Sudah masuk bulan ke sebelas, hampir dipenghujung tahun.
Jadwal sudah tersusun rapi, sepertinya akan banyak kejutan dibulan hujan ini...
apapun yang akan terjadi dibulan kesebelas ini, semoga hatiku sesejuk hujan dan sehangat matahari....
Rabu, 02 November 2011
Go To d' Dentist (Part II)
Setelah sebelumnya check up pertama berjalan lancar, kini saatnya menerukan pengobatan. Kali ini agendanya membuka sumbatan pada lubang gigiku. Sebelumnya gigiku diberi sumbatan kapas dengan campuran obat untuk mematikan syarat, kali ini waktunya membuka kembali sumbatan itu dan melihat apakah syarat gigi benar-benar sudah mati.
Kunjungan kedua ini aku sudah bisa mengendalikan emosi, tidak segugup kunjungan pertama, mungkin karena dokter Gatot telah meyakinkan berulangkali bahwa apapun yang akan dia lakukan tidaklah sakit. Aku hanya perlu membuka mulut dan relaks, maka semua akan berjalan baik.
Dengan tangannya yang sudah terampil Sang Dokter membuka sumbatan itu, membersihkan sisa-sisa sumbatan hingga bersih dan lagi-lagi menyuruhku berkumur dengan air yang telah disediakan disampingku.
Tak lama kemudian barulah dia mengeluarkan sebuah alat, panjang yang tersambung dengan kabel listrik. Jika aku tidak salah mungkin alat itu didalamnya terdiri dari tiga bagian, bagian pertama semacam alat semprot mini yang berfungsi mengeluarkan air untuk membersihkan kotoran dalam gigi, bagian kedua tabung udara yang berfungsi memberikan tekanan udara saat air keluar, dan yang terakhir adalah semacam alat bor kecil yang bunyinya sungguh menakutkan.
Sewaktu alat itu dimasukkan kedalam mulutku sontak tubuhku yang awalnya relaks menjadi tegang, membayangkan mesin bor dimasukkan kedalam gigiku, aih sungguh mengerikan aku menutup mata dan berkali berteriak kecil. Tapi sang dokter terus saja mengoceh ini dan itu dan tetu saja dia bilang ini tidaklah sakit dan akan baik baik saja.
Alat semacam mesin bor itu ternyata digunakan untuk memotong sebagian gigiku. Lubang gigi diperbesar tujuannya agar lebih memberikan udara pada lubang gigi. Saat dilakukan pemotongan, suaranya sangat menakutkan semacam bunyi gergaji mesin.
Setelah proses pembersihan selesai, dokter Gatot menjelaskan langkah akhir yang harus dilakukan pada gigiku. Dia menyarankan dengan sedikit memekasa bahwa gigiku harus dicabut. Menurutnya gigiku yang berlubang sudah tidak bisa ditambal, menambal gigi tidak akan menyelesaikan masalah gigiku yang lubangnya sudah sangat dalam, dan lagi geraramku yang rusak itu seharusnya memang dibuang untuk memberikan ruang untuk geraham paling akhir tumbuh.
Entahlah aku tidak terlalu paham persoalan gigi. Aku juga tak punya kenalan dokter gigi yang bisa memberiku penjelasan secara komprehensip tentang masalah gigiku ini. mungkin untuk saat ini pendapat dokrer gatotlah yang paling jitu untuk masalah gigi dan aku mengiyakan saja.
Tapi dia tidak bisa melakukan pencabutan gigi pada hari itu juga, karena syarafku masih belum normal, kalo dipaksakan dicabut akan terasa sakit. Dokter Gatot menyarankan untuk kembali minggu depan atau selambat-lambatnya empat minggu kedepan, karena makin lama gigiku akan sakit kembali.
Untuk menghindari infeksi dan menjaga kebersihan gigi untuk sementara lubang gigi disumbat dengan kapas. Mungkin akan sedikit merepotkan jika harus bongkar pasang kapas untuk menutup lubang setiap kali makan, tapi itulah yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan lubang dari kuman dan sisa makanan, hingga nanti gigiku siap untuk dicabut.
