

Awalnya obrolan kami sangat menyenangkan, seputar pendidikan, hukum (dia juga lawyer), budaya, sedikit politik hingga banyaknya Nigerian yang jadi pemain bola di Indonesia. Overall dia sangat ramah.

Tapi lama kelamaan saya tidak nyaman dengan obrolan kami, dia mulai bertanya tentang masalah pribadi, dimana rumah saya, orang tua saya, pacar saya an so on.... -menurut saya ini perbincangan sensitif bagi orang yang baru pertama kali ketemu- saya hanya menjawab sekenanya saja, dan mencoba mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang umum. Yang paling membuat saya tidak nyaman adalah tentang keinginanya untuk bertemu lagi dengan saya di Malang, dan membicarakan hal-hal yang lebih pribadi, dia juga terang-terangan bilang menyukai saya. (plis deh, baru kenal juga bicaranya ngawur...)

Karena saya sudah merasa tidak nyaman, saya pilih jurus seribu kaki alias kabur melarikan diri. Singkat kata singkat cerita aku berhasil pergi dengan alasan harus boarding secepatnya, meski sebenarnya masih tersisa 30 menit lagi.

Unfortunatelly pesawat saya dan pesawat dia berangkat di jam yang sama melewati gate yang bersebelahan. Untuk menghindar dari pandangannya saya harus bersembunyi diantara kerumunan orang (lucky me have a little body hehehe...)

Sebelum take off dia sempat menelpon, katanya dia sangat ingin bertemu lagi denganku, dia juga berjanji akan sering-sering menghubungiku dan aku juga bisa menghubunginya kapanpun. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, lalu dengan tegas aku jawab, “ you can call or come if I don’t have any appointment with another guy, and I’m not sure about meeting you again” (terlalu kasar, mungkin :). Sebelum menutup telpon dia memintaku untuk menelponnya sesampainya di Malang, and I just can say “insyaAllah...”

setelah pertemuan itu, dia terus menelpon, mencoba menghubungi tepatnya, karena beberapa kali dia menelpon, tidak saya angkat. Dia juga mengirim beberapa sms, dari beberapa pesannya yang mampir hanya satukali saya balas, itupun hanya dengan “i’m apologize, i can’t answer ur call, i have a tight agenda today”. itu terjadi selama seminggu setelah pertemuan kami, berharap setelah ini tidak ada komunikasi yang terjalin.

Setelah satu bulan berlalu, saya harap sudah tidk ada lagi pesan atau terlpon darinya. Tapi tiba-tiba tadi malam dia menelpon lagi, tepatnya mencoba menelpon karena –tetap- tidak saya angkat. Lalu dia kirim sms: “hi pretty ula, Is a pity u can’t even send me sms, where are u going to be during xmas? Plis tell me if u can come so I can send u a ticket”

Hmmm... enough!

Selasa, 29 November 2011

Tips Melancong Sendirian

No body wants to be lonely, begitulah kata bang Ricky Martin. Emang sih gak nyaman banget pergi sendirian, apalagi mengunjungi tempat-tempat wisata yang seru. Biasanya orang akan membawa serta kerabat, teman dekat atau pacar untuk liburan, tapi ketika tak ada seorangpun yang bisa menemani bukan berarti kita tidak bisa menikmati liburan sendiri kan? Untuk anda yang suka kesendirian atau terpaksa sendiri, berikut tips dari saya agar anda bisa menikmati liburan anda sendiri.

1. Well prepare
Langkah pertama ini sangat penting dan menentukan kenyamanan anda selama liburan. Siapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum anda menuju tempat tujuan. Pertama, pastikan telah pisan tiket untuk pergi dan pulang kembali. Hindari pembelian tiket on the spot, lebih baik pesanlah jauh-jauh hari sebelumnya agar anda mendapat harga yang lebih murah. Kedua, pastikan anda telah booking hotel. Karena anda akan sendiri, carilah hotel yang dekat dengan pusat wisata agar akses anda lebih mudah. Biasanya tarifnya agak mahal sih tapi akses yang mudah ke tempat keramaian akan sangat membantu.

2. Cari info dari teman
Kumpulkan info dari teman-teman anda yang pernah mengunjungi tempat tersebut. Misalnya tentang tempat hiburan yang seru, hotel yang murah dan tempat makan yang enak. Belajar dari pengalaman orang lain adalah cara bijak agar kita selamat dan meminimalisir kesalahan

3. Jangan mengaku sendirian
Menurut saya agak membahayakan jika kita mengaku sendirian di tempat asing. Sendirian di tempat asing adalah sasaran empuk bagi orang iseng. Apalagi saat anda diterminal ato bandara pasti banyak orang yang nawarin ini itu, antar sana antar sini, jangan terpancing dengan rayuan mereka, akan lebih aman jika anda mengaku sedang menunggu jemputan atau sudah ditunggu di suatu tempat agar anda tidak dikejar-kejar orang iseng.

