Ospek akronim dari orientasi pendidikan. Dikampus saya ospek dikenal dengan istilah PK2 MABA –saya kurang tau juga apa artinya, tapi tujuannya kurang lebih untuk mengenalkan kepada mahasiswa baru tentang apa yang namanya kampus dan isinya. Semacam welcome ceremony bagi mahasiswa baru. Tahun ini kampusku menerima kurang lebih 14.000 maba, angka ini naik sekitar 25% dari tahun sebelumnya. sebuah angka yang fantastis menurut saya mengingat daya tampung dan mahalnya biaya pendidikan disana.
Ini ketiga kalinya saya mengikuti ospek dengan posisi yang berbeda, pertama tentu saja sebagai mahasiswa baru peserta ospek, kedua sebagai panitia ospek dari mahasiswa, dan ketiga sebagai dosen penyelenggara ospek, dosen baru lebih tepatnya.
Perubahan posisi dalam kegiatan ospek juga berpengaruh pada cara pandang saya terhadap ospek, saat menjadi Maba pada tahun 2003, tak ada apapun yang dipikirkan kecuali mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias meski terkadang kesal karena harus begadang mengerjakan tugas yang konyol dari kakak senior.
Tahun 2004-2005 saya menjadi panitia ospek dari mahasiswa. Cara pandangpun berubah, saya menempatkan diri sebagai senior, tidak lagi menjadi ‘obyek’. Pada fase ini, pola pendekatan yang digunakan adalah senioritas, pola hubungan yang dibangun adalah senior-junior, kakak-adik. Pola hubungan seperti inilah yang sering menimbulkan arogansi dikalangan kakak paitia ospek –sebagai senior- yang tidak mau disalahkan, anti protes dan cenderung mengintimadasi. Saya pikir tak ada yang salah dengan itu, selama nilai yang ingin dibangun adalah cinta almamater dan penguatan karakter. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan norma hukum dan etika yang ada.
Dalam pada itu, sebenarnya ada pertarungan nilai disana, ada muatan nilai-niai yang ingin disampaikan senior. Menanamkan jiwa pemberontak, jiwa berani untuk melawan, jiwa ketidaksukaan terhadap kekerasan, sehingga jika pada saat pelaksanaan ospek ada maba yang berani menantang senior, justru senior senang karena provokasinya berhasil dan doktrinasi itu berjalan.
Tahun ini, saya menjadi bagian dari penyelenggara kegiatan ospek, dosen panitia/pengawas ospek tepatnya. Sangat berbeda dengan sebelumnya, pada fase ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akademis birokratif. Pembelajaran dan pengenalan birokrasi. Karena dosen merupakan bagian dari birokrasi kampus maka ospek –bagi dosen- adalah masa pengenalan kampus ‘birokratistik’ dan seluk beluk dunia akademis. Kurang lebih berisi tentang motifasi maba untuk semangat berkuliah, menjadi mahasiswa yang baik mengikuti seluruh kegiatan perkuliahan, tidak membuat masalah, dan lulus tepat waktu dengan nilai bagus.
Secara keseluruhan ospek khususnya difakultas saya -hukum - sangat jauh berbeda dengan ospek jaman saya dulu. Sudah tak ada lagi suara pentungan yang menggelegar di sepanjang tangga, lorong dan ruang kelas, tak ada bentakan atau teriakan di depan kuping, tak ada kata “kamu mau mati ya?” dari kakak senior jika melakukan kesalahan. Karena memang cara-cara seperti itu sudah tidak relevan untuk digunakan dan tidak bermartabat. Semua berjalan soft dan berorientasi pendidikan an-sich.
Adakah yang salah dengan itu? Saya rasa juga tidak, karena tujuan utama mahasiswa adalah belajar dan berkarya. Tetapi terasa ada yang kurang bagi saya, mahasiswa saat ini tidak diperkenalkan dan ditanamkan jiwa “ke-maha-siswaan”, jiwa yang tidak anti sosial, jiwa yang penuh mimpi indah akan perubahan, jiwa yang kritis, dinamis dan humanis. Kali ini rasanya ospek terlalu manis, terlalu banyak gula akademis yang disuguhkan. Kurang garam. Tak diceritakan bagaimana susahnya menentukan pilihan selama kuliah atau serunya menjadi mahasiswa dengan semangat idealisme yang menggebu-gebu.