Kunjungan kedua ini aku sudah bisa mengendalikan emosi, tidak segugup kunjungan pertama, mungkin karena dokter Gatot telah meyakinkan berulangkali bahwa apapun yang akan dia lakukan tidaklah sakit. Aku hanya perlu membuka mulut dan relaks, maka semua akan berjalan baik.
Dengan tangannya yang sudah terampil Sang Dokter membuka sumbatan itu, membersihkan sisa-sisa sumbatan hingga bersih dan lagi-lagi menyuruhku berkumur dengan air yang telah disediakan disampingku.
Tak lama kemudian barulah dia mengeluarkan sebuah alat, panjang yang tersambung dengan kabel listrik. Jika aku tidak salah mungkin alat itu didalamnya terdiri dari tiga bagian, bagian pertama semacam alat semprot mini yang berfungsi mengeluarkan air untuk membersihkan kotoran dalam gigi, bagian kedua tabung udara yang berfungsi memberikan tekanan udara saat air keluar, dan yang terakhir adalah semacam alat bor kecil yang bunyinya sungguh menakutkan.
Sewaktu alat itu dimasukkan kedalam mulutku sontak tubuhku yang awalnya relaks menjadi tegang, membayangkan mesin bor dimasukkan kedalam gigiku, aih sungguh mengerikan aku menutup mata dan berkali berteriak kecil. Tapi sang dokter terus saja mengoceh ini dan itu dan tetu saja dia bilang ini tidaklah sakit dan akan baik baik saja.
Alat semacam mesin bor itu ternyata digunakan untuk memotong sebagian gigiku. Lubang gigi diperbesar tujuannya agar lebih memberikan udara pada lubang gigi. Saat dilakukan pemotongan, suaranya sangat menakutkan semacam bunyi gergaji mesin.
Setelah proses pembersihan selesai, dokter Gatot menjelaskan langkah akhir yang harus dilakukan pada gigiku. Dia menyarankan dengan sedikit memekasa bahwa gigiku harus dicabut. Menurutnya gigiku yang berlubang sudah tidak bisa ditambal, menambal gigi tidak akan menyelesaikan masalah gigiku yang lubangnya sudah sangat dalam, dan lagi geraramku yang rusak itu seharusnya memang dibuang untuk memberikan ruang untuk geraham paling akhir tumbuh.
Entahlah aku tidak terlalu paham persoalan gigi. Aku juga tak punya kenalan dokter gigi yang bisa memberiku penjelasan secara komprehensip tentang masalah gigiku ini. mungkin untuk saat ini pendapat dokrer gatotlah yang paling jitu untuk masalah gigi dan aku mengiyakan saja.
Tapi dia tidak bisa melakukan pencabutan gigi pada hari itu juga, karena syarafku masih belum normal, kalo dipaksakan dicabut akan terasa sakit. Dokter Gatot menyarankan untuk kembali minggu depan atau selambat-lambatnya empat minggu kedepan, karena makin lama gigiku akan sakit kembali.
Untuk menghindari infeksi dan menjaga kebersihan gigi untuk sementara lubang gigi disumbat dengan kapas. Mungkin akan sedikit merepotkan jika harus bongkar pasang kapas untuk menutup lubang setiap kali makan, tapi itulah yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan lubang dari kuman dan sisa makanan, hingga nanti gigiku siap untuk dicabut.
Selasa, 25 Oktober 2011
Go To d' Dentist (Part I)
Ini kali kedua sepanjang hidupku, setelah terakhir waktu kelas 2 SD aku ke dokter gigi. Aku punya kenangan buruk tentang dokter gigi. Dulu waktu aku masih duduk di kelas 2 SD kira-kira usiaku masih 8 tahun aku ke dokter gigi, gigi susuku belum sepenuhnya copot, ada beberapa bagian yang belum copot sehingga menghambat pertumbuhan gigi yang lain, karena itulah mau tidak mau aku harus mencabut gigi itu. Pengalaman pertama yang buruk, entah mungkin karena obat “mati rasa”nya belum bereaksi atau entah apa sebabnya waktu sang dokter melakukan pencabutan gigi, rasanya sakit luar biasa. Dan sejak itulah saya berjanji tidak akan lagi mengunjungi dokter gigi.