4. Sok Tahu itu perlu
Jangan pasang tampang bingung, itu pasti mengundang orang-orang iseng untuk mengganggu anda. Hindari ekspresi celingak clinguk sambil garuk-garuk kepala. Pasanglah tampang percaya diri dengan gaya yang meyakinkan seolah-olah ini bukan pertama kalinya mengunjungi tempat itu dan anda sudah hapal alurnya, dengan begitu orang tidak akan mengisengi anda. Jika anda merasa bingung tanyalah pada sumber yang bisa dipercaya, misalnya pusat layanan informasi atau pos keamanan, InsyaAllah mereka akan memberikan informasi secara benar.

5. Bawalah barang secukupnya
Karena anda berlibur sendiri, bawalah barang secukupnya. Akan sangat menyusahkan jika anda bawa barang banyak dan ditenteng sendiri. Menggunakan jasa pengangkut tentu tidak hemat dan tidak efisien.

6. Hindari tempat yang sepi
Nah, saat anda berjalan-jalan sendirian pilihlah tempat-tempat yang ramai dan mudah dijangkau. Jangan memilih tempat-tempat sepi apalagi saat malam hari. Ingat, kejahatan bukan hanya karena ada maksud pelaku, tetapi juga karena ada kesempatan, so. Waspadalah....!

7. Jangan suka memberi alamat ato nomor telpon
Pasti senang kan mendapatkan teman baru, tapi gak banget kan kalo baru kenal sudah berani macam-macam. Nah guys, makanya jangan suka memberi alamat rumah ato nomor telpon kepada orang yang baru kamu kenal. Curiga memang tidak baik, tapi kita harus tetap waspada dalam keadaan apapun. Ingat guys, kamu lagi sendiri, kalo kamu tiba-tiba ngilang dan diculik, bakal ngerepotin pak polisi kan???

8. Banyaklah ngobrol dengan supir taxi
Karena anda sendiri, mungkin anda akan memiliki sedikit teman mengobrol. Jika anda pergi dengan taksi, gunakanlah kesempatan ini untuk mengombrol dengan supir taxi. Dari obrolan itu anda bisa mencari tau tempat tongkrongan yang asik yang mungkin tidak banyak orang tahu. Lumayan kan jika anda mendapatkan info tempat baru yang lebih asik dari pada referensi teman anda??

9. Emergency call
Usahakan anda menyimpan nommor-nomor penting saat anda sendiri, selain nomor ortu anda juga perlu menyimppan nomor-nomor penting lain yang siap dihubungi 24 jam, seperti nomor telpon kepolisian setempat, jika perlu nomor hotel tempat anda menginap. Ini penting jika anda mengalami kesulitan atau kejadian yang tidak diinginkan akan ada bala bantuan yang siap segera menolong anda.

10. Keep smiling
Meski anda jalan2 sendiri, tak ada alasan untun pasang tampang manyun. Tersenyumlah sepanjang jalan, nikmatilah harimu, the time absolutely yours. Like you the only one girl in the world kata mbak Rihanna...

Selamat berlibur..... :)

Senin, 28 November 2011

Lonely Bali




Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi pulau Bali. Itu bukanlah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau dewata, tapi itu adalah perjalanan pertama saya ke Bali sendiri melalui jalur udara.

Kali itu agenda saya bukanlah untuk jalan-jalan melainkan untuk mengikuti konfrensi tingkat ASEAN tentang Hukum Persaingan Usaha (ASEAN Competition Conference) selama dua hari, tanggal 15-16 Nopember bertempat di Padma Resort Legian. Awalnya saya ragu untuk mengikuti acara tersebut, karena pastilah tidak menyenangkan jika pergi ke “surga turis” sendiri tanpa teman. Berpikir ini adalah kesempatan bagus akhirnya saya mengiyakan perintah atasan untuk mengikuti agenda tersebut dan memberanikan diri pergi ke Bali sendiri.

Meski dengan waktu yang sangat mepet, segala persiapanpun berhasil dilakukan. Pesan tiket, booking hotel dan menghubungi beberapa teman yang ada di Bali, berharap semoga saja ada teman jalan-jalan disana. Karena jadwal acaranya agak padat, saya memutuskan untuk berangkat hari senin dari bandara Abdurrahman Saleh Malang (14) dan pulang hari kamis (17), ini untuk menghindari kelelahan dan agar saya punya waktu cukup untuk jalan-jalan. Panitia menyarankan untuk menginap ditempat penyelenggaraan konfrensi, tapi karena Padma Resort adalah Hotel bintang lima di kawasan Legian dengan rate paling murah permalamnya Rp.1.500.000,- saya harus mencari tempat lain yang lebih murah untuk menghemat biaya.

Agak susah mencari hotel pada waktu itu, karena di Bali sedang berlangsung beberapa ASEAN Summit yang merupakan rangkaian dari acara KTT ASEAN yang semua digelar di Bali. Setelah hunting sana sini akhirnya menemukan Hotel Amaris di Jalan Padma Utara untuk menginap. Murah dan lokasi yang tidak jauh dari tempat konfrensi.