Ospek selalu menyimpan cerita, setiap generasi menyimpan ceritanya sendiri, mugkin bagi sebagian mahasiswa baru ospek hanya hal biasa saja, rutinitas pra kuliah yang harus dilalui, tak berkesan. Tapi mungkin bagi sebagian mahasiswa lainnya ospek adalah pintu, menuju ruang baru yang penuh dengan warna. Pintu yang akan merubah hidupnya selama 4 tahun kedepan atau bahkan sepanjang karirnya.
Selamat datang mahasiswa baru FH 2011.
Fiat Justicia Ruat Coelum (sekalipun langit runtuh hukum harus ditegakkan)
Minggu, 21 Agustus 2011
Puasa bersama Nenek
Ini pertama kalinya aku menjalankan ibadah puasa di tanah leluhurku, meski dulu aku pernah menghabiskan masa SMP disana tapi saat bulan puasa aku memilih mudik ke rumah ibu di Jember. Cuaca di madura memang tidak terlalu bersahabat saat bulan puasa, panas, tapi pengalaman pertama ini sangat penyenangkan.
Saat bulan Ramadhan, rumah kami menjadi pusat kegiatan anak-anak. Orang Madura dikenal sangat religius, saat bulan ramadhan sekolah madrasah (SD) libur, anak-anak banyak menghabiskan waktu di masjid atau mushalla, karena rumah nenek berselebahan dengan masjid terbesar di kampung dan dirumah nenek juga terdapat mushalla khusus putri jadilah rumah kami sangat ramai saat bulan puasa.
Kegiatan mengaji dimulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 15.00 sore, waktu lima jam itu terasa sebentar karena mereka tidak hanya mengaji, mereka juga bisa bermain dan nonton tv.
Anak-anak yang mengaji di rumah nenek sebagian besar berasal dari keluarga pra-sejahtera, dan tidak punya televisi, ada juga yang sudah yatim piatu atau ditinggal orang tuanya menjadi TKW/I di luar negeri. Kadang mereka tak mau pulang hingga menjelang maghrib, kami sering menyiapkan makanan ekstra buat mereka.
Bagaimana denganku? apa yang aku lakukan? Tak banyak yang aku lakukan disana, seperti biasanya aku menjadi baby sitter, menemani sepupuku yang paling bungsu bermain, mengajarinya berjalan dan menjaganya dari hal-hal yang membahayakan, sementara ayahnya mengajar mengaji anak-anak dan ibunya memasak. Sesekali aku juga ikut bermain bersama anak-anak, atau membantu nenek dan tante menyiapkan hidangan buka puasa dan tadarrus.
Menyenangkan sekali melihat anak-anak semangat mengaji, serasa seperti dalam lagu “Suasana di Kota Santri” ;)
Suasana di kota santri
Asik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji.
Mungkin yang agak menyebalkan adalah peringatan Imsaknya yang –keterlaluan- dini, mulai pukul 12.00. menurut takmir masjidnya, ini dilakukan untuk membangunkan orang agar mau shalat malam dan memasak untuk makan sahur.
Diantara semua alarm alam pembangun sahur seperti ayam jago, jangkrik, kodok, tokek dan kawan-kawan, yang paling menggelegar dan berhasil membuatku langsung terperanjat bangun adalah suara sapi tetangga sebelah yang suaranya seperti paduan suara sedang konser dengan sound 5000 mega volt, maooooooooo....., keras banget. Aku sempat pengen mengabadikan suara sapi-sapi itu sebagai ring tone di hapeq, tapi aku urungkan karena sapinya ternyata sangat galak.
Puasa bersama nenek, kakek, dan keluarga disana, mungkin akan menjadi agenda tahunanku. Untuk saat ini aku masih belum berbuat banyak untuk anak-anak itu, tunggulah tahun depan, aku akan datang lagi...
Saat bulan Ramadhan, rumah kami menjadi pusat kegiatan anak-anak. Orang Madura dikenal sangat religius, saat bulan ramadhan sekolah madrasah (SD) libur, anak-anak banyak menghabiskan waktu di masjid atau mushalla, karena rumah nenek berselebahan dengan masjid terbesar di kampung dan dirumah nenek juga terdapat mushalla khusus putri jadilah rumah kami sangat ramai saat bulan puasa.
Kegiatan mengaji dimulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 15.00 sore, waktu lima jam itu terasa sebentar karena mereka tidak hanya mengaji, mereka juga bisa bermain dan nonton tv.