Beberapa tahun yang lalu ada lubang kecil di geraham bawah sebelah kanan, karena keisenganku lubang itu aku congkel-congkel hingga lubangnya membesar. Karena lubangnya sudah membesar dan dalam maka saraf gigiku sering bereaksi dan menimbulkan sakit yang luar biasa. Sakit gigi ini sudah mulai mengganggu aktifitas, semakin lama semakin sering ngilu, maka mau tidak mau aku harus berkunjung (lagi) ke dokter gigi.
Awalnya sangat ragu, apakah aku memliki cukup keberanian untuk terlentang di atas tempat periksa dokter gigi dengan lampu sentrong dan alat-alat yang masih membuatku takut. Tapi jika aku takut maka beberapa hari kedepan aku terpaksa harus meninggalkan kelas. Aih betapa tidak elitnya jika mahasiswa tahu bahwa dosennya tidak pergi mengajar karena sakit gigi? ini pasti memalukan. Dengan segenap pertimbangan akhirnya aku memberanikan diri untuk pergi ke dokter gigi.
Awalnya aku pergi ke klinik kampus, disana ada dokter Lukman, dokter gigi yang ganteng dan baik hati, tapi sayang karena aku datang siang hari, antrian sudah full hingga sore. Aku berencana datang keesokan harinya untuk bertemu dokter Lukman, tapi malangnya gigiku tidak mau berkompromi, nyilunya semakin menjadi-jadi, gigiku harus segera ditolong. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke klinik dokter Gatot yang tidak jauh dari tempat kosku. Sepertinya dokter Gatot adalah doter gigi yang cukup terkenal, setiap aku lewat depan tempat prakteknya, selalu penuh antrian orang yang ingin diperiksa giginya.
Klinik dokter Gatot buka mulai jam 06 sore, setelah sholat maghib aku langsung meluncur ke klinik dan mendaftar untuk diperiksa, karena sudah ada beberapa yang datang sebelum aku, maka aku harus menunggu beberapa antrian. Hatiku deg-degan, tiba-tiba gigiku sudah tidak sakit, entah mungkin ini efek dari nerves yang berlebihan hingga sanggup mengeliminasi rasa sakit.
Tibalah giliranku, aku tidak berani masuk sendiri, teman kosku yang baik hati menemaniku masuk ke ruang periksa. Dokter Gatot sangat berwibawa, aku tidak tahu persis wajahnya karena dia mengenakan masker, dari tatapan mata dan suaranya, sangat terlihat bahwa dia adalah seorang dokter gigi yang berpengalaman dan profesional. Dengan senyumnya dia mempersilahkan kami masuk. “Santai saja mbak cantik, jangan tegang, ini bukan pertama kalinya ke dokter gigi kan?” Mungkin wajahku terlalu jujur untuk menyembunyikan ketegangan, aku membalas dengan senyum kecil “ah tidak dokter ini yang kedua kalinya sejak SD. Hehehehe....
Setelah melakukan interogasi singkat, dan mengetahui keluhanku, sang Dokter menyuruhku berbaring di tempat periksa. Yup inilah tempat eksekusi paling mematikan bagi gigi-gigi bermasalah. Seperti yang pernah anda sekalian lihat di televisi atau gambar atau dari manapun sumbernya, tempat dokter gigi dimanapun kurang kebih sama.
Dia mulai menjalankan tugasnya, menyuruhku berkumur, lalu buka mulut, mulailah alat seperti sendok kecil dimasukkan kedalam mulutku, tujuannya untuk lebih memudahkan untuk melihat gigiku yang bermasalah yang letaknya sangat terpencil di geraham bawah sebelah kanan. Mulailah lampu sentrong dinyalakan tepat di atas mulutku, lalu dia mengambil alat seperti penjempit kecil yang lancip lalu membersihkan kotoran yang menumpuk di lubang gigiku. Dia melakukan semuanya dengan cekatan sambil megobrol. Inilah keahlian yang harus dimiliki oleh seorang dokter gigi, pintar megalihkan perhatian. Dengan mengajak pasien bercerita sang pasien akan sedikit melupakan rasa sakit pada giginya. Dia berkali-kali meyakinkan aku bahwa ini tidak akan sakit, tapi tetap saja beberapa kali aku mengaduh kesakitan.