Sesampainya di Bali saya berusaha menghubungi berberapa teman, tapi sayang tak satupun yang sedang free. Teman yang saya harapkan bisa menemani selama di Bali sedang berhaji, teman yang satunya lagi sedang sibuk dengan bisnis barunya ada juga yang sedang berlembur. Inilah resikonya jika datang saat weekday banyak rutinitas yang tidak bisa ditinggal.

Karena tak berhasil menghubungi seorang temanpun akhirnya saya memutuskan untuk berpetualang sendiri. Sendirian bukan berarti tidak bisa menikmati bali bukan???
Petualangan diawali dengan jalan-jalan di kawasan Legian malam hari. Legian tampak benar-benar hidup saat malam hari, pada siang hari biasanya para bule sibuk surfing di pantai legian atau kuta. Kawasan legian adalah kawasan favorit para turis manca negara, hampir 80% pengunjung legian adalah turis mancanegara. Jadi dapat dibayangkan, disepanjang jalan legian banyak hotel dan bar dan semua fasilitas standar turis.

Sarana transportasi sangat mudah didapat, taxi dan ojek ready 24 jam. Disana juga banyak tempat penyewaan motor, tapi berhubung saya tidak tahu jalan di Bali dan tidak memiliki SIM, akhirnya saya putuskan untuk berjalan kaki saja, sekalian cuci mata. Gak kebayang bagaimana jadinya jika saya keliling-keliling tidak bisa kembali?? Pasti akan merepotkan petugas kepolisian.

Jalan-jalan di sekitar legian memang sangat menyenangkan banyak restoran dan tempat-tempat souvenir yang menarik untuk dikunjungi (untuk turis lokal saya sarankan tidak membeli oleh-oleh di jalan legian, harganya lebih mahal dibandingkan toko oleh-oleh pada umunya –misalnya Krisna- karena harganya disesuaikan dengan kantong turis asing). Tapi sangatlah tidak nyaman jika disepanjang jalan banyak orang menyapa: Assalamualaikum bu haji, Assalamualaikum neng, mau kemana neng? Mau diantarkah? Mungkin inilah resiko jalan sendiri ditempat ‘aneh’ dan berbusana ‘aneh’. Memang agak aneh melihat penampilan saya, ditengah-tengah orang yang yang berbusana terbuka terdapat seorang muslimah berjilbab. Tapi biarlah, bagaimanapun tatapan mereka dan tidak mungkin hanya karena pandangan itu saya keluar hotel dengan hotpan.

Setiap ditanya orang, kok sendiri mbak? Mana temannya? Saya tidak pernah mengaku sendiri, saya selalu beralasan teman saya sudah pergi atau ditunggu teman disuatu tempat. Menurut saya agak membahayakan jika kita mengaku sendirian di tempat asing. Sendirian di tempat asing adalah sasaran empuk bagi orang iseng. Gak kebayang kan kalo saya diculik??? Hehehehe

Perjalanan malam itu berakhir disebuah restoran ikan bakar di jalan Padma Legian, saya lupa nama restoran itu, kalo tidak salah ingat ada unsur kata dewata-nya. saya sangat berhati-hati memilih makanan selama di bali, karena takut semua makanan tidak halal, jadi saya putuskan untuk memilih restoran yang menyediakan menu ikan (kebanyakan restoran di legian menyediakan menu steak dan sejenisnya). Demikian juga dengan minuman, saya hanya berani minum jus, teh atau kopi, yang lain tidak.

Malam berikutnya -setelah acara konfrensi berakhir- saya memutuskan untuk mengunjungi toko pusat oleh-oleh khas Bali, membeli beberapa barang sebagai buah tangan untuk teman-teman di Malang. Kali itu saya pergi ke Khrisna, pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Bali. Khrisna memiliki beberapa toko cabang, salah satunya di sunset road kuta, tidak terlalu jauh dengan tempat saya menginap, hanya menghabiskan 18.000,- ongkos taksi dari jalan Padma Utara.

Rasanya tidaklah afdol jika berkunjung ke Bali tapi tidak menyentuh pasirnya. Sebelum pulang, pagi harinya saya sempatkan untuk mengunjungi pantai legian. Tidak jauh dari hotel, hanya 10 menit jalan kaki. Agar tidak mengundang perhatian, saya pergi ke pantai pukul 6.00 WITA, pagi adalah waktu terhening legian. Toko-toko masih tutup bahkan baru saja tutup, hanya sebagian kecil bule yang jogging. Pantai legian masih sepi, matahari masih muncul malu-malu. Sebenarnya pantai legian akan sangat indah dinikmati sore hari, saat matahari terbenam. Tapi karena acara konfrensi berakhir saat matahari telah terbenam, saya hanya punya kesempatan menikmati pantai Legian saat pagi.

Memang tidak lazim jalan-jalan sendiri di Bali, apalagi untuk orang seperti saya (mungil dan berjilbab). Andai saya ditugaskan ke Bali lagi sendiri saya akan pikir dua kali, karena Bali adalah tempat yang amat sayang untuk dinikmati sendiri.

Jumat, 11 November 2011

1.1-1.1-1.1 (Tentang Angka Satu)

Tanggal yang cantik terdiri dari enam angka satu. Aku suka angka satu, mungkin karena namaku mengandung kata satu (Ula: satu/pertama). Bagiku satu adalah permulaan, titik balik, angka sempurna, tunggal dan independen.