Anak-anak yang mengaji di rumah nenek sebagian besar berasal dari keluarga pra-sejahtera, dan tidak punya televisi, ada juga yang sudah yatim piatu atau ditinggal orang tuanya menjadi TKW/I di luar negeri. Kadang mereka tak mau pulang hingga menjelang maghrib, kami sering menyiapkan makanan ekstra buat mereka.
Bagaimana denganku? apa yang aku lakukan? Tak banyak yang aku lakukan disana, seperti biasanya aku menjadi baby sitter, menemani sepupuku yang paling bungsu bermain, mengajarinya berjalan dan menjaganya dari hal-hal yang membahayakan, sementara ayahnya mengajar mengaji anak-anak dan ibunya memasak. Sesekali aku juga ikut bermain bersama anak-anak, atau membantu nenek dan tante menyiapkan hidangan buka puasa dan tadarrus.
Menyenangkan sekali melihat anak-anak semangat mengaji, serasa seperti dalam lagu “Suasana di Kota Santri” ;)
Suasana di kota santri
Asik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji.
Mungkin yang agak menyebalkan adalah peringatan Imsaknya yang –keterlaluan- dini, mulai pukul 12.00. menurut takmir masjidnya, ini dilakukan untuk membangunkan orang agar mau shalat malam dan memasak untuk makan sahur.
Diantara semua alarm alam pembangun sahur seperti ayam jago, jangkrik, kodok, tokek dan kawan-kawan, yang paling menggelegar dan berhasil membuatku langsung terperanjat bangun adalah suara sapi tetangga sebelah yang suaranya seperti paduan suara sedang konser dengan sound 5000 mega volt, maooooooooo....., keras banget. Aku sempat pengen mengabadikan suara sapi-sapi itu sebagai ring tone di hapeq, tapi aku urungkan karena sapinya ternyata sangat galak.
Puasa bersama nenek, kakek, dan keluarga disana, mungkin akan menjadi agenda tahunanku. Untuk saat ini aku masih belum berbuat banyak untuk anak-anak itu, tunggulah tahun depan, aku akan datang lagi...
Selasa, 02 Agustus 2011
Al-i'tiraf (sebuah Pengakuan)

Ilaahi lastu lilfirdausi ahla
walaa aqwaa 'alannaaril jahimi
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fa innaka ghoofiruddzambil 'adziimi
Dzunuubi mitslu a'daadir rimaali
fahablii taubatan yaa dzaljalaali
wa'umrii naaqishun fiikulliyaumi
wa dzambii zaa-idum kaifahtimali
Ilaahi 'abdukal 'aashi ataaka
muqirron biddzunuubi waqod da'aaka
fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
wa in tadrud faman narjuu siwaaka
(Abu Nawas)
Wahai Tuhanku... tidak layak aku masuk ke dalam sorga-Mu
tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka kami mohon taubat dan mohon ampun atas dosaku
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa....
Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai,
maka anegerahilah hamba taubat, wahai Yang Memiliki Keagungan
Dan umur hamba berkurang setiap hari,
sementara dosa-dosa hamba selalu bertambah, apalah dayaku
wahai Tuhanku... hamba-Mu penuh maksyiat,
datang kepada-Mu bersimpuh memohon ampunan,
Jika Engkau ampuni memang Engkau adalah Pemilik Ampunan,
Tetapi jika Engkau tolak maka kepada siapa lagi aku berharap?
Selasa, 26 Juli 2011
Bosan dengan Berita
Sangat menarik menyaksikan program JLC TV one tadi malam (26/7/2011) yang mengangkat tema “salahkah media dengan pemberitaan Nazarudin?” keluarga Nazaruddin menyayangkan pemberitaan media yang terlalu berlebihan dan dianggap tidak obyektif, Komisi Penyiaran Indonesia mengingatkan media untuk lebih berhati-hati dalam mencari sumber informasi dan memberitakannya kepada masyarakat, sedangkan media sendiri dituntut untuk memberikan informasi seluar-luasnya bagi masyarakat. Terlepas dari itu semua, jika boleh jujur saya mulai jenuh dengan pemberitaan media seputar kasus Nazarudin, bagaimana tidak? Jika setiap hari media massa –khususnya televisi- terus mengekspose kasus Nazarudin yang semakin mbulet.