Setelah selesai tahap pembersihan dia mulai menjelaskan secara detail masalah gigiku, bahwa ternyata aku memiliki jumlah gigi yang lebih sedikit dari jumlah yang seharusnya dimiliki manusia dewasa. Aku hanya memiliki 29 gigi dari 32 gigi yang seharusnya aku punya. Bagian mana yang kurang? Ternyata aku hanya memiliki 4 geraham bawah (molar) dari yang seharusnya 6, 3 untuk geraham bawah kanan dan 3 geraham bawah sebelah kiri, sedangkan aku hanya memiliki masing masing 2 untuk geraham kanan dan kiri. Geraham ketigaku tidak bisa tumbuh karena tidak cukup space untuk tumbuh, dia ada tapi tidak bisa bertumbuh.
Lalu, apa yang harus dilakukan dengan gigiku sekarang? Dia menjelaskan langkah pertama yang dia lakukan pada gigiku adalah menghilangkan rasa sakitnya dengan mematikan sarafnya. Upaya mematikan syaraf ini adalah langkah awal untuk mengobati gigiku. Agar gigi tidak lagi ngilu, sarafnya harus dimatikan. Tidaklah sulit untuk melakukan itu, dia menaruh semacam kapas yang dibubuhi beberapa cairan dan memasukkan kedalam lubang gigiku.
Awalnya sungguh sangat sakit. Dia bilang ini hanya awal nanti akan lebih sakit lagi. Dia memberiku resep obat penghilang rasa sakit itu. Obat itu harus segera diminum karena tudak lama lagi cairan pembunuh saraf yang dalam kapas itu mulai bereaksi dan rasanya akan sangat sakit dan ngilu. Dia juga menyuruhku kembali ke klinik besok malam untuk memeriksa saraf dan membuka kapas yang menutupi lubang gigiku.
Sepulang dari klinik aku segera menuju apotek. Celakanya lalu lintas cukup ramai, aku terjebak beberapa menit di lampu merah, belum sampai ke apotek, obat itu bereaksi dengan cepat, gigiku sakit tak karuan, tak bisa menahan sakit hingga mengeluarkan air mata. Sesampainya di apotek, segera aku menunjukkan resep dokter pada pelayan apotek, melihat wajahku yang miris menahan sakit, dia segera memberikan obat itu dan menyarankan untuk segera meminumnya.
Celaka masih berlanjut, aku bermasalah dengan minum obat, aku tidak bisa meminum obat tanpa “makanan pengiring”. Aku masih pontang panting kesakitan memegangi pipiku yang rasanya mau meledak, teman yang mengantarkan aku ikutan panik, tanpa pikir panjang dia mengambil minuman dari lemari pendingin di ruang tunggu apotek dan menyuruhku minum. Aih sungguh sakit bukan kepalang, perpaduan air dingin dengan obat pemati syaraf sungguh dahsyat, mukaku pucat seketika tak kuat menahan sakit aku nyaris pingsan.
Temanku segera membawaku pulang, memberiku segelas air hangat dan sepotong roti agar aku bisa meminum obat itu segera. Beberapa menit kemudian perlahan aku sudah bisa bernafas lega, tidak lagi memegangi pipi dan bisa kembali tersenyum manis seperti semula. Obat ini benar-benar ces pleng, meskipun ada sedikit rasa mengganjal dalam mulutku, sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. :)
Beberapa tahun yang lalu ada lubang kecil di geraham bawah sebelah kanan, karena keisenganku lubang itu aku congkel-congkel hingga lubangnya membesar. Karena lubangnya sudah membesar dan dalam maka saraf gigiku sering bereaksi dan menimbulkan sakit yang luar biasa. Sakit gigi ini sudah mulai mengganggu aktifitas, semakin lama semakin sering ngilu, maka mau tidak mau aku harus berkunjung (lagi) ke dokter gigi.