Dia tidak perlu awalan untuk menjadikannya, karena satu itu sendiri adalah awal yang diikuti oleh dua dan seterusnya. Satu adalah titik balik dimana semua berawal dari satu dan kembali menjadi satu. Satu adalah sempurna karena dia adalah bilangan prima yang tak bisa dibagi, satu adalah utuh dan seutuhnya satu. Independensi Tuhan termanifestasi dalam angka satu, bahwa Tuhan itu adalah satu yang ada, awal dan sempurnya (Allohu Ahad: Alloh itu satu). Tapi kadang angka satu juga mewakili kesedihan dan kesendirian.

Hari ini tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, tanggal yang memiliki enam angka satu. Banyak yang meyakini ini adalah tanggal keberuntungan karena banyak memiliki angka yang sama, tapi mungkin alasan yang paling logis adalah tanggal ini unik dan mudah diingat. Banyak yang menggunakan tanggal ini untuk mengadakan moment penting seperti pernikahan, kelahiran, khitanan bahkan jadian. Menurutku setiap tanggal atau hari sama saja, kata SpongeBob everyday is the best day ever, setiap hari adalah hari baik. Tuhan telah memberi kejutan disetiap harinya.

Tak ada yang begitu spesial dihari jum’at tanggal 11-11-2011 ini. Aku masih menjalani rutinitas seperti biasa dengan jadwal yang agak sedikit padat. Yang membuat sedikit bersemangat hari ini mungkin karena cuaca cerah tidak hujan seperti pagi-pagi sebelumnya. Dulu aku ingin menikah dihari ini dan tanggal ini, karena aku menyukai angka satu, tapi mungkin Sang Maha Satu belum mengijinkan kami menyatu. What ever will be, will be...

Tanggal ini dan hari ini, yang unik ini mungkin hanya akan terjadi satu kali, tapi pasti akan lebih banyak hal unik lain di tanggal dan hari yang lain.


NB: menikmati sisa-sisa sensasi 11-11-11 dengan sebatang Whittakers dark chocolate

Minggu, 21 Agustus 2011

Pintu Itu Bernama OSPEK

Ospek akronim dari orientasi pendidikan. Dikampus saya ospek dikenal dengan istilah PK2 MABA –saya kurang tau juga apa artinya, tapi tujuannya kurang lebih untuk mengenalkan kepada mahasiswa baru tentang apa yang namanya kampus dan isinya. Semacam welcome ceremony bagi mahasiswa baru. Tahun ini kampusku menerima kurang lebih 14.000 maba, angka ini naik sekitar 25% dari tahun sebelumnya. sebuah angka yang fantastis menurut saya mengingat daya tampung dan mahalnya biaya pendidikan disana.

Ini ketiga kalinya saya mengikuti ospek dengan posisi yang berbeda, pertama tentu saja sebagai mahasiswa baru peserta ospek, kedua sebagai panitia ospek dari mahasiswa, dan ketiga sebagai dosen penyelenggara ospek, dosen baru lebih tepatnya.

Perubahan posisi dalam kegiatan ospek juga berpengaruh pada cara pandang saya terhadap ospek, saat menjadi Maba pada tahun 2003, tak ada apapun yang dipikirkan kecuali mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias meski terkadang kesal karena harus begadang mengerjakan tugas yang konyol dari kakak senior.

Tahun 2004-2005 saya menjadi panitia ospek dari mahasiswa. Cara pandangpun berubah, saya menempatkan diri sebagai senior, tidak lagi menjadi ‘obyek’. Pada fase ini, pola pendekatan yang digunakan adalah senioritas, pola hubungan yang dibangun adalah senior-junior, kakak-adik. Pola hubungan seperti inilah yang sering menimbulkan arogansi dikalangan kakak paitia ospek –sebagai senior- yang tidak mau disalahkan, anti protes dan cenderung mengintimadasi. Saya pikir tak ada yang salah dengan itu, selama nilai yang ingin dibangun adalah cinta almamater dan penguatan karakter. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan norma hukum dan etika yang ada.
Dalam pada itu, sebenarnya ada pertarungan nilai disana, ada muatan nilai-niai yang ingin disampaikan senior. Menanamkan jiwa pemberontak, jiwa berani untuk melawan, jiwa ketidaksukaan terhadap kekerasan, sehingga jika pada saat pelaksanaan ospek ada maba yang berani menantang senior, justru senior senang karena provokasinya berhasil dan doktrinasi itu berjalan.

Tahun ini, saya menjadi bagian dari penyelenggara kegiatan ospek, dosen panitia/pengawas ospek tepatnya. Sangat berbeda dengan sebelumnya, pada fase ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akademis birokratif. Pembelajaran dan pengenalan birokrasi. Karena dosen merupakan bagian dari birokrasi kampus maka ospek –bagi dosen- adalah masa pengenalan kampus ‘birokratistik’ dan seluk beluk dunia akademis. Kurang lebih berisi tentang motifasi maba untuk semangat berkuliah, menjadi mahasiswa yang baik mengikuti seluruh kegiatan perkuliahan, tidak membuat masalah, dan lulus tepat waktu dengan nilai bagus.