Sebagaimana ditulis John B. Thompson dalam Kritik Ideologi (2006:295), saat ini kita hidup ditengah masyarakat dimana penyebaran bentuk-bentuk simbol –informasi dan nilai- dengan menggunakan media elektronik telah menjadi suatu yang lazim, dan dalam hal tertentu menjadi model transmisi budaya. Kebudayaan modern pada tingkat yang lebih tinggi adalah sebuah kebudayaan yang dimediasi secara elektronik dan model-model transmini secara oral dan tulisan hanya sekedar pelengkap yang dalam berbagai sisi digantikan oleh model transmisi yang didasarkan pada media elektronik.
Setiap keberadaan media televisi memunculkan sebuah kategori atau beberapa kategori tindakan dengan tujuan dapat ditelivisikan, artinya dianggap layak ditayangkan atau ditransmisikan melalui siaran televisi. Sayangnya saat ini batasan nilai kelayakan, pantas atau tidak pantas untuk disiarkan telah memudar, tuntutan media untuk selalu menghadirkan berita secara cepat seringkali melampaui nilai akurasi dan etika yang ada. Yang menjadi prioritas adalah bagaimana menghadirkan informasi ter-update- pada pemirsanya.
Berpedoman pada suatu konsep sederhana dalam dunia jurnalistik bahwa penyampaian atas suatu informasi haruslah didasarkan pada sumber terpercaya dan cover both side artinya pers/media harus menyajikan informasi dari berbagai perspektif dan sumber terpercaya. Tapi barangkali untuk saat ini media harus melakukan cover all side karena menyangkut kepentingan banyak orang. Lalu sempatkan media melakukan cover all side jika waktu yang disediakan hanya sepersekian detik? Bagaimana cara media melakukan klarifikasi informasi jika informasi dapat berubah setiap detiknya?
Dalam dunia jurnalistik dikenal adagium bad news is gud news, kasus-kasus miring cenderung lebih banyak menyita perhatian publik, dengan kata lain memberitakan keburukan lebih menguntungkan bagi media. Mungkin karena alasan inilah keluarga Nazarudin menganggap media tidak obyektif dan lebih banyak mengungkap keburukan seseorang saja dan mengarah pada caracter assanination.
Menurut saya, media juga tidak sepenuhnya salah atas pemberitaan Nazarudin karena masyarakat berhak atas akses Informasi seluas-luasnya. Namun demikian alasan kebebasan pers tidaklah harus menafikan unsur kebenaran dan etika dalam penyampaian informasi. Jika hal ini tidak diperhatikan dalam titik tertentu akan terjadi pesimisme massal dalam masyarakat karena setiap harinya disuguhi dengan berita tidak menyenangkan tentang kondisi negara yang semakin hari semakin memprihatinkan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika mental pesimisme terus muncul, yang akan terjadi adalah the abstance of goverment karena nilai legitimasi rendah, masyarakat tidak beraturan, tidak ada optimisme, persatuan buyar, mudah diprovikasi, menjadi bodoh dan kacau.
Mungkin masyarakat membutuhkan media alternatif yang dapat memberikan sedikit pencerahan dan semangat. Dalam hal ini saya sependapat dengan Deni Indrayana dalam ceramahnya di kampus beberapa waktu lalu, beritakanlah apa adanya sampaikan kalau memang itu buruk tapi jangan lupa untuk selalu menyampaikan berita baik. Bad news is bad news good news is good news.
Tidak dapat disangkal media massa merupakan alat propaganda sosial yang paling efektif. Meluasnya akses masyarakat terhadap media serta didukung dengan teknologi informasi yang semakin aksesable menjadikan transformasi nilai maupun ideologi akan semakin mudah. Jika Rosco Pound menyebutkan fungsi hukum as a tool of social engineering maka media yang tepat untuk menggiring opini yang berujung pada perubahan perilaku adalah televisi.
Terlepas dari kepentingan politik dibalik pemberitaan Nazarudin, masyarakat yang cerdas informasi akan lebih selektif dalam menyaring arus nilai yang ditrasnformasikan media massa dan tidak mudah menerima sebuah kebenaran yang relatif. Karena semua memang tidak bebas nilai, maka pintar-pintarlah menentukan sudut pandang.