Awalnya sangat ragu, apakah aku memliki cukup keberanian untuk terlentang di atas tempat periksa dokter gigi dengan lampu sentrong dan alat-alat yang masih membuatku takut. Tapi jika aku takut maka beberapa hari kedepan aku terpaksa harus meninggalkan kelas. Aih betapa tidak elitnya jika mahasiswa tahu bahwa dosennya tidak pergi mengajar karena sakit gigi? ini pasti memalukan. Dengan segenap pertimbangan akhirnya aku memberanikan diri untuk pergi ke dokter gigi.
Awalnya aku pergi ke klinik kampus, disana ada dokter Lukman, dokter gigi yang ganteng dan baik hati, tapi sayang karena aku datang siang hari, antrian sudah full hingga sore. Aku berencana datang keesokan harinya untuk bertemu dokter Lukman, tapi malangnya gigiku tidak mau berkompromi, nyilunya semakin menjadi-jadi, gigiku harus segera ditolong. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke klinik dokter Gatot yang tidak jauh dari tempat kosku. Sepertinya dokter Gatot adalah doter gigi yang cukup terkenal, setiap aku lewat depan tempat prakteknya, selalu penuh antrian orang yang ingin diperiksa giginya.
Klinik dokter Gatot buka mulai jam 06 sore, setelah sholat maghib aku langsung meluncur ke klinik dan mendaftar untuk diperiksa, karena sudah ada beberapa yang datang sebelum aku, maka aku harus menunggu beberapa antrian. Hatiku deg-degan, tiba-tiba gigiku sudah tidak sakit, entah mungkin ini efek dari nerves yang berlebihan hingga sanggup mengeliminasi rasa sakit.
Tibalah giliranku, aku tidak berani masuk sendiri, teman kosku yang baik hati menemaniku masuk ke ruang periksa. Dokter Gatot sangat berwibawa, aku tidak tahu persis wajahnya karena dia mengenakan masker, dari tatapan mata dan suaranya, sangat terlihat bahwa dia adalah seorang dokter gigi yang berpengalaman dan profesional. Dengan senyumnya dia mempersilahkan kami masuk. “Santai saja mbak cantik, jangan tegang, ini bukan pertama kalinya ke dokter gigi kan?” Mungkin wajahku terlalu jujur untuk menyembunyikan ketegangan, aku membalas dengan senyum kecil “ah tidak dokter ini yang kedua kalinya sejak SD. Hehehehe....
Setelah melakukan interogasi singkat, dan mengetahui keluhanku, sang Dokter menyuruhku berbaring di tempat periksa. Yup inilah tempat eksekusi paling mematikan bagi gigi-gigi bermasalah. Seperti yang pernah anda sekalian lihat di televisi atau gambar atau dari manapun sumbernya, tempat dokter gigi dimanapun kurang kebih sama.
Dia mulai menjalankan tugasnya, menyuruhku berkumur, lalu buka mulut, mulailah alat seperti sendok kecil dimasukkan kedalam mulutku, tujuannya untuk lebih memudahkan untuk melihat gigiku yang bermasalah yang letaknya sangat terpencil di geraham bawah sebelah kanan. Mulailah lampu sentrong dinyalakan tepat di atas mulutku, lalu dia mengambil alat seperti penjempit kecil yang lancip lalu membersihkan kotoran yang menumpuk di lubang gigiku. Dia melakukan semuanya dengan cekatan sambil megobrol. Inilah keahlian yang harus dimiliki oleh seorang dokter gigi, pintar megalihkan perhatian. Dengan mengajak pasien bercerita sang pasien akan sedikit melupakan rasa sakit pada giginya. Dia berkali-kali meyakinkan aku bahwa ini tidak akan sakit, tapi tetap saja beberapa kali aku mengaduh kesakitan.
Setelah selesai tahap pembersihan dia mulai menjelaskan secara detail masalah gigiku, bahwa ternyata aku memiliki jumlah gigi yang lebih sedikit dari jumlah yang seharusnya dimiliki manusia dewasa. Aku hanya memiliki 29 gigi dari 32 gigi yang seharusnya aku punya. Bagian mana yang kurang? Ternyata aku hanya memiliki 4 geraham bawah (molar) dari yang seharusnya 6, 3 untuk geraham bawah kanan dan 3 geraham bawah sebelah kiri, sedangkan aku hanya memiliki masing masing 2 untuk geraham kanan dan kiri. Geraham ketigaku tidak bisa tumbuh karena tidak cukup space untuk tumbuh, dia ada tapi tidak bisa bertumbuh.