Secara keseluruhan ospek khususnya difakultas saya -hukum - sangat jauh berbeda dengan ospek jaman saya dulu. Sudah tak ada lagi suara pentungan yang menggelegar di sepanjang tangga, lorong dan ruang kelas, tak ada bentakan atau teriakan di depan kuping, tak ada kata “kamu mau mati ya?” dari kakak senior jika melakukan kesalahan. Karena memang cara-cara seperti itu sudah tidak relevan untuk digunakan dan tidak bermartabat. Semua berjalan soft dan berorientasi pendidikan an-sich.

Adakah yang salah dengan itu? Saya rasa juga tidak, karena tujuan utama mahasiswa adalah belajar dan berkarya. Tetapi terasa ada yang kurang bagi saya, mahasiswa saat ini tidak diperkenalkan dan ditanamkan jiwa “ke-maha-siswaan”, jiwa yang tidak anti sosial, jiwa yang penuh mimpi indah akan perubahan, jiwa yang kritis, dinamis dan humanis. Kali ini rasanya ospek terlalu manis, terlalu banyak gula akademis yang disuguhkan. Kurang garam. Tak diceritakan bagaimana susahnya menentukan pilihan selama kuliah atau serunya menjadi mahasiswa dengan semangat idealisme yang menggebu-gebu.

Ospek selalu menyimpan cerita, setiap generasi menyimpan ceritanya sendiri, mugkin bagi sebagian mahasiswa baru ospek hanya hal biasa saja, rutinitas pra kuliah yang harus dilalui, tak berkesan. Tapi mungkin bagi sebagian mahasiswa lainnya ospek adalah pintu, menuju ruang baru yang penuh dengan warna. Pintu yang akan merubah hidupnya selama 4 tahun kedepan atau bahkan sepanjang karirnya.

Selamat datang mahasiswa baru FH 2011.
Fiat Justicia Ruat Coelum (sekalipun langit runtuh hukum harus ditegakkan)

Puasa bersama Nenek

Ini pertama kalinya aku menjalankan ibadah puasa di tanah leluhurku, meski dulu aku pernah menghabiskan masa SMP disana tapi saat bulan puasa aku memilih mudik ke rumah ibu di Jember. Cuaca di madura memang tidak terlalu bersahabat saat bulan puasa, panas, tapi pengalaman pertama ini sangat penyenangkan.

Saat bulan Ramadhan, rumah kami menjadi pusat kegiatan anak-anak. Orang Madura dikenal sangat religius, saat bulan ramadhan sekolah madrasah (SD) libur, anak-anak banyak menghabiskan waktu di masjid atau mushalla, karena rumah nenek berselebahan dengan masjid terbesar di kampung dan dirumah nenek juga terdapat mushalla khusus putri jadilah rumah kami sangat ramai saat bulan puasa.

Kegiatan mengaji dimulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 15.00 sore, waktu lima jam itu terasa sebentar karena mereka tidak hanya mengaji, mereka juga bisa bermain dan nonton tv.

Anak-anak yang mengaji di rumah nenek sebagian besar berasal dari keluarga pra-sejahtera, dan tidak punya televisi, ada juga yang sudah yatim piatu atau ditinggal orang tuanya menjadi TKW/I di luar negeri. Kadang mereka tak mau pulang hingga menjelang maghrib, kami sering menyiapkan makanan ekstra buat mereka.

Bagaimana denganku? apa yang aku lakukan? Tak banyak yang aku lakukan disana, seperti biasanya aku menjadi baby sitter, menemani sepupuku yang paling bungsu bermain, mengajarinya berjalan dan menjaganya dari hal-hal yang membahayakan, sementara ayahnya mengajar mengaji anak-anak dan ibunya memasak. Sesekali aku juga ikut bermain bersama anak-anak, atau membantu nenek dan tante menyiapkan hidangan buka puasa dan tadarrus.

Menyenangkan sekali melihat anak-anak semangat mengaji, serasa seperti dalam lagu “Suasana di Kota Santri” ;)

Suasana di kota santri
Asik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji.

Mungkin yang agak menyebalkan adalah peringatan Imsaknya yang –keterlaluan- dini, mulai pukul 12.00. menurut takmir masjidnya, ini dilakukan untuk membangunkan orang agar mau shalat malam dan memasak untuk makan sahur.

Diantara semua alarm alam pembangun sahur seperti ayam jago, jangkrik, kodok, tokek dan kawan-kawan, yang paling menggelegar dan berhasil membuatku langsung terperanjat bangun adalah suara sapi tetangga sebelah yang suaranya seperti paduan suara sedang konser dengan sound 5000 mega volt, maooooooooo....., keras banget. Aku sempat pengen mengabadikan suara sapi-sapi itu sebagai ring tone di hapeq, tapi aku urungkan karena sapinya ternyata sangat galak.

