Minggu, 08 Mei 2011

Berputar




Aku benar-benar merasakan putaran bumi
berputar sempurna, tidak cepat maupun lambat.

apa yang terjadi hari ini tak lain adalah pengulangan kejadian dimasa lalu,
dunia ini benar-benar berputar.

saat inipun aku mengalami kejadian yang sama,
seperti bertahun-tahun lalu,
seperti dejavu berulang-ulang
meski dalam situasi yang berbeda, inti tetap sama,
dan aku benar-benar merasakan perputaran bumi...

mungkin suatu hari aku akan mengalami hal yang sama seperti saat ini, dilain waktu dan dilain kesempatan,

yang pasti dunia ini berputar sayang....
dan kita akan bertemu pada titik yang sama.

Minggu, 01 Mei 2011

Amazing Mey

Mei, bulan ke 5, hampir separuh perjalanan di tahun 2011.

Bagiku bulan Mei adalah bulan kejutan. Sepanjang perjalanan hidupku banyak hal spesial terjadi di bulan Mei. Beberapa tanggal aku lingkari untuk menandai hari-hari penting. Noteku slalu penuh di bulan Mei.

Mei adalah bulan perjuangan, harapan dan cinta...

Kali ini entah kejutan apa lagi yg akan Tuhan berikan padaku. Apapun itu, aku telah bersiap untuk segala kemungkinan...

Semoga dibulan Mei semuanya jadi lebih indah...

Sabtu, 30 April 2011

Sepatu


Menurut salah seorang ahli alas kaki terkemuka, sepatu adalah bagian terpenting dari setiap penampilan. Meskipun letaknya diujung paling bawah, sepatu dapat mempengaruhi seluruh penampilan si pemakainya. Sepatu yang bagus dan nyaman akan menambah tingkat kepercayaan diri pemakainya. Teringat kata-kata dalam sebuah serial drama korea, sepatu yang bagus akan membawamu ketempat yang bagus pula. Tak heran jika seseorang mempunyai koleksi sepatu puluhan bahkan ratusan pasang.

Barangkali benar, hubungan wanita dengan alas kaki, adalah salah satu hubungan yang tidak pernah dimengerti oleh laki-laki. Teman saya pernah memarahi pacarnya karena terlalu sering membeli sepatu.

Saya bukan pengoleksi sepatu, karena memang tidak ada budget untuk itu. Saya hanya mempunyai beberapa pasang sepatu dan sandal dan akan membeli sepatu jika sepatu yang saya pakai sudah ‘kadaluarsa’. Sepatu-sepatu saya juga bukan sepatu branded yang mahal, kebanyakan merk-merk pasaran yang dijual di mall-mall umum. Asal modelnya pas di kaki dan nyaman saya siap memakainya.

Meski bertubuh mungil, saya tak suka memakai hak tinggi, karena akan sangat merepotkan. Saat berangkat bekerja saya menggunakan sandal jepit, sepatu hak tinggi akan berada di dalam tas atau dibawah meja kerja, dan baru saya pakai jika menemui klien diluar kantor.

Saya teringat kata seorang teman, penggemar highheels, meski tubuhnya tergolong jangkung. Katanya saat perempuan memakan heels yang tinggi, dia akan merasa feminine dan aura keanggunan akan terpancar saat ia berjalan. Sisi buruknya adalah perempuan akan merasa lemah saat memakai high heels karena tidak leluasa bergerak dan berlari.

Saya pernah punya pengalaman yang kurang menynangkan dengan hak tingi, kaki saya kram karena harus berdiri berjam-jam dan berjalan jauh dengan hak tinggi, kabar baiknya saya belum pernah jatuh didepan umum Karena memakai hak tinggi.

Gambar diatas adalah sepatu favorit saya, super butut. Umurnya baru 2 tahun, tapi karena hampir setiap hari dipakai, bentuknya sudah mulai tak karuan. Meski ada beberapa sepatu yang lain, sepatu ini paling nyaman dipakai, ringan dan tidak melelahkan. Mama saya pernah membuangnya ke tong sampah, katanya sepatu ini sudah tidak layak dipakai, harus dibuang, tapi karena masih sayang, saya memungutnya lagi dari tong sampah dan mencucinya ^,^

Barangkali memang karena sudah benar-benar “kadaluarsa” saya harus mengucapkan selamat tinggal dengan sepatu ini. Setiap alas kaki memiliki cerita. Ceritan tentang sebuah perjalanan, demikian juga dengan sepatu butut ini, sudah banyak tempat yang saya kunjungi bersamanya dan begitu banyak cerita yang saya bagi dengannya. Bagaimanapun, saya harus berterima kasih dengan sepatu ini telah menemaniku lari dari hal terburuk dalam hidupku…….

Aku dan Kartini



Aku mengenal Kartini lewat sebuah gambar yang terpajang di dinding kelas waktu aku masih duduk di bangku Taman kanak-kanak. Dia tidak sendiri, banyak gambar pahlawan-pahlawan lain seperti Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar dan lain-lain. Lagu Ibu Kita Kartini adalah lagu yang sering aku nyanyikan disamping Garuda Pancasila saat diundang menyanyi di RRI.

Waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, di kampungku banyak sekali perlombaan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini, rata-rata bertemakan perempuan, atau hal-hal yang berbau keperempuanan. Seperti lomba memasak, menyulam, menggambar, hingga lomba mirip Ibu kartini. Aku pernah mengikuti lomba-lomba itu tapi tidak dengan lomba bersanggul ala Kartini.

Itulah Ibu Kita Kartini, dia telah menjadi icon fashion segala jaman. Hingga saat inipun baju kebaya dan model sanggulnya menjadi dandanan wajib disetiap acara resmi bahkan dinobatkan sebagai pakaian nasional. Secara pemikiran tidak banyak yang aku ketahui tentangnya kecuali lewat karya Master Peace-nya Habis Gelap Terbitlah Terang.

Barangkali yang membedakan Kartini dengan pahlawan (Perempuan) lain adalah caranya untuk melakukan sebuah perubahan, Dia tidak mengangkat senjata bergelirnya melawan penjajah seperti halnya Cut Nyak Dien, tapi dia mampu mengubah paradigma seluruh Jawa bahkan Nusantara dengan pemikiran dan tulisannya. Dia memilih media tulisan untuk mengungkapkan ide-idenya tentang kehidupan bagi perempuan Jawa dan itu menjadi ladang perjuangannya.

Tidak banyak orang yang memilih tulisan sebagai media juangnya, karena barangkali tidak mudah untuk menjadi penulis yang istiqomah apalagi dapat merubah dunia. Seorang Kartini membuktikan bahwa dalam sebuah ruang yang sempit sekalipun kita bisa melakukan hal yang luar biasa.

Dahulu ada seorang teman yang menyebutku Kartini karena aku memenangkan lomba menulis dalam rangka hari Kartini. Ah, barang kali itu berlebihan, aku tak setangguh kartini, tidak konsisten dan mudah patah arang dalam menulis, mood dan jiwa kemalasan yang sering merajai bahkan saat keinginan menulis itu baru datang. Lebih banyak ide yang aku biarkan menguap sebelum sampai ke layar putih computer. Aku malu pada kartini.

Andai kata Kartini menyaksikan kaumnya saat ini, pasti dia akan sedih melihat generasi kaumnya yang sepertiku, seorang pemalas yang bercita-cita tinggi.

Andai kata aku bisa berkomunikasi dengannya, aku akan bilang padanya, Wahai ibu kita Kartini, maukuah kau menemaniku menulis? Paling tidak ingatkan aku tentang betapa indahnya dunia ini saat kita bisa membaginya lewat tulisan.

Selamat Hari Kartini.

Kotaku




Kota Malang, dibangun pada sekitar abad ke 18 oleh Meneer en Mevrouw dari Belanda. Kota ini memiliki luas kurang lebih 110,06 kilometer persegi. Meski tak terlalu luas, kota ini sangat ramai. Hawanya yang sejuk dan pemandangan yang indah menjadi magnet bagi orang-orang luar kota untuk mengunjungi kota ini, bahkan untuk tinggal. Banyaknya Perguruan Tinggi dan sekolah-sekolah menjadikan kota ini menjadi salah satu ikon kota pendidikan di Jawa Timur. Selain itu, menjamurnya mall dan FO menjadikan Malang sebagai Paris van East Java. Banyaknya tempat-tempat wisata dan situs-situs budaya peninggalan Belanda menjadikan malang semakin ramai saat liburan tiba. (sekedar saran, jika ingin menikmati sensasi kota Malang, lebih baik tidak berkunjung saat musim libur panjang, pasti akan sangat macet)

Dalam kisah petualanganku, Malang adalah kota terlamaku tinggal. Meski aku tak dilahirkan disini Kota ini sudah menjadi kota keduaku. Sejak tahun 2003 sudah banyak kisah yang aku torehkan disini, setiap sudutnya menjadi kenangan bagiku, setiap jalan selalu mengingatkanku akan sebuah romansa yang tak akan pernah bisa kuhapus. Tak pernah terlintas dibenakku untuk benar-benar menjadi penduduk Malang, pindah dari Kota Ibuku, menetap dan beranak pinak disini, karena pasti susah untuk tinggal ditempat yang menyimpan sejuta kenangan yang ingin kau hapus.

Aku ingin pergi ketempat yang jauh, meninggalkan kota ini, dan hanya ingin sesekali singgah untuk berkunjung saja, tidak lebih. Namun beberapa kali usahaku untuk meninggalkan kota ini selalu gagal, rantai itu masih mengikat kuat kakiku, aku tak bisa lari. Mungkin memang harus begini. Hidup harus terus berjalan, aku telah menutup spion agar tak lagi menoleh kebelakang. Dan akhirnya aku memilih untuk tetap bertahan disini, bersahabat dengan kenangan, mengingatnya tanpa harus terluka.