Lalu, apa yang harus dilakukan dengan gigiku sekarang? Dia menjelaskan langkah pertama yang dia lakukan pada gigiku adalah menghilangkan rasa sakitnya dengan mematikan sarafnya. Upaya mematikan syaraf ini adalah langkah awal untuk mengobati gigiku. Agar gigi tidak lagi ngilu, sarafnya harus dimatikan. Tidaklah sulit untuk melakukan itu, dia menaruh semacam kapas yang dibubuhi beberapa cairan dan memasukkan kedalam lubang gigiku.
Awalnya sungguh sangat sakit. Dia bilang ini hanya awal nanti akan lebih sakit lagi. Dia memberiku resep obat penghilang rasa sakit itu. Obat itu harus segera diminum karena tudak lama lagi cairan pembunuh saraf yang dalam kapas itu mulai bereaksi dan rasanya akan sangat sakit dan ngilu. Dia juga menyuruhku kembali ke klinik besok malam untuk memeriksa saraf dan membuka kapas yang menutupi lubang gigiku.
Sepulang dari klinik aku segera menuju apotek. Celakanya lalu lintas cukup ramai, aku terjebak beberapa menit di lampu merah, belum sampai ke apotek, obat itu bereaksi dengan cepat, gigiku sakit tak karuan, tak bisa menahan sakit hingga mengeluarkan air mata. Sesampainya di apotek, segera aku menunjukkan resep dokter pada pelayan apotek, melihat wajahku yang miris menahan sakit, dia segera memberikan obat itu dan menyarankan untuk segera meminumnya.
Celaka masih berlanjut, aku bermasalah dengan minum obat, aku tidak bisa meminum obat tanpa “makanan pengiring”. Aku masih pontang panting kesakitan memegangi pipiku yang rasanya mau meledak, teman yang mengantarkan aku ikutan panik, tanpa pikir panjang dia mengambil minuman dari lemari pendingin di ruang tunggu apotek dan menyuruhku minum. Aih sungguh sakit bukan kepalang, perpaduan air dingin dengan obat pemati syaraf sungguh dahsyat, mukaku pucat seketika tak kuat menahan sakit aku nyaris pingsan.
Temanku segera membawaku pulang, memberiku segelas air hangat dan sepotong roti agar aku bisa meminum obat itu segera. Beberapa menit kemudian perlahan aku sudah bisa bernafas lega, tidak lagi memegangi pipi dan bisa kembali tersenyum manis seperti semula. Obat ini benar-benar ces pleng, meskipun ada sedikit rasa mengganjal dalam mulutku, sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. :)
Minggu, 09 Oktober 2011
Hair Treatment

Akhir-akhir ini aku mengalami depresi, susah tidur dan sembelit. Mungkin ini karena banyak hal yang harus diselesaikan dalam waktu dekat tapi otakku tidak berfungsi seperti biasanya. Entah kuman apa yang bersarang di dalamnya, otakku jadi lemot pentium satu.
Karena depresi ini sangat mengganggu, maka aku putuskan untuk segera melakukan sesuatu. Merefresh otakku, menyegarkan kembali pikiranku dan melakukan sedikit relaksasi. Kesalon adalah salah satunya, salon adalah tempat rekreasi wanita masa kini. Aku putuskan untuk melakukan hair teatment, membabat habis rambutku, semodel dengan milik Emma Watson beberapa waktu lalu, meski temanku bilang aku jadi lebih mirip Lee Min Ho dalam serial City Hunter,
Aku termasuk perempuan yang suka bereksperimen dengan gaya rambut, terutama potongan rambut pendek, hampir semua model rambut pendek pernah kucoba, mulai dari rambut bob nungging ala Rihana hingga cepak ala Agnes Monica. Ini adalah salah satu keuntungan perempuan berjilbab, orang tidak akan tahu sekacau apa rambutku, tetap terlihat cantik, hehe.... Pernah beberapa kali mencoba mewarnai rambut tapi tak berhasil karena warna asli rambut hitamku terlalu kuat hingga bleaching beberapa kalipun tetap akan menghitam.