Puasa bersama nenek, kakek, dan keluarga disana, mungkin akan menjadi agenda tahunanku. Untuk saat ini aku masih belum berbuat banyak untuk anak-anak itu, tunggulah tahun depan, aku akan datang lagi...

Selasa, 26 Juli 2011

Bosan dengan Berita

Sangat menarik menyaksikan program JLC TV one tadi malam (26/7/2011) yang mengangkat tema “salahkah media dengan pemberitaan Nazarudin?” keluarga Nazaruddin menyayangkan pemberitaan media yang terlalu berlebihan dan dianggap tidak obyektif, Komisi Penyiaran Indonesia mengingatkan media untuk lebih berhati-hati dalam mencari sumber informasi dan memberitakannya kepada masyarakat, sedangkan media sendiri dituntut untuk memberikan informasi seluar-luasnya bagi masyarakat. Terlepas dari itu semua, jika boleh jujur saya mulai jenuh dengan pemberitaan media seputar kasus Nazarudin, bagaimana tidak? Jika setiap hari media massa –khususnya televisi- terus mengekspose kasus Nazarudin yang semakin mbulet.

Sebagaimana ditulis John B. Thompson dalam Kritik Ideologi (2006:295), saat ini kita hidup ditengah masyarakat dimana penyebaran bentuk-bentuk simbol –informasi dan nilai- dengan menggunakan media elektronik telah menjadi suatu yang lazim, dan dalam hal tertentu menjadi model transmisi budaya. Kebudayaan modern pada tingkat yang lebih tinggi adalah sebuah kebudayaan yang dimediasi secara elektronik dan model-model transmini secara oral dan tulisan hanya sekedar pelengkap yang dalam berbagai sisi digantikan oleh model transmisi yang didasarkan pada media elektronik.

Setiap keberadaan media televisi memunculkan sebuah kategori atau beberapa kategori tindakan dengan tujuan dapat ditelivisikan, artinya dianggap layak ditayangkan atau ditransmisikan melalui siaran televisi. Sayangnya saat ini batasan nilai kelayakan, pantas atau tidak pantas untuk disiarkan telah memudar, tuntutan media untuk selalu menghadirkan berita secara cepat seringkali melampaui nilai akurasi dan etika yang ada. Yang menjadi prioritas adalah bagaimana menghadirkan informasi ter-update- pada pemirsanya.

Berpedoman pada suatu konsep sederhana dalam dunia jurnalistik bahwa penyampaian atas suatu informasi haruslah didasarkan pada sumber terpercaya dan cover both side artinya pers/media harus menyajikan informasi dari berbagai perspektif dan sumber terpercaya. Tapi barangkali untuk saat ini media harus melakukan cover all side karena menyangkut kepentingan banyak orang. Lalu sempatkan media melakukan cover all side jika waktu yang disediakan hanya sepersekian detik? Bagaimana cara media melakukan klarifikasi informasi jika informasi dapat berubah setiap detiknya?

Dalam dunia jurnalistik dikenal adagium bad news is gud news, kasus-kasus miring cenderung lebih banyak menyita perhatian publik, dengan kata lain memberitakan keburukan lebih menguntungkan bagi media. Mungkin karena alasan inilah keluarga Nazarudin menganggap media tidak obyektif dan lebih banyak mengungkap keburukan seseorang saja dan mengarah pada caracter assanination.

Menurut saya, media juga tidak sepenuhnya salah atas pemberitaan Nazarudin karena masyarakat berhak atas akses Informasi seluas-luasnya. Namun demikian alasan kebebasan pers tidaklah harus menafikan unsur kebenaran dan etika dalam penyampaian informasi. Jika hal ini tidak diperhatikan dalam titik tertentu akan terjadi pesimisme massal dalam masyarakat karena setiap harinya disuguhi dengan berita tidak menyenangkan tentang kondisi negara yang semakin hari semakin memprihatinkan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika mental pesimisme terus muncul, yang akan terjadi adalah the abstance of goverment karena nilai legitimasi rendah, masyarakat tidak beraturan, tidak ada optimisme, persatuan buyar, mudah diprovikasi, menjadi bodoh dan kacau.

Mungkin masyarakat membutuhkan media alternatif yang dapat memberikan sedikit pencerahan dan semangat. Dalam hal ini saya sependapat dengan Deni Indrayana dalam ceramahnya di kampus beberapa waktu lalu, beritakanlah apa adanya sampaikan kalau memang itu buruk tapi jangan lupa untuk selalu menyampaikan berita baik. Bad news is bad news good news is good news.

Tidak dapat disangkal media massa merupakan alat propaganda sosial yang paling efektif. Meluasnya akses masyarakat terhadap media serta didukung dengan teknologi informasi yang semakin aksesable menjadikan transformasi nilai maupun ideologi akan semakin mudah. Jika Rosco Pound menyebutkan fungsi hukum as a tool of social engineering maka media yang tepat untuk menggiring opini yang berujung pada perubahan perilaku adalah televisi.