Sebagaimana ditulis John B. Thompson dalam Kritik Ideologi (2006:295), saat ini kita hidup ditengah masyarakat dimana penyebaran bentuk-bentuk simbol –informasi dan nilai- dengan menggunakan media elektronik telah menjadi suatu yang lazim, dan dalam hal tertentu menjadi model transmisi budaya. Kebudayaan modern pada tingkat yang lebih tinggi adalah sebuah kebudayaan yang dimediasi secara elektronik dan model-model transmini secara oral dan tulisan hanya sekedar pelengkap yang dalam berbagai sisi digantikan oleh model transmisi yang didasarkan pada media elektronik.
Setiap keberadaan media televisi memunculkan sebuah kategori atau beberapa kategori tindakan dengan tujuan dapat ditelivisikan, artinya dianggap layak ditayangkan atau ditransmisikan melalui siaran televisi. Sayangnya saat ini batasan nilai kelayakan, pantas atau tidak pantas untuk disiarkan telah memudar, tuntutan media untuk selalu menghadirkan berita secara cepat seringkali melampaui nilai akurasi dan etika yang ada. Yang menjadi prioritas adalah bagaimana menghadirkan informasi ter-update- pada pemirsanya.
Berpedoman pada suatu konsep sederhana dalam dunia jurnalistik bahwa penyampaian atas suatu informasi haruslah didasarkan pada sumber terpercaya dan cover both side artinya pers/media harus menyajikan informasi dari berbagai perspektif dan sumber terpercaya. Tapi barangkali untuk saat ini media harus melakukan cover all side karena menyangkut kepentingan banyak orang. Lalu sempatkan media melakukan cover all side jika waktu yang disediakan hanya sepersekian detik? Bagaimana cara media melakukan klarifikasi informasi jika informasi dapat berubah setiap detiknya?
Dalam dunia jurnalistik dikenal adagium bad news is gud news, kasus-kasus miring cenderung lebih banyak menyita perhatian publik, dengan kata lain memberitakan keburukan lebih menguntungkan bagi media. Mungkin karena alasan inilah keluarga Nazarudin menganggap media tidak obyektif dan lebih banyak mengungkap keburukan seseorang saja dan mengarah pada caracter assanination.
Menurut saya, media juga tidak sepenuhnya salah atas pemberitaan Nazarudin karena masyarakat berhak atas akses Informasi seluas-luasnya. Namun demikian alasan kebebasan pers tidaklah harus menafikan unsur kebenaran dan etika dalam penyampaian informasi. Jika hal ini tidak diperhatikan dalam titik tertentu akan terjadi pesimisme massal dalam masyarakat karena setiap harinya disuguhi dengan berita tidak menyenangkan tentang kondisi negara yang semakin hari semakin memprihatinkan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika mental pesimisme terus muncul, yang akan terjadi adalah the abstance of goverment karena nilai legitimasi rendah, masyarakat tidak beraturan, tidak ada optimisme, persatuan buyar, mudah diprovikasi, menjadi bodoh dan kacau.
Mungkin masyarakat membutuhkan media alternatif yang dapat memberikan sedikit pencerahan dan semangat. Dalam hal ini saya sependapat dengan Deni Indrayana dalam ceramahnya di kampus beberapa waktu lalu, beritakanlah apa adanya sampaikan kalau memang itu buruk tapi jangan lupa untuk selalu menyampaikan berita baik. Bad news is bad news good news is good news.
Tidak dapat disangkal media massa merupakan alat propaganda sosial yang paling efektif. Meluasnya akses masyarakat terhadap media serta didukung dengan teknologi informasi yang semakin aksesable menjadikan transformasi nilai maupun ideologi akan semakin mudah. Jika Rosco Pound menyebutkan fungsi hukum as a tool of social engineering maka media yang tepat untuk menggiring opini yang berujung pada perubahan perilaku adalah televisi.
Terlepas dari kepentingan politik dibalik pemberitaan Nazarudin, masyarakat yang cerdas informasi akan lebih selektif dalam menyaring arus nilai yang ditrasnformasikan media massa dan tidak mudah menerima sebuah kebenaran yang relatif. Karena semua memang tidak bebas nilai, maka pintar-pintarlah menentukan sudut pandang.