Selamat Ulang Tahun Kota Malang, keinginanku untuk pergi sama besar dengan hasratku untuk tinggal. Semoga kita bisa bersahabat dengan lebih baik…. 

Sabtu, 23 April 2011

Aku Manusia

Setiap jiwa punya dua sisi, yang digariskan untuk selalu oposisibiner.
Keduanya saling berebut menguasai hati...
Mereka selalu bertarung, dalam jiwa atau raga, dalam bawah sadar maupun jaga...
Malam ini entah siapa yang memenangkan pertarungan dan berkuasa,
aku benar-benar merasa menjadi manusa,
kakiku berpijak ketanah,
tidak bersayap melayang-layang layaknya malaikat,
juga tidak bertanduk iblis,
aku hanyalah semata manusia, seutuhnya manusia dalam dua sisi gelap dan terang bersamaan...
Bisa menjadi salah satu atau keduanya...
Itulah aku manusia, Im evil and angel instead..

Dan malam ini aku benar-benar sadar bahwa aku hanyalah manusia...

Minggu, 06 Maret 2011

Tidak Linier

Beberapa waktu yang lalu, di almamater saya dibuka pendaftaran Dosen Tetap Non PNS. Persyaratannya tidak terlalu rumit, berusia serendah-rendahnya 22 tahun dan setinggi-tingginya 32 tahun (untuk strata dua), nilai IPK minimal 3,00, Nilai toefl sekurang-kurangnya 475, dan ijazah yang linier antara S1, S2 dan S3 sesuai dengan kualifikasi yang diminta. Karena rayuan berbagai pihak akhirnya sayapun ikut mendaftar.

Dengan membawa segala berkas yang diperlukan saya mendaftar kebagian pendaftaran di lantai 4 gedung rektorat kampus. Betapa terkejutnya saya ketika ibu pegawai bagian penerimaan pegawai baru tersebut menolak berkas lamaran yang saya ajukan, alasannya karena ijazah yang saya miliki tidak linier antara S1 dengan S2. Dia menganggap bahwa Magister Kenotariatan tidak linier dengan Ilmu hukum, atau dengan kata lain Kenotariatan adalah disiplin ilmu yang berbeda dan bukan merupakan bagian dari Ilmu Hukum, mesikipun sudah tertulis jelas di Ijazah magister saya dikeluarkan oleh Fakultas Hukum. setelah saya menjelaskan dengan panjang lebar tetap saja berkas lamaran saya ditolak dan menyuruh saya meminta rekomendasai dari Pimpinan Fakultas untuk dapat mengikuti proses seleksi.

Barangkali memang ada pihak-pihak yang masih belum familiar dengan istilah Magister Kenotariatan, lain halnya dengan Magister Hukum. Banyak pihak yang masih beranggapan bahwa gelar kelanjutan bagi Sarjana Hukum hanyalah Magister Hukum.

Ilmu hukum merupakan salah satu cabang dari ilmu sosial yang mengkaji tentang pola-pola pengaturan hubungan antar manusia, mulai dari skup yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Salah satu cabang dari ilmu hukum adalah kajian tentang pengaturan antar masing-masing person dalam masyarakat, hal ini disebut dengan istilah hubungan keperdataan/Hukum Privat/Hukum Perdata, dan Kenotraiatan adalah salah satu sisi konkrit dari hukum perdata/privat yaitu mengkaji tentang hubungan manusia dalam sebuah perjanjian/kontrak.

Sejak berlakunya Undang Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN), untuk menjadi seorang Notaris disyaratkan memiliki gelar pendidikan Magister Kenotariatan (Pasal 3 UUJN). Entah bagaimana politik hukum pengaturan UUJN tersebut, yang pasti sejak saat itu seluruh calon Notaris harus mengambil jenjang pendidikan stata dua Magister Kenotaraiatan, tidak cukup hanya mengambil program Spesialis Notaris (CN) seperti sebelum adanya UUJN tersebut. Sama halnya dengan Magister hukum, dalam program Magister Kenotariatan juga diajarkan tentang teori-teori dan asas-asas hukum meski porsinya lebih banyak mengulas tentang praktek hukum Kenotariatan. Mamun secara keilmuwan dan berdasarkan jenjang pendidikan yang diakui, Magister Kenotariatan adalah sejajar dengan Magister Hukum atau Magister yang lain (Strata Dua).

Notaris adalah salah satu profesi dibidang hukum yang merupakan bagian dari disiplin ilmu hukum, dengan demikian pada dasarnya tidak ada alasan yang dapat mementahkan bahwa Magister Kenotariatan adalah linier dan sejalur dengan Ilmu Hukum.

Setelah acara penolakan itu, saya langsung menghubungi Pimpinan Fakultas Hukum yang kebetulan saya kenal baik, beliau langsung memberikan rekomendasi untuk saya, dan saya bisa mengikuti proses seleksi tahap selanjutnya.