Terlepas dari kepentingan politik dibalik pemberitaan Nazarudin, masyarakat yang cerdas informasi akan lebih selektif dalam menyaring arus nilai yang ditrasnformasikan media massa dan tidak mudah menerima sebuah kebenaran yang relatif. Karena semua memang tidak bebas nilai, maka pintar-pintarlah menentukan sudut pandang.

Bollymania




Lucu sekali rasanya mendapati diri saya menyanyi lagu India. Akhir-akhir ini saya kembali bersosialisasi dengan bollywood, ini semua gara-gara housmate baru di tempat kos yang bollymania abiz. Dia seperti kamus bollywood berjalan, tanyakan apa saja tentang film atau lagu india padanya, dia akan bercerita lengkap dengan lagunya. Dia tidak pernah melewatkan film India setiap selasa dan rabu di MNC TV meski dia sudah hafal jalan ceritanya. Jika sabtu dan minggu jam 11 sampai jam 2 siang dia akan setia mendengarkan lagu-lagu India di radio Tidar Sakti dan me-request lagu kesukaannya. Melihatnya, mengingatkan saya pada teman semasa SMA yang juga penggila bollywood.

Harus saya akui Briptu Norman dengan video lipsingnya sangat berperan dalam menghidupkan kembali dunia bollywood di Indonesia yang sempat tenggelam. Film film India sempat merajai hiburan Indonesia pada tahun 1990-an, dan puncaknya setelah adanya Film Kuch-Kuch Ho Ta Hai pada sekitar tahun 1995 yang diikuti juga dengan menjamurnya rental film. Namun sejak sekitar tahun 2002 minat masyarakat terhadap film india mulai menurun dan beralih pada film-film atau drama asia.

Sejak fenomena Briptu Norman film-film India mulai duputar lagi di televisi. Meski film-film yang ditayangkan bukan film baru dan hanya mengulang-ulang dari film-film jadul yang pernah booming, setidaknya bisa sedikit mengobati kerinduan atas sosok “Rahul”

Film India selalu memunculkan tradisi lewat nyanyian dan tariannya. Nyanyian dan tarian adalah faktor terpenting dari film India, karena dari sinilah sebenarnya emosi cerita diinterpretasikan. Ketegangan akan digambarkan dengan halilintar, angin kencang dan diikuti oleh hujan deras, jika sedang jatuh cinta sepasang kekasih akan menyanyi dihamparan kebun bunga yang luas sambil kejar-kejaran dan bersembunyi di balik pepohonan atau berlari-lari kecil di pinggir pantai yang eksotis. Unsur air, angin, dan bunga tidak pernah lepas dari adegan-adegan di film India. Karena itulah film India terkenal lebay, mendeskripsikan sesuatu adegan yang dramatis dan syair lagu yang hiperbolis. Seperti lirik lagu ini:

Tu hai meri hai barkart
Tu hai meri ibadat
Aur kuch na janu
Pas it na hai janu
Tujh mein rab dikhta hai ya ra mein kya karu
Sajhde sarjukhta hai ya ra mein kya karu
(Rab Ne Bana di Jodi)

terjemahan bebasnya kurang lebih seperti ini:
kamu adalah anugerah, kamu adalah ibadah, aku tidak tahu yang lain lagi, kecuali aku melihat Tuhan dalam dirimu, aku tidak tahu harus bagaimana aku hanya bisa berlutut dihadapanmu...

Hal yang tidak saya suka dari film India adalah tidak jujur, meskipun selalu menampilkan tradisi tapi pengambilan gambar dilakukan diluar India seperti London, New Zeeland, Amerika dan tempat-tempat yang memiliki pemandangan alam yang indah, mungkin ini dapat dimaklumi mengingat India adalah Negara padat penduduk yang penataan kotanya kurang bagus.

Namun demikian, ada beberapa Film ini yang layak mendapatkan penghargaan dan wajib ditonton: Three Idiots, Slamdog Milionaire dan My Name Is Khan. Tiga film ini sangat inspiratif. Diantara semua aktor india yang ganteng-ganteng, saya mengagumi Syakh Rukh Khan karena meski sudah berumur dia tetap sexy dan kharismatik.

Ah sudahlah biarlah mereka bilang saya ini lebay karena menyukai film India, hidup ini terlalu singkat jika dilewatkan dengan hanya menyukai satu hal saja, sesekali menyukai hal yang aneh akan terasa menyenangkan. Hm hm... I love Bollywood ^^

Selasa, 05 Juli 2011

Jula-Juli, July

Bagi pelajar/mahasiswa Juli adalah bulan liburan, bulan refreshing, bulan jalan-jalan. Setumpuk rencana liburan sudah dipersiapkan. Banyak paket wisata ditawarkan, banyak film baru yang siap tayang dan tentunya gebyar diskon akan digelar di shoping mall-shoping mall.

Tapi sepertinya –lagi-lagi- tak ada libur bulan Juli buatku. Setumpuk sibuk bulan Juni masih akan terus berlanjut di bulan Juli demi menyambut bulan Agustus.

Karena masih tak bisa beranjak lama-lama, menonton film sampai puas akan menjadi liburan alternatif di bulan Juli. Teriring salam dan doa, semoga bisa kembali menikmati film-film hollywood di bioskop.