Bollymania

Lucu sekali rasanya mendapati diri saya menyanyi lagu India. Akhir-akhir ini saya kembali bersosialisasi dengan bollywood, ini semua gara-gara housmate baru di tempat kos yang bollymania abiz. Dia seperti kamus bollywood berjalan, tanyakan apa saja tentang film atau lagu india padanya, dia akan bercerita lengkap dengan lagunya. Dia tidak pernah melewatkan film India setiap selasa dan rabu di MNC TV meski dia sudah hafal jalan ceritanya. Jika sabtu dan minggu jam 11 sampai jam 2 siang dia akan setia mendengarkan lagu-lagu India di radio Tidar Sakti dan me-request lagu kesukaannya. Melihatnya, mengingatkan saya pada teman semasa SMA yang juga penggila bollywood.
Harus saya akui Briptu Norman dengan video lipsingnya sangat berperan dalam menghidupkan kembali dunia bollywood di Indonesia yang sempat tenggelam. Film film India sempat merajai hiburan Indonesia pada tahun 1990-an, dan puncaknya setelah adanya Film Kuch-Kuch Ho Ta Hai pada sekitar tahun 1995 yang diikuti juga dengan menjamurnya rental film. Namun sejak sekitar tahun 2002 minat masyarakat terhadap film india mulai menurun dan beralih pada film-film atau drama asia.
Sejak fenomena Briptu Norman film-film India mulai duputar lagi di televisi. Meski film-film yang ditayangkan bukan film baru dan hanya mengulang-ulang dari film-film jadul yang pernah booming, setidaknya bisa sedikit mengobati kerinduan atas sosok “Rahul”
Film India selalu memunculkan tradisi lewat nyanyian dan tariannya. Nyanyian dan tarian adalah faktor terpenting dari film India, karena dari sinilah sebenarnya emosi cerita diinterpretasikan. Ketegangan akan digambarkan dengan halilintar, angin kencang dan diikuti oleh hujan deras, jika sedang jatuh cinta sepasang kekasih akan menyanyi dihamparan kebun bunga yang luas sambil kejar-kejaran dan bersembunyi di balik pepohonan atau berlari-lari kecil di pinggir pantai yang eksotis. Unsur air, angin, dan bunga tidak pernah lepas dari adegan-adegan di film India. Karena itulah film India terkenal lebay, mendeskripsikan sesuatu adegan yang dramatis dan syair lagu yang hiperbolis. Seperti lirik lagu ini:
Tu hai meri hai barkart
Tu hai meri ibadat
Aur kuch na janu
Pas it na hai janu
Tujh mein rab dikhta hai ya ra mein kya karu
Sajhde sarjukhta hai ya ra mein kya karu
(Rab Ne Bana di Jodi)
terjemahan bebasnya kurang lebih seperti ini:
kamu adalah anugerah, kamu adalah ibadah, aku tidak tahu yang lain lagi, kecuali aku melihat Tuhan dalam dirimu, aku tidak tahu harus bagaimana aku hanya bisa berlutut dihadapanmu...
Hal yang tidak saya suka dari film India adalah tidak jujur, meskipun selalu menampilkan tradisi tapi pengambilan gambar dilakukan diluar India seperti London, New Zeeland, Amerika dan tempat-tempat yang memiliki pemandangan alam yang indah, mungkin ini dapat dimaklumi mengingat India adalah Negara padat penduduk yang penataan kotanya kurang bagus.
Namun demikian, ada beberapa Film ini yang layak mendapatkan penghargaan dan wajib ditonton: Three Idiots, Slamdog Milionaire dan My Name Is Khan. Tiga film ini sangat inspiratif. Diantara semua aktor india yang ganteng-ganteng, saya mengagumi Syakh Rukh Khan karena meski sudah berumur dia tetap sexy dan kharismatik.
Ah sudahlah biarlah mereka bilang saya ini lebay karena menyukai film India, hidup ini terlalu singkat jika dilewatkan dengan hanya menyukai satu hal saja, sesekali menyukai hal yang aneh akan terasa menyenangkan. Hm hm... I love Bollywood ^^
Old Notes
Pagi tadi saya kehilangan kotak penyimpan CD, ada beberapa data yang belum saya salin ke notbook. Akhirnya saya terpaksa harus membongkar barang-barang di brankas yang sudah tidak dipakai dengan harapan menemukan kotak penyimpan CD atau kepingan CD yang masih kosong. Sayangnya setelah lelah mencari, bukan tempat CD yang saya temukan, malah setumpukan kertas loasleaf kecil warna-warni. Barang lawas emang selalu menarik perhatian.