Setelah berhasil menghabisi rambut dan melakukan hair teatment, kepalaku jadi terasa enteng. Meski tak terlalu berpengaruh banyak terhadap kinerja otakku, penampilan yang lebih fresh akan membawa efek positif dan membuat lebih bersemangat.
Jika anda mengalami depresi atau stress cobalah datang kesalon melakukan hair treatment dengan merubah gaya rambut, creambath atau hairspa, mungkin ini akan membantu anda merasa segar kembali. Salon adalah tempat rekreasi wanita masa kini. Have a beatiful day....
Selasa, 04 Oktober 2011
I Dare My Self!

Ada yang pernah bilang padaku bahwa hidup ini terlalu menarik untuk dilewatkan dengan melakukan satu hal saja. Banyak hal dalam hidup yang bisa dilakukan bahkan dalam satu waktu sekaligus.
Aku tidak akan bererita tentang apa yang aku lakukan saat ini, karena memikirkannya saja membuat kepalaku pusing dan susah tidur. Jika ditanya mengapa aku mau melakukannya, jawabannya simple I Just wanna dare my self, tidak lebih. Tujuannya hanya untuk melihat sampai sejauh mana aku mamu menaklukkan segala ketidakmungkinan. (titik)
Mari kita memulai dari hal yang tidak mungkin, begitulah kata J Derrida.
Otakku mungkin sudah lelah berpikir, meski hasrat dan segala keinginan tak surut sedikitpun.
Keberanian, ya, hanya itu yang aku butuhkan, tidak lebih!
Keraguan dan ketidakpercayaan adalah musuh terbesar, enyahlah jauh-jauh!
Kesulitan adalah teman baik, mari kita berkawan, jangan membunuhku!
Keluh kesah itu hal biasa, raga yang ringkih tak bisa selamanya berlari, butuh teras untuk sejenak beristirahat, butuh pohon untuk berteduh bahkan need a shoulder to cry on.
Sekali lagi, ini hanya masalah keberanian, bukan tentang waktu, Dia telah memberikan waktu, entah sempit atau longgar itu hanya masalah durasi.
I dare my self, karena dengan beginilah aku menjalani hidup.
Semoga Tuhan selalu melindungiku.
Rabu, 21 September 2011
Jet Lag
Bagi anda yang merasa galau karena hubungan jarak jauh, should sing this song, Jet Lag by Simple Plan Feat Natasha Bedingfield:
What time is it where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin’ lonely livin’ upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
What time is it where you are?
Five more days and I'll be home
I keep your picture in my car
I hate the thought of you alone
I've been keepin' busy all the time
Just to try to keep you off my mind
Tryin' to figure out the time zones makin’ me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Is so jet lagged
I miss you so bad [x5]
I wanna share your horizon
I miss you so bad
And see the same sunrising
I miss you so bad
Turn the hour hand back to when you were holding me.
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss when you say good morning
But it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Is so jetlagged
Is so jetlagged
What time is it where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin’ lonely livin’ upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
What time is it where you are?
Five more days and I'll be home
I keep your picture in my car
I hate the thought of you alone
I've been keepin' busy all the time
Just to try to keep you off my mind
Tryin' to figure out the time zones makin’ me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Is so jet lagged
I miss you so bad [x5]
I wanna share your horizon
I miss you so bad
And see the same sunrising
I miss you so bad
Turn the hour hand back to when you were holding me.
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss when you say good morning
But it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Is so jetlagged
Is so jetlagged
Minggu, 11 September 2011
hai September....
awal bulan yang Fitri, diikuti dengan setumpuk agenda "unjung-unjung". banyak undangan pernikahan di bulan ini, banyak kelahiran dan juga banyak berita duka. ini juga awal semester baru, awal menjalankan tugas baru, tanggung jawab baru. rasanya seperti awal tahun, padahal ini sudah menjelang akhir tahun.
Selamat menjalani bulan September, bersemangatlah.... :)
Selamat menjalani bulan September, bersemangatlah.... :)
Langganan:
Postingan (Atom)