Selamat Berlibur.

Kamis, 30 Juni 2011

Menyukai Pria Ini


Nama lengkapnya Dennis Joseph O'Niel, lebih dikenal dengan nama Dennis Oh. Lahir di New York USA pada tanggal 29 Agustus 1981, dilahirkan dari hasil perkawinan campuran antara ayah keturunan Irlandia-Amkerika dengan Ibu seorang korea. Tinggi badan 188 cm dengan berat badan 83 kg, lulusan dari Savannah College og Art and Designe, sangat menyukai, traveling, menggambar, memasak dan fotografi.

Aku menyukainya sejak bermain dalam serial drama Witch Yu hee (Witch Amusement), dia tampak sangat seksi memerankan seorang koki yang sebenarnya tidak jauh beda dengan hobinya. Sebenarnya bukan kali pertama aku melihat Dennis, sebelumnya aku pernah melihatnya dalam serial drama East of Eden, tapi karena bukan sebagai pemeran utama aktingnya tidak terlalu menonjol.

Seperti kebanyakan penggemar aku mulai mengumpulkan gamba dan profil, browsing info seputar hobi, kegiatan terupdate hingga kehidupan pribadinya. Jika ditanya apa yang kusuka darinya, tentu secara fisik dia sangat representatif sebagai seorang super star, badan yang atletis, wajah yang ganteng dan senyum yang manis. Aku suka postur tubuh dan dandanannya yang maskulin (at least tidak berpolem seperi kebanyakan artis korea), dia juga pintar memasak dan hobi fotografi, tapi aku tidak suka tato salib yang segede gambreng di punggung kirinya.

Well, dia masuk daftar pangeran impian, dan aku telah menguncinya dalam walpaper hehehehe....

Minggu, 26 Juni 2011

Reuni

Reuni berasal dari kata re (kembali) dan union (menjadi satu), reuni berarti kembali menjadi satu. Umumnya reuni diadakan untuk mempertemukan kembali orang-orang yang telah lama tidak bertemu yang dulunya pernah hidup dalam suatu kelompok atau komunitas yang sama. Bisa juga reuni digunakan sebagai moment bertemu dengan orang-orang dimasa lalu untuk mengenang kembali masa-masa lalu, mencoba mengumpulkan kembali kepingan kenangan yang terlupa, momentum mengenang kembali romantisme sejarah.

Biasanya reuni diadakan pada periode waktu tertentu, bisa setahun sekali, saat hari raya, saat ulang tahun sekolah dan seterusnya.

Karena reuni menjadi ajang pertemuan banyak hal yang terjadi saat reuni. Bertemu, bersalaman, saling bertukar kabar, makan-makan, mengobrol, bergosip bla bla bla adalah agenda wajib saat reuni. Kadang bisa sangat seru, tapi tak jarang juga membosankan, tergantung adakah bahan menarik yang jadi trading topiknya atau siapakah yang ingin ditemui saat reuni.

Menurutku yang terpenting saat reuni adalah persiapan mental dan nyali. bersiap untuk bertemu dengan orang yang tak ingin ditemui (seperti: mantan pacar yang masih diharapkan tetapi tidak mungkin), menjawab pertanyaan yang tidak ingin dijawab (misalnya: kerja dimana sekarang? (bagi yang belum bekerja), kapan menikah? (bagi yang masih jomblo), atau mendengar kabar yang tidak ingin didengar (misalnya: mendengar mantan pacar yang ternyata sudah menikah lebih dulu) and so on...

Seiring kecanggihan teknologi dan merebaknya jejaring sosial lewat dunia maya, reuni tak lagi hanya dapat dinikmati setiap tahun atau pada waktu-waktu tertentu, tiap detik adalah ajang reuni di group BB, Fesbuk, Twiter and so on. Tak perlu menunggu setahun untuk tahu kabar terbaru teman, cukup masuk ke group update status, buka forum chat, atau lihat profil. Info apapun bisa langsung dapat di share, tweet dan secara serta merta dapat di coment atau retweet. Nampaknya teknologi sudah benar-benar bisa melipat jarak, menjadi jembatan dan benang penghubung yang tak kasat mata.

How ever, aku lebih suka pertemuan. Bertemu secara langsung, bertatap mata, berjabat tangan dan berpelukan. Bisa merasakan dan mengekspresikan betapa senanganya aku bertemu denganmu, betapa rindunya aku ingin memelukmu, betapa inginnya aku mendengar ceritamu sambil menatap matamu yang berbinar-binar saat bercerita lucu, mendengar celotehmu atau melihat dahimu berkerut saat kau mengomentari penampilanku yang telah banyak berubah dan kitapun saling terbahak. Tentunya hal-hal semacam itu tidak dapat terpuaskan dengan hanya berkomen di fesbuk, menyelipkan tanda smile atau deretan kata “ha” yang panjang, bahkan dengan obrolan berjam-jam di ujung telpon sekalipun.

Maaf kawan kali ini aku absen, karena satu dan lain hal aku tidak bisa ber-reuni. Semoga ditahun depan aku masih punya nyali untuk bertemu kalian.