Kembali saya menata satu-persatu kertas yang sudah tak beraturan itu. Isinya sangat menarik, testimonial dari teman-teman dekat tentang kepribadian saya. Testimoni mereka beragam, lucu-lucu, ada yang menilai saya pribadi yang menyenangkan, energik dan ceria, ada juga yang menulis bahwa saya ini cerewet dan menyebalkan, ada juga memberikan ilustrasi gambar lucu bahkan menuliskan sebuah lagu khusus untuk saya.
Membacanya kembali , membuat saya merefleksi siapa diri saya dan bagaimana saya dulu, who i was? Kadang dalam proses kontemplasi atau refresh diri sendiri, butuh pandangan orang lain tentang diri kita agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Setiap perjalan waktu terjadi perubahan-perubahan pasti akan membawa perubahan tehadap seseorang. Entah itu besar atau kecil. Akhirnyapun saya menyadari bahwa banyak yang telah berubah dari diri saya, tapi yang amat saya sayangkan, hal-hal positif yang dulu saya pegang teguh, saat ini mulai sedikit banyak terkikis oleh sifat pragmatisme dan pesimisme yang berlebihan.
Mungkin dengan membaca catatan-catatan dimasa lalu, kita bisa bercermin kembali, mempertahankan dan mengembangkan energy positive, berlahan merubah kelemahan jadi kekuatan. Tak mesti harus ada orang lain mengingatkan, asal bisa mengalarm diri sendiri, perubahan ke arah yang baik itu pasti.
Belajar mengenal diri sendiri, menemukan kelemahan dan kekuatan, mencoba membangunnya kembali.
Kembali saya menata satu-persatu kertas yang sudah tak beraturan itu. Isinya sangat menarik, testimonial dari teman-teman dekat tentang kepribadian saya. Testimoni mereka beragam, lucu-lucu, ada yang menilai saya pribadi yang menyenangkan, energik dan ceria, ada juga yang menulis bahwa saya ini cerewet dan menyebalkan, ada juga memberikan ilustrasi gambar lucu bahkan menuliskan sebuah lagu khusus untuk saya.
Membacanya kembali , membuat saya merefleksi siapa diri saya dan bagaimana saya dulu, who i was? Kadang dalam proses kontemplasi atau refresh diri sendiri, butuh pandangan orang lain tentang diri kita agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Setiap perjalan waktu terjadi perubahan-perubahan pasti akan membawa perubahan tehadap seseorang. Entah itu besar atau kecil. Akhirnyapun saya menyadari bahwa banyak yang telah berubah dari diri saya, tapi yang amat saya sayangkan, hal-hal positif yang dulu saya pegang teguh, saat ini mulai sedikit banyak terkikis oleh sifat pragmatisme dan pesimisme yang berlebihan.
Mungkin dengan membaca catatan-catatan dimasa lalu, kita bisa bercermin kembali, mempertahankan dan mengembangkan energy positive, berlahan merubah kelemahan jadi kekuatan. Tak mesti harus ada orang lain mengingatkan, asal bisa mengalarm diri sendiri, perubahan ke arah yang baik itu pasti.
Belajar mengenal diri sendiri, menemukan kelemahan dan kekuatan, mencoba membangunnya kembali.
Selasa, 05 Juli 2011
Jula-Juli, July
Bagi pelajar/mahasiswa Juli adalah bulan liburan, bulan refreshing, bulan jalan-jalan. Setumpuk rencana liburan sudah dipersiapkan. Banyak paket wisata ditawarkan, banyak film baru yang siap tayang dan tentunya gebyar diskon akan digelar di shoping mall-shoping mall.
Tapi sepertinya –lagi-lagi- tak ada libur bulan Juli buatku. Setumpuk sibuk bulan Juni masih akan terus berlanjut di bulan Juli demi menyambut bulan Agustus.
Karena masih tak bisa beranjak lama-lama, menonton film sampai puas akan menjadi liburan alternatif di bulan Juli. Teriring salam dan doa, semoga bisa kembali menikmati film-film hollywood di bioskop.
Selamat Berlibur.
Tapi sepertinya –lagi-lagi- tak ada libur bulan Juli buatku. Setumpuk sibuk bulan Juni masih akan terus berlanjut di bulan Juli demi menyambut bulan Agustus.
Karena masih tak bisa beranjak lama-lama, menonton film sampai puas akan menjadi liburan alternatif di bulan Juli. Teriring salam dan doa, semoga bisa kembali menikmati film-film hollywood di bioskop.
Selamat Berlibur.
Langganan:
Postingan (Atom)